Jumat, Juli 30, 2021
BerandaPOPULI CENTER : 'Arah Suara Pemilih Pilgub DKI'
Array

POPULI CENTER : ‘Arah Suara Pemilih Pilgub DKI’

toli

FAKTA PERS – Jakarta.

Setelah menunggu penantian panjang, akhirnya 3 pasangan calon Gubernur sudah mendaftar ke KPU DKI Jakarta. Pemilih pun mulai mengerucutkan pilihan dan ini menjadi menarik untuk dikaji secara empiris, kemana sebenarnya arah suara pemilih Pilgub DKI pasca pendaftaran pasangan calon? Apakah benar telah terjadi gempa bumi electoral dengan berpindahnya dukungan pemilih secara meluas ke calon-calon baru? Survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan 600 responden, di 120 Rukun Tetangga di 60 kelurahan di 6 wilayah DKI Jakarta yaitu Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu. Survei ini menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error ±4% pada tingkat kepercayaan 95%.

Dalam survei ini, Populi Center mendapatkan beberapa temuan menarik. Pertama, 84 persen masyarakat DKI sudah mengetahui Pilgub DKI 2017, sementara 15 persen belum mengetahui. Ini artinya sosialisasi Pilgub DKI sudah dilakukan dengan baik. Selanjutnya, 91.7 persen masyarakat akan berpartisipasi untuk memilih dalam Pilgub DKI mendatang. Ini artinya antusias partisipasi dan pengetahuan tentang Pilgub DKI berbanding lurus.

Kedua, pada September 2016, sebanyak 81.4 persen masyarakat menyatakan puas terhadap kinerja Gubernur BTP. Sebelumnya, pada Agustus 2016 sebesar 84.7 persen masyarakat Jakarta mengaku puas terhadap kinerja Gubernur BTP. Tingkat kepuasan ini cenderung turun dari periode-periode sebelumnya di mana pada Juni 2016 tingkat kepuasan publik mencapai 85.2 persen, April 2016 sebesar 81.5 persen dan Februari 2016 sebesar 85.5 persen. Meskipun mengalami penurunan, penurunannya masih relatif kecil.

Ketiga, top five program yang paling bermanfaat diantaranya Kartu Jakarta Sehat (40.3%), Kartu Jakarta Pintar (22.7%), kemudahan birokrasi kelurahan (14.5%), penanganan banjir (7.2%), dan perijinan terpadu (PTSP) (5%). Sementara itu, sejumlah isu yang perlu diselesaikan diantaranya kemacetan (23.8%), jumlah pengangguran (18.8%), dan biaya berobat (14.2%).

Keempat, dari sejumlah bidang, masyarakat menilai bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur memiliki kinerja paling memuaskan di bidang kesehatan (82.2%), pendidikan (81.7%), dan perijinan terpadu satu pintu (73.7%). Hal ini sejalan dengan program-program yang dirasa paling bermanfaat. Sebaliknya, bottom three kebijakan yang dirasa belum memuaskan adalah pemberantasan korupsi (55.8%), perekonomian (39.5%), dan penanganan kemacetan (18%).

Kelima, saat diberikan pertanyaan terbuka mengenai siapa tokoh yang paling layak dipilih untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta (elektabilitas top of mind), responden menjawab BTP sebesar 40.8 %. Sementara itu, elektabilitas Anies berada di posisi kedua dengan persentase sebesar 17.3%, diikuti oleh Agus Yudhoyono (12.5%), Sandiaga Uno (1.5%), dan Tri Rismaharini (0.8%). Namun masih banyak juga pemilih yang belum memutuskan dan memilih untuk tidak menjawab yaitu sebesar 25.5%.

Keenam, untuk elektabilitas 3 pasang calon, 45.5% masyarakat memilih pasangan BTP-Djarot, diikuti dengan 23.5% yang memilih Anies-Sandi, dan 15.8% yang memilih Agus-Sylvi. Sementara itu, 15.2% masih ragu, belum memutuskan dan tidak menjawab. Dari temuan ini, bisa disimpulkan bahwa undecided voters mulai menurun saat sudah diberikan pilihan nama dan suara pemilih yang ada di kategori undecided voters masih bisa digunakan untuk mendongkrak elektabilitas dari setiap calon Gubernur/ Wakil Gubernur dan belum tampak adanya eksodus dukungan ke calon-calon baru.

Ketujuh, setelah memilih 1 dari 3 nama pasangan calon kandidat, masyarakat ditanyakan mengenai kemantapan pilihan mereka. Hasil survei menunjukkan bahwa 52.3% merasa sudah mantap dengan pilihannya, kemudian 34.7% merasa masih mungkin berubah, dan 13% cenderung tidak tahu dan memilih untuk tidak menjawab. Dari tabulasi silang, ditemukan bahwa 70.7% pemilih BTP-Djarot menyatakan sudah mantap dengan pilihannya dan 25.6% menyatakan masih mungkin berubah. Tingkat kemantapan pemilih Anies-Sandi ada di angka 51.8%, yang menyatakan masih mungkin berubah adalah 43.3%. Sedangkan untuk Agus-Sylvi, yang sudah mantap ada 49.5% dan 47.4% masih mungkin berubah pilihannya dengan sisanya menjawab tidak tahu/tidak jawab.

Kedelapan, untuk elektabilitas head to head, elektabilitas BTP-Djarot lebih tinggi saat berhadapan dengan Agus-Sylvi dibanding saat berlawanan dengan Anies-Sandi. Dalam simulasi head to head, elektabilitas BTP-Djarot sebesar 48.5% sedangkan Agus-Sylvi 31.8%. Namun apabila head to head dengan Anies-Sandi (36.2%), maka elektabilitas BTP-Djarot sebesar 46.8%. Temuan menarik yaitu saat Anies-Sandi berlawanan dengan Agus-Sylvi, pemilih kategori undecided voters malah bertambah banyak. Ini artinya sekitar 14.75% undecided voters beririsan dengan pasangan calon BTP-Djarot. Kesembilan, 3 kriteria utama dari masyarakat DKI Jakarta dalam memilih Gubernur dan Wakil Gubernur diantaranya bersih dari korupsi (30.2%), tegas (30%), dan merakyat (21.8%).

Kesepuluh, pemilih DKI Jakarta tidak menghiraukan isu SARA. Hal ini terbukti dari data yang menunjukkan bahwa masyarakat penganut agama Islam paling banyak memilih pasangan BTP-Djarot (42.5%). Sementara itu, untuk masyarakat dengan preferensi partai pengusung calon tertentu, cukup loyal dengan pilihan tokoh yang diusung partai pilihannya. Sebagai contoh, masyarakat dengan preferensi partai PDIP dan Golkar paling banyak memilih BTP-DJarot. Begitupula dengan masyarakat yang memilki preferensi partai Demokrat, paling banyak memilih pasangan calon Agus-Sylvi, dan masyarakat dengan preferensi partai Gerindra paling banyak memilih Anies-Sandi.

(Wisnu)

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments