oleh

Gunung Api Sinabung Muntahkan 10 Kali Awan Panas, Warga Hindari Zona Merah

-Daerah-548 views

sinabung

FAKTAPERS.COM, Karo.

Gunung Api Sinabung terus memuntahkan awan panas hingga Rabu sore (24/6/2015) tercatat telah terjadi 10 kali awan panas guguran dengan jarak luncur 1,5 – 3,2 kilometer. Awan panas tersebut mengarah ke sektor selatan, tenggara dan timur gunung. Karenanya warga diimbau menghindari wilayah zona merah (red zone) atau sekitar 2 kilometer dari bibir kawah Sinabung.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Sinabung Armen Putra mengatakan, berdasarkan data yang diperoleh dari PPGA Sinabung, di Kecamatan Simpang Empat aktivitas Sinabung masih tinggi dan fluktuatif.

“Hingga pukul 18.00 WIB hari ini (kemarin) telah terjadi 10 kali awan panas guguran. Untuk ketinggian kolom debu erupsi mencapai 2 kilometer membumbung ke atas langit dan bergerak perlahan seiring arah angin ke tenggara  – timur,” papar Armen Putra, Rabu (24/6/2015).

Menurut dia, adanya kecenderungan jarak luncur awan panas yang semakin meningkat, diimbau agar masyarakat tetap mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Hal itu lanjutnya, untuk menghindarkan korban jiwa seperti yang terjadi pada Februari 2014 lalu dimana 15 nyawa melayang diterjang awan panas Sinabung akibat memasuki areal zona merah.

“Kepada masyarakat yang daerahnya terpapar debu, diimbau untuk selalu mengenakan masker,” imbaunya.

Terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, erupsi Gunung Sinabung sangat unik. Aktivitas erupsi yang naik turun menyebabkan pengungsi harus bolak-balik dari kampung halaman ke pengungsian.

“Sampai kapan erupsi akan berakhir tidak ada yang tahu. Sementara itu rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana juga harus segera dilakukan. Sedangkan regulasi yang menyangkut pendanaan bencana tersekat-sekat dalam setiap tahapan bencana. Ini merupakan salah satu kendala penanganan erupsi Gunung Sinabung,” papar Sutopo.

Menurutnya, ada tiga hal yang harus ditangani di Sinabung. Pertama adalah pemenuhan kebutuhan dasar bagi 10.184 jiwa (3.030 KK) pengungsi dari 11 desa yang tersebar di 10 titik pos pengungsian yang saat ini semua kebutuhan dasar secara umum tercukupi.

Kedua, relokasi bagi 2.053 KK (6.179 jiwa) dari 7 desa yang dinyatakan dilarang untuk kembali ke desa asalnya. Mereka saat ini tinggal di hunian sementara. Pemerintah sejak Juni 2014 hingga sekarang memberikan bantuan sewa rumah Rp3,6 juta/KK/tahun dan sewa lahan pertanian Rp2 juta/KK/tahun.

Relokasi tahap pertama adalah 370 KK dari Desa Sukameriah, Simacem, dan Bekerah. Kebutuhan anggaran untuk relokasi 370 KK adalah Rp141,3 miliar. Ini untuk pembangunan permukiman, infrastruktur, ekonomi produktif, sosial budaya, dan lintas sektor.

Sedangkan untuk relokasi tahap kedua yaitu 1.683 KK dibutuhkan dana Rp522 miliar. Kebutuhan ini di luar dari pembangunan sabo dam untuk menahan lahar hujan di sekitar Gunung Api Sinabung.

Masalah ketersediaan lahan untuk relokasi adalah masalah penting karena kenyataannya tidak mudah mencari lahan kosong.

Hal yang ketiga adalah penanganan dampak erupsi Gunung Sinabung yang non relokasi. Saat ini banyak warga desa di sekitar Sinabung yang tidak dapat melakukan budidaya pertanian dan perkebunan karena lahannya rusak akibat pasir dan debu erupsi.

Beberapa fasilitas umum dan sosial juga didapati rusak. Untuk itu, Perlu penanganan yang komprehensif baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten.

Komentar

News Feed