oleh

Kemeriahan Warga Arak 21 Gunungan Ketupat di Bukit Sidoguro Rowo Jombor

Klaten, faktapers.id – Puncak grebek Syawalan yang ditandai dengan mengarak 21 Gunungan ketupat di Bukit Sidoguro Rowo Jombor berlangsung meriah, puluhan Gunungan Ketupat diperebutkan pengunjung hanya dalam 10 menit saja.

Tradisi tahunan ini disebut grebeg Syawal atau Lebaran Ketupat yang digelar oleh masyarakat Klaten sepekan setelah Hari Raya Idul fitri.

Setelah diarak sampai dibukit Sidoguro Rowo Jombor gunungan ketupat didoakan dengan tujuan berharap keselamatan dan keberkahan kepada Sang Pencipta.

Tradisi ini tidak hanya menarik warga Kota Klaten, tetapi tak sedikit warga dari daerah-daerah sekitar Klaten turut serta.

Yanti (26) warga Gunung Kidul sengaja datang untuk ikut prosesi tradisi ini. Di akhir acara, dia juga ikut berebut isi gunungan. Dia berharap apa yang didapat dari gunungan itu bisa membawa keberkahan.

“Karena sebelumnya telah didoakan, saya yakin ini membawa berkah,” kata Yanti yang datang bersama keluarganya, Rabu (12/06/19).

Tahun ini merupakan kali kedua ia mengikuti tradisi Grebeg Syawalan Rowo Jombor. Kedatangannya selain untuk menyaksikan tradisi tahunan juga sekalian menikmati distinasi wisata di desa yang terletak di lereng bukit Sidoguro.

Triman (51), warga Boyolali yang juga datang bersama keluarganya ikut berebut isi gunungan. Ini kali pertama dia datang untuk menyaksikan tradisi Grebeg Syawalan. Pasalnya, tradisi yang sarat akan nilai kearifan budaya lokal itu cukup membuatnya terpukau. Dia mengaku belum pernah menemui tradisi yang mengarak gunungan berisi ketupat seperti tradisi Rowo Jombor Klaten.

“Ini pertama kali. Seru dan ramai. Tadi juga ikut berebut ketupat,” ungkapnya semangat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Klaten Pantoro mengatakan, tradisi ini merupakan agenda rutin tahunan. Adanya tradisi tersebut diharapkan bisa meningkatkan kuantitas wisatawan yang datang ke Rowo Jombor. Selain untuk menikmati keindahan alamnys, para wisatawan juga bisa menikmati destinasi wisata berupa kuliner warung apung.

“Grebeg Syawal bertujuan untuk mengembangkan pariwisata dan meningkatkan ekonomi warga serta sebagai masukan PAD Klaten,” katanya.

Sementara itu ,Bupati Klaten dalam sambutannya menegaskan, Pemkab Klaten akan terus nguri-uri tradisi syawalan, karena dengan acara tersebut bisa dijadikan ajang silaturahmi Pemkab Klaten dengan warganya. madi

Komentar

News Feed