Kamis, Juni 17, 2021
BerandaDua Warga Jatim Dibekuk Polisi Karena Jual Samurai Roll Palsu Seharga Rp....
Array

Dua Warga Jatim Dibekuk Polisi Karena Jual Samurai Roll Palsu Seharga Rp. 10 Triliun

FAKTA PERS – SEMARANG.

Merasa tertipu oleh pedagang pedang samurai, Sukeni bin Karto Suwito (47), warga Dusun Kalegen Kidul, Desa Dersansari, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang lapor polisi.

Sukeni membeli pedang jenis samurai roll seharga Rp. 10 triliun dari dua orang warga Jawa Timur. Namun setelah diketahui, samurai tersebut ternyata palsu dan tidak sesuai dengan yang ditunjukkan dalam video oleh pelaku.

Karena sudah menyerahkan uang Rp 200 juta sebagai tanda jadi, Sukeni melaporkan kasustersebut ke Polsek Suruh lantaran merasa ditipu.

“Korban melaporkan ke Polsek Suruh pertengahan Desember 2016 silam, namun baru sekarang ini pelaku berhasil kita tangkap,” kata Kapolres Semarang AKBP Thirdy Hadmiarso dalam acara gelar kasus di Mapolres Semarang, Selasa (18/4/2017) siang.

Kedua pelaku adalah Eko Kristiono bin Her Suwito (47), warga Desa Bandung, Kabupaten Tulungagung Jawa Timur dan Jumaliana alias Jamal bin Salamun (40), warga Dusun Gedangan, Desa Duyung, Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

“Keduanya ditangkap di rumah masing-masing oleh tim gabungan dari Polsek Suruh dan Polres Semarang,” jelas Thirdy.

Kasus penipuan jual beli samurai dengan harga fantastis ini bermula ketika korban dan kedua pelaku bertemu di sebuah tempat di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Pada saat pertemuan itu, pelaku menawarkan sebuah samurai jenis roll dengan menayamgkan video yang berisi adegan pelaku tengah memeragakan penggunaan samurai tersebut.

Di dalam video itu ditampilkan sebuah samurai roll yang awalnya hanya sekitar 20 sentimeter, bisa memanjang hingga sekitar satu meter. Selain itu, samurai tersebut sangat tajam bisa memotong paku baja dengan sekali sentuh.

Melihat tayangan video tersebut, korban tertarik untuk membeli. Maka disepakati harga samurai berwarna kuning keemasan ini seharga Rp 10 triliun, harga yang mungkin sepadan menurut korban.

“Kemudian disepakati pertemuan kembali di rumah korban. Dengan syarat membawa samurai roll tersebut,” kata Kasat Reskrim AKP Hartono yang ikut mendampingi dalam gelar tersebut.

Beberapa hari kemudian, kedua pelaku datang ke rumah korban dengan membawa kotak hitam berukir yang berisi samurai roll yang mirip di dalam video yang ditunjukkan pelaku pada pertemuan sebelumnya.

Karena sudah disepakati korban untuk membeli samurai itu, pelaku meminta uang sebesar Rp 200 juta sebagai “uang geser”. Namun samurai itu baru bisa digunakan sesuai dalam video tiga hari kemudian setelah pemilik asli pedang samurai tersebut datang ke rumah korban.

“Namun setelah waktu yang ditentukan, para pelaku tidak menepati janji. Dan, samurai tersebut tidak bisa digunakan sesuai dengan video yang diperlihatkan pelaku,” jelasnya.

Korban merasa ditipu, lalu melaporkan peristiwa yang dialaminya kepada polisi.

Salah satu pelaku, Eko Kristiono saat diperiksa di Polres Semarang mengelak dituduh menipu. Dirinya hanya sebagai perantara dari seseorang bernama Paijo, warga Kota Malang yang tak lain adalah pemilik samurai.

“Dari Rp 200 juta saya dapat Rp 25 juta, Jamal dapat Rp 25 juta, Pak Paijo dapat Rp 140 juta dan sisanya untuk operasional,” kata Eko.

Eko juga bersikukuh bahwa pedang samurai yang harganya jual tersebut adalah asli. Pedang samurai tersebut akan berfungsi jika pemilik samurai, Paijo datang ke rumah korban dan korban melunasi sisa pembayaran samurai yang telah disepakati, yakni Rp 10 triliun.

“Saya pernah membuktikan sendiri. Pedang itu tidak berfungsi karena pertemuan berikutnya dengan pemilik belum terjadi dan belum dilunasi,” kilahnya.

Sejumlah barang bukti yang diamankan dalam kasus tersebut adalah satu kotak ukir samurai, samurai roll palsu, sebuah kain bertulis huruf Jepang yang disebut sebagai sertifikat dan selembar kwitansi pembayaran bermaterai yang tertera Rp 200 juta sebagai tanda jadi.

Kedua pelaku akan dijerat dengan pasal 378 KUHP tentang tindak pidana penipuan dan diancam dengan hukuman 4 tahun penjara.

“Kami harapkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dengan berbagai modus penipuan. Jangan mudah percaya dengan sesuatu yang tidak masuk akal,” kata Kapolres. (Tri Hartanto/SM kc)

 

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments