Senin, September 27, 2021
BerandaAcara Haul Sultan Nuku Yang Dilaksanakan Di Ternate Menuai Pertanyaan Para Netizen
Array

Acara Haul Sultan Nuku Yang Dilaksanakan Di Ternate Menuai Pertanyaan Para Netizen

tidore
Suasana Haul Sultan Nuku di Gedung Duafa Center.

FAKTA PERS – MALUKU UTARA.

Perayaan Haul Sultan Nuku yang dilaksanakan di Ternate pada tanggal 14 November 2016 dan bertempat di Gedung Duafa Center, menyisakan banyak pertanyaan para netizen.

Seperti yang ditulis netizen Qamaruddin Muhammad Thezar pada laman Facebooknya 14 November pukul 09.02 “kami masyarakat Tidore menaikkan bendera merah putih setengah tiang sebagai bagian dari perayaan Haul Sultan Nuku. Namun sayang, kami sebagai Anak cucu Tidore tak dapat merayakan Haul “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad El Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan, Karena semua itu di laksanakan di pulau seberang bernama Ternate. Kenapa tidak di tanah kelahiran Sultan kami??? Seharusnya dengan adanya slogan “Nuku Pangge Pulang, berarti seluruh orang berdarah Tidore tuk kembali dan bersatu di tanah kelahiran ini, apakah daerah kami terlalu sepi untuk hajatan Sultan kami? Kami anak cucu Tidore takut jika suatu saat nanti makam Sultan kami akan dipindahkan juga!!! #SaveNuku #NukupanggepulangTidore,”

Sontak saja, status tersebut mendapat berbagai komentar dari para netizen. Seperti yang di komentari oleh netizen Rusli Anwar “Haul Sultan Nuku tapi acaranya di Ternate, aneh,”

“Sebenarnya acara Haul Sultan Nuku bukan di laksanakan di Ternate tapi di Tidore yang tidak melaksanakanya.. apa salahnya kalau haul Sultan Nuku. di laksanakan oleh orang Tidore yg bermukim di Ternate..jadi saya rasa Pemerintah Kota Tidore yg harus anda salahkan bukan kota Ternate..,” tulis Ratore di kolom kemoentar Qamaruddin.

Namun demikian, ada sebagaian netizen yang menanggapinya dengan santai, dan penuh canda. Seperti yang dikomentari netizen Hasnawiah R Lanandi, “Nuku pangge pulang tapi transit duluu.. heheheh” Netizen lain, Abdurahman Hasan ” Padahal Kalo Pulang Pasti Rame…Hahahaha” tulisnya.

Sementra itu, Ketua Umum Generasi Muda Nuku (Garda Nuku), Abdullah Dahlan, yang juga sebagai Ketua Panitia Haul Sultan Nuku Kepada faktapers.com via Facebook, Selasa (15/11/16) menjelaskan, Tidore sebelum Kemerdekaan Indonesia 1945, di masa Sultan Nuku Jou Barakati dan jauh ke belakang adalah negara bangsa berdaulat dengan hamparan kultural seluas wilayah kekuasaannya.

Lanjut Abdullah, “kemiripan kuat khasanah kebudayaan Tidore dalam konteks tersebut mencakup Gam Range dan beberapa lainnya. Menyempitkan basis kultural Tidore sebagai sebuah negara bangsa besar pada lingkar pulau Tidore adalah bentuk klaim kurang bijaksana dan cenderung ahistoris.”

“Bagaimana kita bisa bergerak, menjadi penggerak kesadaran dan bahkan gerakan kultural dengan cara berpikir sesempit itu. Tidore mesti menyadari dan bangkit merepresentasi keluasan berpikir seluas kejayaan masa lalu, searif dan sebijksana Kolano dan Tokoh pelopor di masa lampau,” jelasnya.

Jika tidak, lanjut Abdullah, maka Tidore semakin kehilangan daya kohesi kebudayaan di tengah euforia otonomisasi dan berbagai implikasinya, serta semakin dikucilkan.

“Lihatlah apa yang terjadi sekarang, sub-sub peradaban Tidore, seperti Papua, Raja Ampat, Seram dan Maluku umumnya, beberapa wilayah di pesisir Sulawesi jauh lebih maju meninggalkan induknya Tidore. Padahal kita induk, pusat kebudayaan dan peradaban tetapi kini jauh tertinggal sementara generasinya, warga dan pemimpinnya masih suka berdebat hal-hal yang remeh-temeh dan tak substansial sama sekali,” katanya.

Lebih lanjut, menurut Abdullah, “Perjuangan Sultan Nuku mendapat dukungan luas dari orang-orang Tobelo, Galela, Loloda, Jailolo, Ternate, Makian, Kayoa, Bacan, sampai Sulawesi, Jawa, dll. “Pengurus Besar Garda Nuku hari ini merepresentasikan generasi dari wilayah-wilayah tersebut, Untuk apa ikhtiar tersebut, saya berpandangan gerakan kultural membutuhkan ruang yang luas bagi pertumbuhan gagasan dialektis, juga membutuhkan ikon pemersatu dan Sultan Nuku dengan reputasinya dalam komunikasi lintas etnis, budaya, agama, beliau Pahlawan Nasional, juga bebas konflik dan polemik secara kultural dan politis, patut dijadikan ikon, figur sentral untuk spirit kejuangan dan peneladanan,” jelas Abdullah.

Bahkan, menurut Abdullah, hajatan Nuku Word Festival dibuat di Ternate karena Garda Nuku adalah organisasi terbuka, yang serius mendorong gerakan kultural, bukan paguyuban yang hanya merepresentasikan Tidore.

“Gagasan Agreement Persekutuan Moloku Kie Raha yang ditandatangani oleh semua kesultanan dan pemerintah daerah di Maluku Utara adalah implementasi visi Garda Nuku yang terbuka dan berorientasi mendorong kemajuan Maluku Utara, memperkuat bangsa dan negara” jelasnya.

“Jadi, Intinya bahwa Nuku memanggil kita pulang pada titik keberanian untuk gelorakan perlawanan terhadap penindasan, eksploitasi, serta tindakan dan kebijakan koruptif atau kebijakan irasional yang menghambat pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Nuku memanggil kita pulang ke garis batas yang tegas untuk membedakan antara yang “hak dan yang bathil”. Tamba Abdullah.

Terkait himbauan dari Sultan Tidore kepada masyarakat untuk menaikkan bendera setengah tiang, menurut Abdullah Dahlan, sebagai bentuk menghormati hari wafatnya Sultan Nuku Jou Barakati (14 November), “Bagi Garda Nuku adalah sebuah keladziman. Toh masyarakat itu juga adalah masyarakat adatnya kesultanan Tidore,” jelasnya.

(Sudirman Sahmil)

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments