Jumat, Mei 7, 2021
BerandaMengejutkan, RS Bunda Jemur Baju Operasi Diatas Seng
Array

Mengejutkan, RS Bunda Jemur Baju Operasi Diatas Seng

LPKM Kota Lhokseumawe Desak Polisi Usut Tuntas

BAJU OK 1
Baju Operasi (OK) yang sering digunakan dokter dan perawat saat melakukan operasi, bertebaran diatas seng lantai II Rumah Sakit bunda Lhokseumawe

FAKTAPERS-LHOKSEUMAWE.

Sulit dipercaya jika ini yang terjadi di rumah sakit, bagaimana tidak, jika Baju Operasi (baju OK) yang sehari-hari digunakan oleh dokter dan perawat saat operasi pasien, malah dijemur diatas atap seng rumah sakit tersebut, hal ini sangat jauh dari steril terutama bakteri dan virus.

Rumah Sakit Bunda yang berada di pusat Kota Lhokseumawe tepatnya di jalan Darussalam, tidak sebanding dengan gedung mewahnya berasitek minimalis, yang konon membuat wanita menjatuhkan pilihan untuk dirawat di rumah sakit ini. Namun kulit luarnya tidak sebanding dengan isi didalamnya.

Dari hasil penuturan dan keterangan beberapa pasien, dan dilakukan penelusuran, jika tingkat kebersihan diruangan terutama ruang ibu hamil jauh dari standar kebersihan. Belum lagi pemandangan  yang sangat mengejutkan, beberapa pasang Baju Operasi berwarna Biru atau yang biasa disebut baju OK di jemur bertebaran diatas lantai tingkat terakhir, tepatnya dibawah terik matahari beralaskan seng.

Baju Operasi (OK) menyebar dan tercecer secara acak diatas atap lantai tasa Rumah Sakit Bunda Kota Lhokseumawe. Baju berwarna hijau yang kerap digunakan saat operasi seakan tak berarti nilai kebersihannya. Bisa dibayangkan, betapa mengerikan pemandangan ini, karena baju operasi seharusnya berada dalam wadah yang steril, atau lemari sehingga jauh dari bakteri dan berkembangnya virus yang mematikan.

“ Memang benar itu baju OK untuk operasi, saya lihat sendiri dan ada bukti fotonya, semua baju tersebut dijemur dilantai dua dekat ruang operasi dr. Hanafiah”, ujar salah seorang pasien yang pernah mendapat perawatan dirumah sakit tersebut yaitu Fahwardhiah.

Baca Juga “Pasca Operasi Caesar Di RS Bunda Pasien Alami Infeksi dan Pendarahan”

Kasus inipun menjadi pelajaran telak bagi Manajemen Bunda dalam memperbaiki alat penunjang medis agar tersimpan lebih steril. Salah satu bukti nyata mungkin adalah kasus Fahwhardhiah (33) warga Desa Lancang Garam Kota Lhokseumawe yang pada tanggal 18 Mei resmi mempolisikan dr.Hanafiah Sp.OG melakukan operasi caesar terhadap dirinya hingga berujung pada infeksi dan terjangkit bakteri.

Hanafiah dilaporkan atas dugaan Kelalaian/mal praktek yang menimpa  Fahwhardhiah Warga Desa Lancang Garam Kota Lhokseumawe. Laporan Polisi bernomor LP/204/V/2016/ACEH/res Lsm tertanggal 18 Mei 2016 ini, sudah ditangani tim Reskrim polres Kota Lhokseumawe. Beberapa Media Elektronik, Cetak dan online juga memberitakan kasus dugaan Mal prakterk tersebut.

Sejumlah pihak meminta kasus ini menjadi perhatian serius pihak kepolisian agar menjadi pelajaran bagi rumah sakit lain di Kota Lhokseumawe. Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Muslim Kota Lhokseumawe, Sahrial, MS.SH meminta aparat terkait untuk mengusut tuntas kasus tersebut, apalagi kejadian ini bukan yang pertama terhadap pasien yang pernah berobat di rumah sakit tersebut.

LPKM LHKS (1)
Inzet Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Kota Lhokseumawe

“Ini harus diusut tuntas, dan pihak terkait laiinya juga harus mengawasi jalannya kasus tersebut agar benar-benar dapat terungkap, semoga polisi bertindak profesional dan transparan agar kasus ini bisa menjadi pelajaran”, ungkapnya, Jum,at (20/06).

Menurutnya, pihak terkait lainnya, terutama Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota Lhokseumawe serta Dinas Kesehatan, bisa melakukan sidak atau pengawasan terhadap rumah sakit tersebut, karena dikhawatirkan kasus pengabaian pasien, diterlantarkan, hingga berujung kematian akan terulang lagi”. Kita mendesak instansi terkait lainnya jangan tutup mata, mari memperbaiki pelayanan kesehatan masyarakat, terutama kontrol rumah sakit yang banyak keluhan dari masyarakat, agar pelayanan kesehatan benar-benar optimal”. pungkasnya.

Seperti diketahui, tiap berdirinya Rumah Sakit (RS) sedikitnya harus memiliki 13 Standar Operasional Prosedur (SOP) yang meliputi pelayanan medis, penunjang medis, keperawatan, SDM, keuangan dan administrasi, pelayanan umum, pemasaran, manajemen infus, QUMR, kebersihan, kebersihan dan keselamatan kerja, perinasia/kamar bayi, dan pemusnahan bahan-bahan berbahaya dari Rumah Sakit.(Mukhlis)

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments