oleh

Mesjid Al-Inayah Berubah Jadi Yayasan Membuat Jama’ah Resah, MUI dan DMI Jakbar Diminta Turun Selesaikan Konflik Kepengurusan

-Daerah-375 views
20160921_090017 (2)
Masjid Al-Inayah yang terletak di Komplek Merpati, RW. 010, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat

FAKTA PERS – Jakarta.

Kisruh kepengurusan Masjid Al-Inayah yang terletak di Komplek Merpati, RW. 010, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat hingga kini belum menemukan titik terang antar kedua kubu pengurus.

Menurut penuturan H.Wahyudin Abdullah salah satu warga saat ditemui Fakta Pers Media di kediamannya menuturkan, Mesjid Al-Inayah dibanguan sekitar tahun 1990 merupakan hasil swadaya dan gotong royong jama’ah beserta warga Rw. 010 khususnya warga muslim.

Dari semenjak berdirinya masjid Al-Inayah hingga selama kurang lebih 24 tahun dan telah enam kali ganti ketua pengurus masjid, jama’ah atau warga yang melakukan ibadah di masjid tersebut berjalan dengan aman dan nyaman.

Setiap kegiatan serta acara-acara yang diselenggarakan oleh kepengurusan atau Ta’mir Masjid Al-Inayah berjalan dengan lancar, harmonis tanpa ada kendala. Hal ini dikarenakan ketua masjid dipilih oleh jama’ah berdasarkan hasil musyawarah jama’ah dengan pemilihan secara demokrasi.

Keresahan warga mulai terjadi  jama’ah masjid Al-Inayah berawal dari didirikannya sebuah yayasan di mesjid tersebut oleh segelintir warga pada sekitar tahun 2014 yang lalu.

Yang dipimpin oleh saudara Dasuki Gaos selaku ketua yayasan yang juga merangkap sebagai ketua masjid, pemilihan ketua masjid tidak lagi dipilih melalui musyawarah mufakat melainkan ditunjuk oleh para pembina yayasan.

Di katakannya, “Ironisnya lagi selama dua tahun yayasan tersebut berdiri akte dan AD/RT yayasan tidak pernah diperlihatkan kepada warga setempat.”

“Walaupun diantara jamaah telah berupaya meminta untuk diperlihatkan namun tidak diberikan, alasan dari pembina hal ini screet atau bukan untuk publik. Sehingga kami warga menduga ada indikasi ketua dan para pembina yayasaan mempunyai motif dan agenda terselubung terhadap masjid atau hendak menguasai dan menjadikan masjid sebagai aset yayasan.” katanya.

foto sertifikat qiblat

Dijelaskannya, “hal ini terbukti dari uang masjid yang bersumber dari sumbangan, infak, amal, dan sodakoh jama’ah serta hasil teromol/kotak amal hari jum’at dikelola oleh yayasan hingga saat ini tidak pernah ada laporan tahunan dari yayasan secara transparan atau standar akutansi malah uang tersebut dipegang oleh ketua yayasan.” ujarnya.

“Kemudian pemicu lain muncul akibat permasalahan arah qiblat, semenjak berdirinya masjid tersebut arah kiblat memang lurus sesuai dengan posisi bangunan masjid.” imbuhnya.

“Sehubungan dengan adanya fatwa MUI No. 03 dan No. 05 Tahun 2010 tentang arah kiblat serta himbauan dari Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam pada tanggal 23 Mei 2011 agar melakukan verifikasi atau menyesuaikan arah kiblat di masjid-masjid seluruh Indonesia.

Maka pada Tanggal 28 Mei 2011 ketua masjid pada saat itu bersama dengan jama’ah dan beberapa pengurus masjid  Al-Inayah melakukan penyesuaian arah kiblat.

“Yang pertama dengan bayangan benda melalui sinar matahari yang kedua menggunakan alat Navigation Magnetic Compass dibawa oleh satu jamaah yang berprofesi sebagai  penerbang (Capten Pilot).”

“Ternyata hasilnya arah kiblat adalah miring 25 derajat dari Barat arah Barat Laut atau arah kiblat tidak lagi lurus mengikuti posisi bangunan masjid, Sehingga ini disepakati dan di ikuti oleh pengurus dan jama’ah kurang lebih selama 5 (Lima) tahun.

“Anehnya pada bulan April 2016 arah kiblat digeser lagi menjadi menjadi lurus kembali oleh Dasuki Gaos CS tanpa musyawarah dengan jamaah dan tanpa ada dasar hukum atau acuan yang jelas.” lanjut Wahyudin.

