oleh

Diduga Adanya Miskomunikasi Antara Para Nelayan dan Aparat Pemerintah Terkait Penggusuran Pemukiman Pesisir Tanjung Pasir Tangerang

-Daerah-330 views

  IMG-20160212-WA0000

FAKTAPERS.COM-Tangerang.

Penggusuran pemukiman nelayan sepanjang pesisir Tanjung Pasir, Tangerang, yang dilakukan pada Kamis sore, 7 Januari 2016 lalu masih menyisakan kesedihan di hati para nelayan, salah satunya adalah Arma (74). Ia mengaku sudah bermukim di pesisir pantai tanjung pasir sejak lahir bersama orangtuanya, hingga berumur tua dan memiliki lima cucu. Sehingga, ia merasa menjadi nelayan tidak hanya  sekedar sebagai mata pencaharian, namun juga sudah menjadi kehidupannya.

Ia mengeluh atas tindakan arogan aparat Pemerintah Kota Tangerang atas penggusuran pemukiman nelayan secara membabi-buta. Barang-barang miliknya dan nelayan lain belum sempat diamankan, namun aparat petugas tampak tidak peduli dan langsung membabat habis gubuk-gubuk tersebut dengan mesin gergaji. Perlawanan nelayan memuncak ketika petugas mengarahkan mesin gergaji ke bangunan mushala satu-satunya di tempat itu.

“Hanya sedikit barang yang bisa kami selamatkan. Dan kami sampai mohon-mohon untuk tidak merubuhkan bangunan mushala satu-satunya disini. Tapi, apa boleh buat kami tidak berdaya”, keluh Arma.

Menurut penuturan nelayan lainnya, Nasir (43), awalnya penggusuran tersebut disebabkan oleh adanya pemukiman prostitusi yang jaraknya sekitar 500 meter tak jauh dari pemukiman nelayan. Warung remang-remang tersebut berjalan mulus tanpa ada gangguan karena membayar sejumlah uang tiap bulan kepada beberapa oknum Dinas Kehutanan Tangerang. Sejumlah preman juga turut membekingi tempat tersebut.

Namun, serapat-rapatnya bangkai disembunyikan akhirnya tercium berlaku pada warung remang-remang tersebut. Akhirnya Dinas Kehutanan bertindak untuk mengenyahkan tempat prostitusi tersebut dengan membakar habis gubuk-gubuknya. Tak dinyana, kobaran api menyambar hingga ke sebagian pemukiman nelayan. Kejadian tersebut terjadi sebelum bulan Ramadhan tahun 2015.

Beberapa bulan kemudian, lanjut Nasir, tepatnya Kamis sore 7 Januari 2016 warga nelayan dikejutkan tindakan aparat petugas yang menggusur pemukiman mereka tanpa kompromi. Menurut kabar yang didengar para nelayan, tujuan penggusuran tersebut untuk penghijauan kawasan hutan sepanjang pesisir pantai Tanjung Pasir.

Amar dan Nasir, begitu pula dengan nelayan lainnya menuturkan keikhlasan mereka terkait penggusuran pemukiman nelayan, namun yang mereka sesalkan adalah tidak ada pemberitahuan sama sekali sebelumnya dari Pemerintah Kota maupun dari Dinas Kehutanan setempat.

“Tidak ada pemberitahuan sama sekali sebelumnya. Jangankan pemberitahuan, musyawarah dengan warga nelayan setempat pun tidak ada. Kami terkejut, tiba-tiba saja aparat petugas datang dan langsung bergerak merubuhkan pemukiman kami dengan mesin gergaji tanpa memberi sedikit waktu untuk mengamankan barang-barang penting dari dalam rumah”, ungkap Nasir.

“Kami tahu diri, kami memang tinggal di tanah negara sampai berpuluh-puluh tahun. Tidak masalah kami digusur oleh pemerintah. Toh ini tanah milik Negara. Kami hanya minta untuk diberitahu sebelumnya agar kami bisa mengamankan barang-barang kami. Dan kami juga minta kompensasi dari penggusuran tersebut, karena kami membangun gubuk kami dengan uang, bukan pakai daun. Kami mohon sama pemerintah jangan semena-mena dan memahami rakyat kecil”, timpal Arma.

Namun setelah ditelusuri, tampaknya antara warga nelayan dan aparat pemerintah terjadi miskomunikasi. Dari keterangan aparat Dinas Kehutanan Tangerang, Ardi, yang ditemui di sekitar hutan pantai Tanjung Pasir, mengatakan dirinya sudah memberikan surat pemberitahuan penggusuran hingga tiga kali kepada salah satu nelayan setempat yakni mandor Limin. Akan tetapi, saat Fakta Pers Media menanyakan langsung perihal tersebut, mandor Limin membantah sudah menerima surat pemberitahuan itu. Bahkan, tersiar kabar penggusuran tersebut bukan untuk penghijauan tapi untuk dijadikan obyek wisata oleh Camat Teluk Naga, demikian penjelasan mandor Limin.

Simpang siurnya kabar yang beredar di masyarakat mendorong Fakta Pers Media untuk mengkonfirmasikan persoalan tersebut ke kantor Dinas Kehutanan Kabupaten Tangerang dan Kecamatan Teluk Naga. Namun, sangat disayangkan setibanya disana Kepala Dinas Kehutanan dan Camat Teluk Naga tidak ada di tempat.

(AF)FP

Komentar

News Feed