Selasa, Juli 27, 2021
BerandaGubernur DKI Jakarta Perlu Seleksi Petugas Pelayanan RSUD Cengkareng
Array

Gubernur DKI Jakarta Perlu Seleksi Petugas Pelayanan RSUD Cengkareng

rsud cengkareng jakarta barat

FAKTAPERS.COM, Jakarta.

Pupus harapan salah satu keluarga ibu kota Jakarta untuk mendapatkan pelayanan yang diharapkan dari bidang pelayanan kesehatan RSUD Cengkareng, Jakarta Barat.

Minggu dini hari (29/11) pukul 02.10 WIB, bermula ketika seorang nenek dalam kondisi keadaan panik dan cemas atas musibah yang dialami oleh cucu laki lakinya M. Taufik Hidayat mengalami pendarahan dibagian kepalanya akibat benturan keras karna terjatuh saat berboncengan sepeda motor dengan seorang rekannya di wilayah Jakarta Barat, Sabtu sore.

Korban sempat dilarikan ke salah satu RS Swasta terdekat, karna banyak mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya. Sehingga harus ditangani secara intensif di ruangan ICU. Dikarnakan untuk perawatan di RS Swasta tersebut menelan biaya yang cukup besar kurang lebih berkisar 30 juta. Dengan keterbatasan biaya, keluarga korban akhirnya berkonsultasi dengan salah satu dokter yang menangani korban saat itu untuk dirujuk ke RSUD Cengkareng, Jakarta Barat. Namun dokter memberikan 2 opsi rujukan, pertama rujukan khusus yang diminta langsung dari RS tersebut tetapi dengan konsekuensi harus menunggu dengan waktu yang tidak dapat di tentukan, karna akan ada pernyataan bahwa ruangan penuh. kemudian opsi kedua, rujukan lepas yang mana pasien mendatangi langsung RSUD Cengkareng dengan mendaftar baru untuk ditanggani di ruangan ICU dengan berbekal diagnosa yang telah dilakukan oleh RS yang menanggani saat ini.

Melihat kondisi yang sangat mengancam keselamatan jiwa pasien dan keterbatasan biaya yang harus dikeluarkan untuk penanganan di ruang ICU RS Swasta tersebut, maka pihak keluarga membawanya ke RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, pada pukul 01.00 WIB dinihari. Setibanya di ruang UGD, keluarga mendaftarkan pasien dengan biaya perawatan umum meski telah memiliki BPJS, khawatir dipersulit prosesnya, maka didaftarkanlah sebagai pasien umum. Setelah selesai mendaftar, pasien masih terbaring di ruang tunggu dan belum di berikan penanganan dalam bentuk apapun, baik infus atau oksigen yang di perlukan pasien. Selang setengah jam, pasien dibiarkan menunggu. kemudian datanglah salah satu perawat di ruang UGD memberikan lembaran agar kebagian pendaftaran ruang kamar inap dengan berbekal surat yang di ajukan dokter. Namun keluarga pasien menyampaikan kepada dokter bahwa penanganan perlu di ruang ICU. Akhirnya permohonan dokter yang telah menuliskan ruangan kamar untuk di ajukan di coret menjadi ruang ICU.

sebuah peristiwa yang sangat tidak diharapkan terjadi terhadap nenek pasien Hj. Anita, ketika menjumpai salah seorang pegawai di bagian administration wanita yang mengenakan hijab seketika menyodorkan surat rujuk yang di berikan dari ruang UGD. Setelah diparaf dan diberi stampel, lalu mengatakan ruangan penuh tanpa sedikit keterangan yang di sampaikan. Dengan harapan agar dapat diberi penjelasan atau solusi, spontan Anisa sebagai pemberi pelayanan mengatakan kalimat dengan nada yang cukup keras mengatakan kalau ruangan penuh, dengan raut wajah yang memerah karna emosi. Dan sempat terjadi ketegangan argumentasi yang saat itupun ada beberapa keamanan security yang menyaksikan, namun hanya berdiam diri saja. Yang sangat membuat keluarga pasien tersinggung dengan perkataan Anisa yang harusnya menyampaikan dengan ramah tamah malah bertambah geram dan mengusir keluarga pasien Hj Anita dari hadapannya. Sontak keadaan semakin memanas dan akhirnya datang pimpinan yang pada malam itu bertugas sebagai penanggung jawab piket. Emi Lia dengan ramah memberikan penjelasan bahwa benar ruangan sudah penuh, karna di RSUD Cengkareng ini hanya ada 1 satu ruangan saja untuk ruang ICU dan hanya untuk kapasitas 6 orang. Jadi, tidak bisa melebihi kapasitas yang telah di tentukan. Keluarga pasien tidak begitu saja percaya, namunu Emi Lia tetap bersikukuh mengatakan ruangan ICU dan menolak pasien baru dengan berbagai macam alasan, terkesan ada yang di tutup tutupi dalam hal informasi tersebut. Bahkan Emi Lia mengatakan tidak ada yang boleh melihat kondisi ruangan ICU dilantai tiga, siapapun itu tanpa pengecualian. Bahkan PERS pun sebagai kontrol sosial tidak di perbolehkan, karna ini peraturan yang dibuat oleh pihak RSUD Cengkareng.

Ketika wartawan Faktapers konfirmasi mengenai ,masalah tersebut, Emi Lia mengatakan bahwa benar yang ia sampaikan bahwa dirinya hanya menjalani tugas dan itu peraturan RSUD Cengkareng. Sementara itu, Hj Anita menyampaikan ketidakwajaran dalam pelayanan dan sikap arogan Anisa kepada Fakta Pers yang tidak mencerminkan seorang petugas pelayananan informasi yang seharusnya dengan ramah tamah dalam menyampaikan informasi, apapun bentuknya perihal keadaan kondisi RSUD Cengkareng, Jakarta Barat. “Kami sebagai konsumen yang harus dilayani dengan baik, bukan malah diusir seperti pengamen atau pengemis”, imbuhnya kepada Faktapers.

Kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Cahaya Purnama AHOK serta Kemenkes untuk menindak dan memberi sangsi tegas kepada oknum RSUD Cengkareng Jakarta Barat, dalam menjalani tugasnya melayani masyarakat yang butuh pelayanan, baik mengunakan BPJS atau Asuransi lain dan Umum. Dengan pelayanan yang merata dan seadil-adilnya serta menyeleksi para pegawai dan petugas pelayanan RSUD Cengkareng Jakarta Barat, agar dapat menjalani tugasnya dengan baik dan memberikan pelayanan yang di harapkan masyarakat serta memiliki Sumber daya Manusia (SDM) yang maksimal.

(GUNTUR/RENO)FP

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments