Sabtu, Februari 27, 2021
Beranda Rusak Ekosistem Laut dan Perekonomian, Ratusan Nelayan Unjuk Rasa Tolak Reklamasi Pantai...
Array

Rusak Ekosistem Laut dan Perekonomian, Ratusan Nelayan Unjuk Rasa Tolak Reklamasi Pantai Utara

unjuk rasa nelayan

FAKTAPERS.COM, Tangerang.

Ratusan nelayan yang tergabung dalam Serikat Nelayan Tradisional (SNT) melakukan aksi unjuk rasa di kawasan reklamasi pantai utara, Muara Dadap, Tangerang, pada Senin siang (23/11/2015). Nelayan-nelayan tersebut berasal dari kawasan Dadap, Kosambi, Tangerang dan Kamal Muara, Jakarta Utara.

Aksi unjuk rasa tersebut sebagai bentuk penolakan reklamasi yang merusak ekosistem laut dan mematikan sumber perekonomian nelayan. Ratusan kapal nelayan yang berdemo melakukan konvoi mengitari dua pulau reklamasi sembari menyoraki para pekerja di pulau tersebut. Selain itu, aksi unjuk rasa juga diwarnai dengan membakar perahu.

Aksi unjuk rasa itu berlangsung di tiga titik, yakni tempat Pelelangan Ikan Kamal Muara, pulau Pantai Indah Kapuk 1, dan pulai Pantai Indah Kapuk 2. Sehingga dikerahkan aparat gabungan dari TNI, Polri, dan Satpol PP untuk berjaga-jaga di tiga titik tersebut.

Kapolsek Teluk Naga AKP Hadiwiyono menjelaskan bahwa pihaknya menerjunkan kekuatan penuh anggotanya guna mengamankan aksi unjuk rasa yang melibatkan ratusan nelayan yang diwarnai pembakaran ban bekas dan perahu.

Berdasarkan pengamatan wartawan Faktapers, nampak pulau reklamasi yang tengah digarap pengembang PT. Kapuk Naga Indah dan Tangerang International City luasnya kira-kira sudah mencapai lebih dari dua hektar. Rencananya, pulau reklamasi tersebut akan membentang dari Pantai Kronjo sampai Cilincing Jakarta Utara.

Menurut Koordinator aksi unjuk rasa nelayan dari Serikat Nelayan Tradisional (SNT) Azis Suwandi, proyek reklamasi pulau tersebut merupakan proyek kapitalis yang tidak memikirkan penderitaan nelayan. Selain mengancam matapencaharian nelayan, juga merusak ekosistem laut.

Senada dengan pendapat Azis, pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan dengan adanya proyek reklamasi pulau mengancam kelangsungan hidup hutan bakau yang hidupnya bergantung pada pasang surut air laut. Proyek tersebut dapat menyebabkan paparan air laut mangrove atau hutan bakau berkurang. Padahal, fungsi hutan bakau amatlah penting sebagai pencegah terjadinya sedimentasi pada ekosistem laut.

(Maikhel / Andy)

Most Popular

Recent Comments