oleh

Diusulkan 10, PDIP: Pimpinan MPR Tetap 5

Jakarta, faktapers.id – Beberapa kalangan politisi mengusulkan10 kursi untuk jabatan pimpinan MPR. Terkait hal ini, anggota Fraksi PDIP MPR RI, Hendrawan Supratikno dengan tegas mengatakan tetap lima kursi.

“Soal apakah 10 atau 5, sudah jelas! Undang-undang Republik Indonesia nomor 2 tahun 2018 tentang perubahan kedua Undang-undang MD3, sudah jelas,” ujar Hendrawan pada diskusi Empat Pilar MPR “Menjaga Politik Kebangsaan, Layakkah Semua Fraksi di di Kursi MPR?” di Media Center/Pressroom, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/7).

Sudah jelas, sambungnya, pimpinan MPR terdiri lima orang, satu ketua dan empat wakil ketua, dipilih dalam satu paket.

“Kalau paketnya lebih dari satu, berarti dalam setiap paket ada orang dari DPD, kalau paketnya ada tiga. Silakan, tetapi rasanya ya nanti akan muncul dua paket lagi, sama dengan paketnya pak Zulkifli Hasan dengan paketnya pak Oesman Sapta Odang,” urai Hendrawan.

Ia pun menuturkan, PDIP dipaket yang kalah. PDIP memenangkan Pemilu, namun Setya Novanto (Ketum Golkar ketika itu-red) dan kawan-kawan menghajar, menghabisi PDIP.

“Pemenang pemilu tidak satupun menduduki jabatan di alat kelengkapan DPR, bayangkan,” ucap Hendarawan ĺagi.

Sambungnya, baru setelah tiga bulan memboikot, yang krtika kader PDIP mau menggembok ruang Paripurna DPR tetapi dilarang.

“Dan saat itu kita membuat pimpinan DPR bayangan, yang namanya bayangan ngga benar. Kemudian ada kompromi dan akhirnya dirtambahlah pimpinan DPR dan pimpinan MPR di tambah tiga,” papar Hendrawan.

Jadi, lanjut dia, mari jalankan UU yang sudah jelas.

“Kita sekarang sudah mulai loby-loby, kalau DPR RI lima partai terbesar menduduki pimpinan DPR dari PDIP, wakilnya Golkar, Gerindra, Nasdem, PKB, oke? Silahkan (parpol-red) mengirim orang yang terbaik,” seru Hendrawan.

Ia pun menghimbau, MPR lima orang, mari dibuat paket, Demokrast bisa dimasukan.

“Kalau ada figur bagus pasti dilamar, kita hitung, inilah ilmu politik, sebagai seni berhitung. Nah paket ini dipersaingkan, Zaman pak Zulhas kita voting sampai pukul 3.20 pagi , saya ingat betul itu, siapa yang menang ini akan menjadi pimpinan kita bersama,” ungkap Hendrawan.

Katanya, itulah pentingnya memahami nilai-nilai demokrasi yang sehat.

“Ya itu sebabnya waktu saya mendengar pak Prabowo mengatakan, kami menghormati putusan Mahkamah Konstitusi kemarin, saya selalu mengatakan, itu aja pak Prabowo sudah memberi ucapan selamat kepada pak Jokowi karena putusan MK sudah jelas,” jelas Hendrawan.

“Kembali ke pertanyaan, 10 tidak perlu, tegas buat kita (PDIP-red). Intinya ini anggaran negara harus kita alokasikan secara efisien. Itu sebabnya kemarin semua anggaran dipotong 50-60 persen.
Cukup 5 saja, soal siapa yang akan dijagokan sebagai ketua MPR, Apakah itu PKB, Apakah itu Golkar, inilah seni berpolitik. Sama dengan PKB minta jatah 10 kursi menteri, PDI perjuangan berapa?,” pungkas Hendrawan lebih jauh.

Katanya, bisa dibayangkan kalau PKB yang hanya 10 kursi dengan PDIP yang tiga kali lipat, bisa diborong semuanya.

“Sudahla kita menujukan kemampuan untuk apa, introspeksi diri atau mawas diri politik,” cetus Hendrawan.

Sebagai partai terbesar, yang di berikan kuasa oleh rakyat dengan 128 kursi, tambahnya, jadilah partai dipercaya oleh rakyat.

“Yang disampaikan teman-teman partai PKB kita hormati sebagai manuver aspirasi, sah-sah saja. Tentu pada saatnya sejarah akan membuktiukan apakah aspirasi seperti itu akan mendapatkan sambutan luas atau sekedar wacana saja,” demikian Hendrawan Supratino. Oss

Komentar

News Feed