Dia juga menambahkan “Beberapa orang jamaah telah menyampaikan masukan dan tegoran secara lisan kepada para pembina yayasan namun tidak gubris, salah satu pembina menyatakan kalau ada keritik dan masukan agar dibuat secara tertulis yang di tujukan kepada pembina.”

berita acara qiblat (1)

“Atas dasar itu juga jama’ah pun melayangkan surat kepada pembina akan tetapi tidak juga ada tanggapan. Malah pembina, ketua dan pengurus yayasan menggelar rapat interen pada saat itu hadir salah seorang jama’ah yang bukan termasuk dalam pengurus yayasan diusir dengan arogan oleh Dasuki Gaos yang berstatus PNS aktif dari ruang rapat, padahal jamaah tersebut hadir atas undangan ketua pembina yayasan.” pungkasnya.

Di tempat terpisah salah seorang warga yang enggan diketahui identitasnya juga menuturkan, “akumulasi dari kekecewaan jamaah sepakat melului musyawarah para jamaah membentuk pengurus lagi yaitu Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang diketuai oleh Capt. H. Wahyudin Abdullah yang saat ini telah di daftarkan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kalideres, Kelurahan Pegadungan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jakarta Barat.”

“Karena menghadap kiblat merupakan syarat syahnya sholat serta untuk memperjelas masalah arah kiblat di masjid Al-Inayah, DKM mengirim surat kepada Kepala Kementerian Agama Jakarta Barat untuk minta dilakukan verifikasi atau pengukuran ulang arah kiblat di masjid tersebut.” tuturnya.

Menurutnya, “tepatnya hari Sabtu tanggal 27 Agustus 2016 pukul 11.00 Wib petugas/team Hisab dan Rukyat dari Kementerian Agama Jakarta Barat datang dan melakukan pengukuran, saat sedang dilakukan pengukuran sangat disayangkan mendapat penolakan dan pengusiran oleh Dasuki Gaos Cs tanpa alasan yang jelas.” ujarnya.

Merasa permasalahan kiblat belum ada kejelasan tanggal 31 Agustus 2016 DKM mengirimkan surat kepada Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Sehingga tanggal 05 September 2016 Team Direktorat Urusan Agama Islam Dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama RI turun melakukan Verifikasi dan pengukuran terhadap arah kiblat di masjid Al-Inayah.

Setelah di lakukan pengukuran hasilnya adalah arah kiblat di masjid tersebut memang miring 25 derajat dari Barat arah Barat Laut atau tidak lurus seperti posisi bangunan masjid saat ini. Hasil ini tertuang pada Berita Acara Pengukuran Arah Kiblat Nomor: B.2230/Dt.III.I/5/HK.03.2/09/2016  dan sertipikat Arah Kiblat masjid Al Inayah yang di keluarkan oleh Kementerian Agama RI melalui Direktorat Urusan Agama Islam Dan Pembinaan Syariah.

Namun adanya Sertipikat Arah Kiblat itu tidak juga menjadi acuan atau di pakai sebagai dasar untuk menetukan arah kiblat di masjid itu. Pihak yayasan bersikeras dengan arah kiblat yang lurus, begitu juga pihak DKM menganggap arah miring yang benar karena berdasarkan fatwa MUI dan sertipikat yang telah dikeluarkan oleh Kemenag RI.

Akibatnya jamaah yang melakukan sholat lima waktu di masjid itu terdapat 2 kloter, yaitu satu kloter miring dan satu kloter lagi lurus. “DKM menyimpulkan terjadinya perbedaan arah kiblat di masjid tersebut salah satu penyebabnya adalah karena pergantian karpet.

DKM telah berupaya menemui salah satu dari pembina yayasan membahas masalah arah kiblat akan tetapi menemui jalan buntu, sehingga tanggal 29 September 2016 yang lalu pihak DKM melayangkan surat somasi/peringatan kepada para pembina untuk segera mengambil tindakan namun tidak direspon juga.

Akhirnya pihak DKM mengulung karpet untuk diganti yang baru, sangat disesalkan Dasuki Gaos yang notabene adalah bukan dipilih oleh jama’ah itu, lagi-lagi menunjukan arogansinya menolak dengan kasar dan membuat heboh warga sehingga suasana hari sabtu tanggal 8/10/2016 itu menjadi tidak terkendali.

“Untungnya aparat kepolisian, Babinsa dan aparat kelurahan segera datang untuk melerai dan mengamankan suasana sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.” tambahnya.

Sehubungan dengan kejadian diatas DKM meminta kepada pihak berwenang dalam hal ini KUA, Kelurahan, Kepolisian, Kecamatan, Walikota, Kemenag Jakarta Barat, MUI dan DMI  untuk segera turun tangan dalam rangka mencarikan solusi dan penyelesaian terhadap permasalahan yang terjadi di masjid Al-Inayah agar tidak terjadi gesekan sesama di lingkungan warga. (HL02)

Komentar

News Feed