Senin, Agustus 2, 2021
BerandaProyek Pengairan dan Pertambangan Dikerjakan Kontraktor Amatir dan Asal-Asalan
Array

Proyek Pengairan dan Pertambangan Dikerjakan Kontraktor Amatir dan Asal-Asalan

IMG-20161005-WA0055

FAKTA PERS – Pasuruan.

Proyek plat merah Dinas Pengairan dan Pertambangan Kabupaten Pasuruan kembali mendapat sorotan, kali ini proyek rehab saluran irigasi yang dikerjakan oleh pelaksana CV Podo Trisno di Dusun Kandangsari, Desa Capang, Kecamatan Purwodadi ini terkesan dikerjakan asal-asalan.

Dan proyek pembangunan yang masih dalam proses pengerjaan ini telah rampung sekitar 30 persen. Proyek dari Dinas Pengairan dan Pertambangan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2016 yang dilaksanakan oleh CV Podo Tresno dengan nilai kontrak Rp 149.282.000 dan nomor kontrak 602/668.7/424.058/2016 dengan jangka waktu 60 hari, dari 19 Juli 2016 hingga 16 September 2016.

Namun miris, proyek tersebut tampak dikerjakan asal-asalan. Dari hasil penelusuran Fakta Pers Media, kondisi di lapangan proses pekerjaan plengsengan itu memakai “pecelan” batu sungai yang berada sungai terdekat, selain itu tidak memakai molen, dan campuran pasir/semen dikerjakan secara acak-acakan.

Selain itu tampak batu-batu besar pada dinding saluran irigasi tidak tersusun rapi, dan diduga tidak sesuai dengan spek teknis bangunan proyek, begitu juga dengan pondasi irigasinya terkesan amburadul.

Selain itu, campuran kadar semen pada corran juga dinilai kurang, disinyalir kuat ada pengurangan volume. Dan yang paling parah, irigasi ini diduga kedalaman fondasi tidak sesuai spek. Lalu, campuran pasir dan semen juga dinilai kurang.

Dengan kondisi demikian, proyek pengairan dan pertambangan yang dikerjakan oleh CV Podo Trisno yakni kontraktor Kaji Tris asal Kecamatan Tutur tersebut dinilai sarat penyimpangan dan dituding melakukan Kolusi Korupsi Nepotisme (KKN).

Bagaimana tidak, pembangunan plengsengan itu dikerjakan asal-asalan. Pertama tidak menggunakan molen, kedua secara material yang seharusnya batu membeli dari luar, namun ini sebaliknya “malah ngotes” memakai batu sungai ditempat lokasi, ketiga campuran pasir dan semen acak acakan, keempat pemasangan pondasi tidak tertata rapi.

Saat dikonfirmasi Fakta Pers Media, selaku pengawas pengairan Kandar mengatakan bahwa dirinya tidak tahu proses pekerjaan proyek pengairan yang ada di Dusun Kandangsari. Dia menjelaskan bahwa dirinya tengah bertugas di luar dan akan mencoba mengkoordinasikan ke Dinas Pengairan dan kontraktornya.

Dari keterangan warga setempat bernama Saiful, pekerjaan semacam itu diperkirakan rawan hancur. Tak sampai setahun, proyek tersebut diprediksi akan jebol akibat dari kualitas buruk.

Berdasarkan UU RI No.18 Tahun 1999 (Kegagalan Konstruksi) UU RI No.18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi Ayat 2, barang siapa yang melakukan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang bertentangan atau tidak memenuhi ketentuan keteknikan yang telah ditetapkan dan mengakibatkan kegagalan pekerjaan konstruksi atau kegagalan bangunan dikenakan pidana paling lama 5 (lima) tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 5% (lima per seratus) dari nilai kontrak.

Ayat 3, barang siapa yang melakukan pengawasan pelaksanaan pekerjaan konstruksi dengan sengaja memberi kesempatan kepada orang lain yang melaksankan pekerjaan konstruksi melakukan penyimpangan terhadap ketentuan keteknikan dan menyebabkan timbulnya kegagalan pekerjaan konstruksi atau kegagalan bangunan dikenakan pidana paling lama 5 (lima) tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 10% (sepuluh per seratus) dari nilai kontrak.

(Pur)

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments