Jumat, Mei 14, 2021
BerandaTak Terima Dihina dan Disebut Maling, Ibu ini Laporkan Ahok ke Mapolda...
Array

Tak Terima Dihina dan Disebut Maling, Ibu ini Laporkan Ahok ke Mapolda Metro Jaya

warga laporkan Ahok ke polisi

FAKTAPERS.COM, Jakarta.

Seperti diketahui, anak di bawah umur memang belum mampu untuk mengatur keuangan, sehingga orangtua berkewajiban untuk mengarahkan pembelanjaan uang tersebut. Hal itu pula yang dilakukan Yusri Isnaeni (32), seorang warga asal Koja, Jakarta Utara. Ia berniat untuk membeli seragam sekolah dan sepatu anaknya dengan menggunakan KJP (Kartu Jakarta Pintar) milik anaknya, namun merasa kesulitan dalam proses transaksinya.

Orang tua tunggal itu sudah mendatangi pasar dekat rumah yang ditunjuk menjadi tempat pembelian barang sekolah KJP hingga lima kali, namun pemilik toko tidak bisa memproses transaksi tersebut karena saluran selalu offline. Dirinya pun mengaku bingung, karena sebelumnya proses transaksi selalu lancar, namun akhir-akhir ini saluran selalu offline sehingga sulit bertransaksi.

Disaat kebingungan, Yusri bertemu dengan seorang pria yang menawarkan bisa membantu membelikan keperluan sekolah dengan mencairkan dana KJP. Pria tersebut diketahui belakangan sebagai pemilik toko, hanya saja tidak menjual seragam sekolah. Karena dirinya sudah kepepet untuk membeli kebutuhan sekolah, maka ia langsung menyetujuinya dan menyerahkan kartu KJP kepada pemilik toko tersebut. Tak berapa lama, Yusri menerima struk transaksi dan uang tunai Rp. 300 ribu. Namun, ia merasa bingung karena struk transaksi yang keluar dari Bank BCA, bukan dari Bank DKI. Kemudian, uang tunai yang seharusnya diterima sebesar Rp. 330 ribu ternyata dipotong 10% oleh pemilik toko sebagai jasa.

Akhirnya Yusri menceritakan permasalahannya kepada Ketua LSM Gerakan Masyarakat Peduli Anti Narkoba, dimana ia bekerja. Lalu, Ketua LSM tersebut menyarankan Yusri untuk mengadukan persoalan tersebut ke Komisi E DPRD DKI. Maka pada Kamis (10/12) ia mendatangi DPRD dan kebetulan bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Yusri langsung menceritakan kesulitannya dalam bertransaksi memakai KJP. Namun, ia sungguh terkejut, Ahok malah memarahi dan menuduh Yusri maling.

“Ahok langsung menuduh saya maling. dia mengatakan ‘ibu maling.. ibu maling.. ibu maling’ sampai tiga kali. Lalu dia bilang ke pegawainya ‘catat namanya dan penjarakan dia’, ” tutur Yusri.

” Saya sakit hati dan malu, karena banyak sekali media yang meliput saat itu. Tetangga-tetangga juga ada yang menyindir saya maling, selain itu anak saya juga sampai ga mau sekolah karena teman-temannya mengatai ibunya maling,” kata Yusri dengan nada kesal.

Yusri menuding Ahok sudah mencemarkan nama baiknya dan peristiwa tersebut juga berakibat pada psikologis anaknya. Tidak terima dengan perlakuan Ahok, akhirnya Yusri melaporkannya ke Mapolda Metro Jaya pada Rabu (16/12) dan menuntut ganti rugi sebesar Rp. 100 miliar karena sudah menyakiti dirinya juga mempengaruhi psikologis anaknya . Dan sebelumnya, Yusri juga sudah melaporkan Ahok ke Komnas Perempuan.

Sebelumnya, kata Yusri, pada Sabtu (12/12) ia mendapat telepon dari staff penyidik Ahok bernama Hasanudin Ismail menyampaikan permintaan maaf atas nama Gubernur DKI Jakarta itu. Hasanudin berharap Yusri memaklumi tindakan Ahok dengan alasan Ahok capek sehingga bicara seperti itu. Namun, Yusri tidak menerima permintaan maaf via telepon itu. Ia ingin Ahok sendiri yang meminta maaf karena sudah menghina dan memfitnah dirinya dihadapan banyak orang. Menurutnya, seorang pemimpin harusnya bersikap bijaksana jika ada keluhan dari rakyat kecil.

Menanggapi gugatan Yusri, Ahok malah mengancam akan menggugat balik. Menurut Ahok, selain kesalahan Yusri yang mencairkan dana KJP yang seharusnya tidak boleh dilakukan, Ia juga bisa menggugat Yusri dari sisi perbankan dan menuntut 12 tahun penjara karena telah menggunakan ATM anaknya.

(AF)FP

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments