oleh

Politisi: Rekonsiliasi Beda dengan Koalisi

Jakarta, faktapers.id – Semangat dan perjuangan masyarakat pendukung capres-cawapres harus dipahami. Tugas pemimpin adalah membangun kesadaran pendukungnya agar lebih mengedepankan kepentingan bangsa.

“Kita pahami dulu posisi pendukung. Masyarakat dan pemimpin harus hargai posisi pendukung, semangatnya, dan perjuangannnya,” seru anggota Fraksi Gerindra MPR RI, Sodik Mudjahid pada Diskusi Empat Pilar bertajuk “Rekonsiliasi Untuk Persatuan Bangsa” di Media Center/Pressroom, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/7/19).

Menurut Sodiq, pendukung yang pendidikannya sangat berbeda banyak emak-emak ‘bapernya’ sangat tinggi. “Maka tugas pemimpin untuk membangun kesadaran bahwa kita ada masalah yang lebih besar lagi yakni soal bangsa,” ujar politisi parpol berlambang kepala burung Garuda itu.

Sodik pun menegaskan, hal itulah yang dilakukan Prabowo Subianto. “Dan  beliau (Prabowo) juga mengatakan dua hal, bahwa rekonsiliasi beda dengan koalisi. Dan beliau akan bertemu dengan para pendukungnya yang masih belum jelas dengan sikap tersebut,” ungkapnya.

Sodik menilai, menyikapi rekonsiliasi kini agak berlebihan, karena mestinya selepas kontestasi cukup bersalaman lalu selesai. “Kita juga ingin membangun itu, tapi opini masyarakat dan juga teman-teman tentu terus menggali sebuah upaya rekonsiliasi itu,” sambungnya.

Sodik menyebut, hal itu dikarenakan selama dalam empat pilar MPR, Pancasila, UUD 45, dan Bhineka Tunggal Ika, tidak perlu harus ada ekslusifitas dari rekonsiliasi. “Itu dan itukan terjadi selama kita kampanye kemarin, tidak ada satupun pelanggaran terhadap Empat Pilar,” tegasnya.

Tak hanya itu, Sodik juga mepaparkan, poinnya tidak harus rekonsiliasi jika masih Empat Pilar. “Kami Gerindra untuk bangsa walaupun kemarin Bapak Prabowo di bully habis, tetapi beliau mengorbankan untuk misi yang lebih besar lagi jadi semua rakyat Indonesia,” tandasnya.

Menyoal sikap Gerindra terhadap para pendukung Prabowo yang akan berjuang sendiri, Sodik mengatakan, Prabowo lebih mengutamakan bangsa dibanding pendukungnya. “Walaupun kami sangat menghargai (pendukung) mari kita kembali segarkan pikiran kita bahwa kepentingan bangsa itu bukan selalu berarti kita merapat dalam sebuah koalisi,” pungkasnya. Oss

 

 

Komentar

News Feed