oleh

Menyedihkan, Keberadaan STIE PEMNAS Jadi Rebutan Pemkab Nias dan Pemkot Gunungsitoli

-Daerah-240 views
Rabu, (22/02) sekira pukul 16.30 Wib, puluhan personel Satpol PP Gunungsitoli mendatangi eks Kantor Dinas Pendidikan milik Pemkab Nias yang terletak di Jalan Karet, Kecamatan Gunungsitoli.

FAKTA PERS – KEPULAUAN NIAS.

Perseteruan terkait serah terima aset antara Pemerintah Kabupaten Nias dan Pemerintah Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, terus berlanjut dan semakin panas. Untuk kali ini, aparat Kepolisian Resort Nias terpaksa harus turun tangan.

Rabu, (22/02) sekira pukul 16.30 Wib, puluhan personel Satpol PP Gunungsitoli mendatangi eks Kantor Dinas Pendidikan milik Pemkab Nias yang terletak di Jalan Karet, Kecamatan Gunungsitoli. Namun, kedatangan mereka ini langsung dihadang belasan Satpol PP Pemkab Nias yang berjaga di lokasi. Aksi adu mulut pun tidak terelakan.

Melihat situasi yang terjadi antara pemerintah kota Gunungsitoli dan kabupaten Nias, Fanotona Waruwu Anggota DPRD Provinsi Sumatra Utara dari komisi A mengecam tindakan Walikota Gunungsitoli dan anggotanya tentang persoalan keberadaan kampus STIE PEMNAS Nias di eks Kantor Dinas Pendidikan milik Pemkab Nias yang terletak di Jalan Karet, Kecamatan Gunungsitoli.

“Saya beranggapan tindakan ini sangat berlebihan, dan seakan-akan Ir. Lakhemizaro Zebua sebagai Walikota Gunungsitoli menghalang-halangi kepentingan umum, generasi muda se-Pulau Nias yaitu mahasiswa STIE untuk menuntut ilmu,” terang Fanotona Waruwu kepada Fakta Pers, Sabtu 25/02/2017.

Di waktu yang berbeda Niatman Aperli Gea, Presiden Mahasiswa STIE Pembnas Nias periode 2016/2017  mengatakan, “Saya kesal atas tindakan Walikota Gunungsitoli, di mana yang akhir-akhir ini kegiatan akademika civitas STIE Pembnas berhenti untuk sementara karena mengklaim kantor eks Dinas Pendidikan Kabupaten Nias  seharusnya diserahkan kepada Kota Gunungsitoli, bukan di alihfungsingkan STIE Pembnas Nias,” katanya.

“Seharusnya STIE Pembnas satu-satunya kampus di Kepulauan Nias yang bisa terjangkau bagi masyarakat Kepulauan Nias, khususnya masyarakat yang tingkat perekonomian menegah kebawah, jangan disamakan kami seperti sang SP3 Kejatisu yang bisa menyekolahkan anak-anaknya keluar daerah Pulau Nias, kami adalah anak-anak Nelayan, buruh, dan Petani,” tegasnya.

Niatman Aperli Gea menambahkan, “saya kecewa dengan hasil pertemuan Bupati Nias dan Walikota di pendopo tanggal 24/02/2017 yang diberitakan oleh Warta Nias, dimana hasil kesepakatan bahwa gedung dinas pendidikan sistem pinjam pakai selama 3 tahun, dan setelah itu diserahkan kepada Kota Gunungsitoli, menurut saya itu sudah tidak bersifat membangun lagi, dan sepertinya STIE Pembnas Nias bukan milik Kepulauan Nias lagi,” katanya dengan penuh rasa kecewa.

Selanjutnya, Edward Lahagu ketua LSM-FOBSIT juga menanggapi hal tersebut.  “Saya sangat menyayangkan tindakan Pemerintah Kota Gunungsitoli yang terlalu bernafsu ingin memilik eks kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Nias, kenapa harus yang ini saja? kan di sebelahnya eks kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Nias di sana kan ada MES Provinsi Sumatra Utara dan beberapa kantor yang lain yang nota benenya masih dimiliki Pemerintah Kabupaten Nias dan Provinsi sumatra Utara,” katanya.

“Disini saya menduga bahwa Walikota Gunungsitoli menghambat dan menghalang-halangi putra-putri Pulau Nias menuntut ilmu, dan yang seharusnya Pemerintah Kota Gunungsitoli mendorong serta memberikan fasilitas, bukan menghalanginya,” pungkasnya kepada Fakta Pers.

Dari amatan Fakta Pers, keberadaan kampus STIE PEMNAS masih terobang ambing, karena belum adanya kepastian yang permanen untuk tempat dan lokasi alias masih status pinjam pakai.

(Deserman Lase)

Komentar

News Feed