Jumat, April 23, 2021
BerandaPemerintah Palas Buta Atas Penderitaan Yang Dirasakan Petani
Array

Pemerintah Palas Buta Atas Penderitaan Yang Dirasakan Petani

Bendungan Pagaran jalu-jalu Yang jebol dan sampai saat ini  Belum ada perhatian dari Pemkab Palas
Bendungan Pagaran jalu-jalu Yang jebol dan sampai saat ini Belum ada perhatian dari Pemkab Palas.

FAKTAPERS.COM, Jakarta.

Sejumlah petani merasakan penderitaan yang sangat mendalam akibat dari Jebolnya bendungan irigasi yang mengaliri ribuan hektar areal persawahan milik petani yang berlokasi di Desa Pagaran Jalu-jalu di Kecamatan Lubuk Barumun.

Akibatnya, berimbas pada kerusakan bendungan Balangka Sitongkon yang juga berlokasi di wilayah kecamatan itu. Tidak berfungsinya bendungan dan sarana irigasi persawahan di daerah ini, tentu saja membuat kelompok petani dan masyarakat di Kecamatan Lubuk Barumun Padang Lawas (Palas) tidak bisa bertani di areal sawahnya. Ujung-ujungnya, tingkat kemiskinan warga di daerah ini kian meningkat.

Bendungan Balangka Sitongkon Tampilan dari Sebaliknya, etrlihat jelas bias dari jebolnya bendungan pagaran jalu-jalu, sehingga debet air tidak dapat memenuhu irigasi persawahan masyarakat
Bendungan Balangka Sitongkon Tampilan dari Sebaliknya, tetrlihat jelas bias dari jebolnya bendungan pagaran jalu-jalu, sehingga debet air tidak dapat memenuhi irigasi persawahan masyarakat.

Kendati sudah diberitakan sejumlah pekerja pers di daerah Palas, tapi sepertinya aparatur di jajaran Pemkab Palas dinilai sudah buta mata dan buta hati sehingga tidak bisa lagi mendengarkan aspirasi dan merasakan penderitaan yang dialami para petani yang sudah menahun ini. Astaga…..ironis bukan?????

Satu petani di Lubuk Barumun yang enggan ditulis namanya mengungkapkan, “Sebenarnya akibat dari jebolnya bendungan ini sudah banyak media cetak yang menanyakan permasalahan ini kepada kami, sudah sekitar 8 bulan yang lalu kami ditemui dan ditanyai para wartawan itu. Tapi, kami heran, apakah pemerintah sudah tuli dan buta akan penderitaan yang kami rasakan ini????”, ketusnya.

“Dulu sebelum Pemekaran Tapsel (Tapanuli Selatan), walau bupatinya berjarak sangat jauh dari tempat kami ini, tapi bupatinya sangat respon terhadap keluhan petani disini. Sehingga keadaan masa itu, kami, para petani di sini sempat mengekspor hasil panen padi kami ke daerah lain. Eh… malah sekarang bupatinya sudah dekat jaraknya, hanya sekitar 5 kilometer saja, malah tidak mendengar dan melihat penderitaan kami ini. Saat ini, jangankan untuk diekspor ke daerah lain, hasil panen padi untuk kebutuhan kami aja kurang”, tambahnya.

Sementara, Kadis Pertanian Palas H Abdullah Nasution Rabu, (25/11) saat ditanya wartawan mengatakan, “Sebenarnya, proyek bendungan irigasi itu milik PSDA Provinsi Sumut. Tanyakan saja pada mereka. Kan ada perwakilannya di Lubuk Barumun”, sebutnya.

“Kami sudah memberitahukan persoalan ini ke Pemkab Palas dan sudah juga kami surati Dinas Pertanian Provinsi Sumut. Terakhir, sekitar 6 bulan yang lalu, kami juga sudah membicarakannya di Kementerian Pertanian Pusat di Jakarta,” tambahnya.

Sedangkan Kadis PUPE Palas, Ulil Padli Saat ditemui di Aula kantor Bupati Palas menyatakan belum bersedia memberikan komentar. “Tunggu dululah, nanti saja kita ketemu dikantor”.terangnya.

(Robert Nainggolan)FP

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments