Kamis, Juni 17, 2021
BerandaIni Penyebab Kerusuhan Tanjung Balai
Array

Ini Penyebab Kerusuhan Tanjung Balai

kerusuhan tanjung balai
Kerusuhan Tanjung Balai.

FAKTA PERS – Tanjung Balai.

Polda Sumatra Utara sudah menetapkan 17 tersangka kerusuhan di Tanjung Balai yang mengakibatkan sejumlah rumah peribadatan mengalami kerusakan.

Menurut Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting, polisi sudah mengamankan barang bukti berupa batu, CCTV, dan dua patung.

“CCTV itu sebagai petunjuk. Para tersangka itu dengan rincian delapan orang pencurian dan sembilan orang perusakan,” ungkapnya.

Namun, anehnya Melani (41) warga etnis Tionghoa yang merupakan dalang atau pemicu kerusuhan tersebut tidak ditetapkan sebagai tersangka.

“Kalau Meliana tidak, dia bukan tersangka. Dia sebagai saksi,” ujarnya.

Sementara itu, politisi PDI P Eva Kusuma Sundari menganggap orang yang protes dengan suara adzan itu hal yang wajar.

“Protes tersebut wajar dan bukan bentuk kejahatan,” kata anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 31 Juli 2016.

Menurut Sekretaris PUSHAMI (Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia) Aziz Yanuar, SH, masalah kerusuhan tersebut harus segera diselesaikan dengan bijak dan proposional.

“Yang harus digaris bawahi pemicunya itu adalah tindakan warga minoritas yang arogan dan tidak toleran serta melanggar aturan dan kesopanan disana. Dia wajib ditindak agar kericuhan tidak terulang lagi dan menyebar di wilayah lain,” ujar sekretaris PUSHAMI Aziz Yanuar, SH, Selasa (02/8).

Katanya lagi, selama 71 tahun Indonesia merdeka baru kali ini ada warga yang protes dengan suara adzan. “Ini artinya bukan adzan dan speakernya yang jadi masalah, tetapi mereka yang mulai menyerang ajaran Islam,” terangnya.

“Dan kalau masalah speaker ini diakomodir maka pasti mereka akan minta diakomodir masalah lainnya seperti misalnya waktu jumatan dibatasi atau hari raya Idul Adha dilarang memotong hewan kurban seperti di Jakarta. Waktu bulan puasa kemarin masalah penutupan warung itu juga bagian dari ‘test water’ dari mereka yang anti Islam,” tambahnya.

Sekretaris Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al-Makshum, Dailami memaparkan, sudah sejak lama Melani melakukan protes terhadap suara adzan.

Menanggapi suara keberatan dari Melani, usai shalat maghrib pada Jumat (29/07), Dailami bersama seorang pengurus masjid lain bernama Haristua Marpaung mendatangi rumah Meliana yang berada di depan Masjid Al-Makshum untuk bertanya baik-baik terkait keberatannya dengan suara adzan.

Sejurus kemudian, sambungnya, ikut keluar juga dari rumah Meliana, anak laki-laki dan suaminya.

“Anaknya juga menantang. Kalau suaminya dia justru minta maaf,” diakui Dailami.

Ia mengungkapkan, cekcok tersebut cukup mengundang kemarahan jamaah. Bahkan, kata dia, sampai pak Zul (penggilan salah seorang pengurus masjid yang dituakan dan dikenal pendiam) juga ikut kesal dengan perkataan Meliana hingga mengeluarkan kata-kata makian.

Kejadian itu, tambah Dailami, sekaligus menyulut keramaian warga yang juga dikarenakan posisi tempat mereka adu mulut berada tepat di pinggir jalan.

Akhirnya setelah sholat Isya, ia menceritakan, bahwa pihak Kepala Lingkungan (Kepling) memutuskan membawa Meliana beserta suami dan anaknya ke kantor lurah untuk menyelesaikan perkara tersebut.

Disana, papar Dailami, juga hadir pengurus masjid atau BKM, lurah, beberapa polisi dan koramil.

“Tapi rupanya Meliana tetap ngotot tidak mau minta maaf dan meminta masjid berhenti melantangkan suara adzan,” tuturnya.

Akhirnya warga marah dan terjadilah kerusuhan.

(RN)

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments