Sabtu, Mei 8, 2021
Beranda6 Bulan Buron, Tersangka Pembunuh Adik Kandung Berhasil Ditangkap Sat Reskrim Polres...
Array

6 Bulan Buron, Tersangka Pembunuh Adik Kandung Berhasil Ditangkap Sat Reskrim Polres Tidore

 

Tersangka, Bohe saat di bawa masuk ke ruang Tahanan Polres Tidore, Jumat (30/12/16).

FAKTA PERS – TIDORE.

Setelah melakukan pengejaran dan pengintaian kurang lebih enam bulan, tersangka pembunuhan terhadap adik kandungnya sendiri, Bohe (48) warga Suku Tagutil yang berdomisili di belakang Desa Tayawi Kecamatan Oba. akhirnya ditangkap oleh Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Kepolisian Resort Tidore bersama anggota Polsek Payahe Kecamatan Oba.

Operasi penangkapan dipimpin langsung Kasat Reskrim Polres Tidore, IPTU Muhammad Hafif, S.IK.

“Setelah kurang lebih enam bulan kita pantau dan ikuti tersangka ini, namun bersangkutan melarikan diri ke Weda, Kabupaten Halmahera Tengah. Dan setelah 3 minggu ini, kita dapat informasi dari masyarakat bahwa tersangka Bohe sudah balik dari Weda, dan sekarang ada di rumah kebunnya di belakang Desa Tayawi Kecamatan Oba,” kata Kasat Reskrim,  Muhammad Hafif kepada sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Jumat (30/12/16) pagi.

Kasat Reskrim melanjutkan, setelah mendapatkan informasi tersebut, pihaknya kemudian berangkat menuju Desa Tayawi guna melakukan pemantauan serta melakukan kordinasi dengan masyarakat sekitar atas keberadaan tersangka.

“Selama tujuh hari, kami melakukan pemantauan dan berkordinasi dengan masyarakat sekitar mengenai aktivitas tersangka, ternyata yang bersangkutan aktivitasnya sudah kembali normal yaitu berkebun dan melakukan kerja lain. Kemudian, tepat pada hari kamis  29 Desember 2016 pukul 04.30 WIT kami dari Satuan Reserse Polres Tikep dan dibantu dengan anggota Polsek Payahe Kecamatan Oba kurang lebih 15 anggota masuk kedalam hutan untuk melakukan penangkapan terhadap tersangka,” jelas Kasat Reskrim.

Tambahnya, sekira pukul 07.00 malam sampai di lokasi rumah kebun tersangka, anggota menyebar dan ternyata  bersangkutan tidak di rumah kebunnya.

“Jadi, yang bersangkutan lagi buang air kecil di pinggir kali dan kebetulan ada anggota yang standbay disana. Ketemulah yang bersangkutan ini dengan anggota kita. Disitu, tersangka tersebut mau melakukan perlawanan sama anggota kita dengan memakai tombak dan parang. Pada saat itu juga, kita himbau secara baik-baik dengan pendekatan persuasif, tetapi yang bersangkutan tidak mengindahkan,” jelas Muhammad Hafif.

“Karena tidak mengindahkan himbauan tersebut, anggota kita kemudian mengeluarkan tembakan peringatan agar si pelaku membuang senjatanya. Namun, pelaku juga tidak mengindahkan. saat itu juga saya melakukan peringatan tembakan ketiga, dan bersangkutan langsung membuang parang serta tombak kemudian duduk. Anggota kita langsung mengepung dan mengambil senjatanya, sebagian anggota merangkulnya. saat merangkul si pelaku ini berusaha merebut senjata salah satu anggota dan terjadi tarik menarik hingga tanggannya sedikit tergores. Namun berhasil diantisipasi lalu tangannya kami borgol,” Tamba Muhammad Hafif.

Pelaku sendiri, menurut Muhammad Hafif akan dijerat dengan pasal 351 ayat (3)  KUHP jo pasal 338 berupa Penganiayaan yang berakibat Pembunuhan dengan kurungan penjara kurang lebih 7 Tahun penjara. “Jadi nanti dilakukan penyelidikan lebih lanjut terkait motif pembunuhannya seperti apa.” Terang Muhammad Hafif.

Pantauan Fakta Pers, tersangka pembunuhan tersebut, dibawa menyebrang lautan oleh Sat Reskrim dari Desa Loleo Kecamatan Oba Tengah dengan menggunakan speed boad ke Pelabuhan penyeberangan Indonesiana, tepatnya di belakang pasar Sarimalaha soasaio. Jumat (30/12) dan Tiba di pelabuhan sekira pukul 09.40 pagi.

Tersangka kemudian langsung dinaikan ke mobil yang sudah standbay, lalu dibawa menuju ke Polres Tidore guna dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Terlihat tersangka di dampingi oleh kakanya, Lepa dan seorang Pendeta, Ferluis Mou yang juga sebagai saksi pelapor.

Sekedar diketahui, awal terjadinya pembunuhan, antara tersangka Bohe (48)  yang tak lain adalah saudara kandung dari si korban, Take (45). Berawal dari rasa sukanya Take kepada Yulin (50) tak lain adalah istri dari kakak pertamanya Lepa (50). Menurut keterangan yang didapat dari Pendeta Ferluis, kejadian itu, bersumber dari Take yang mau merampas istrinya Lepa.

Dengan jalan satu-satunya yaitu harus membunuh Lepa. Dan tepat pada malam tanggal 8 Juni, Take datang ke rumahnya Lepa kemudian memarahi Lepa. Kebetulan saat itu Bohe kakak kedua Take juga ada di rumahnya Lepa. Menurut informasi, Bohe  saat itu sempat menegur Take agar jangan mengambil istrinya Lepa. Tetapi, Take tidak mendengarkan dan tetap marah seraya mau memotong kakanya.

Walaupun suda diingatkan kembali oleh Bohe, tapi Take tetap saja bertindak dan memotong Lepa tepat di bagian punggung. Saat itu juga Lepa langsung terjatuh dari atas rumah kebunnya dan tersungkur di pekarangan rumahnya. Sontak saja, melihat Lepa terpotong dan terjatuh, Bohe kemudian mengambil parang dan langsung menebas adiknya Take.

(ss)

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments