Jumat, Mei 7, 2021
BerandaKesaksian Korban Hidup Ungkap Kekejaman PKI
Array

Kesaksian Korban Hidup Ungkap Kekejaman PKI

FAKTA PERS – JAKARTA.

Tak hanya di Indonesia, peristiwa berdarah yang didalangi kaum Komunis juga dialami oleh negara-negara lain yang tersebar di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika. Kekejaman Komunis dinilai belum ada yang menandingi dalam jumlah pembantaiannya. Ideologi Komunis jelas anti Tuhan, anti demokrasi dan HAM.

Peneliti sejarah Rusia Iosef Dyadkin menemukan angka 52,1 juta rakyat Rusia yang dibantai rezim Marxis (Komunis), lalu Anthony Lutz yang mencatat 60 juta rakyat Cina yang dihabisi pemerintahnya, berjumlah 112, 1 juta orang. Sementara, peneliti lain, James Nihan menemukan angka 95,2 juta (Religion and Society Report) untuk seluruh dunia selama Komunis berjaya.

Di Indonesia, kaum komunis melakukan banyak pembantaian di berbagai daerah. Tujuan kudeta PKI adalah untuk mengganti NKRI menjadi negara Komunis. Namun, kader-kader PKI beserta simpatisannya masih saja terus memutarbalikkan sejarah dan mengklaim bahwa mereka adalah korban pembantaian negara.

Berikut ini penuturan singkat beberapa saksi korban yang mengungkapkan betapa kejinya PKI, dilansir dari buku “Ayat-Ayat yang Disembelih” yang ditulis oleh Anab Afifi dari keluarga santri, berlatar belakang konsultan komunikasi dan Thowaf Zuharon dari keluarga santri NU, berlatar belakang jurnalis. Kedua penulis ini berhasil mewawancarai 30 saksi hidup korban keganasan PKI di berbagai daerah.

 

Kapolres Ismiadi Diseret dengan Jeep Wilis Sejauh 3 Km Hingga Tewas

“Sebelum meletus peristiwa Madiun Affair, orang-orang PKI merampok dan membakar rumah-rumah para pedagang di Kauman, Magetan. Dilanjutkan pembunuhan terhadap para aparat. Kapolres Ismiadi diseret dengan Jeep Willis sejauh tiga kilo meter hingga tewas. Setelah tentara habis, gantian polisi dihabisi. Setelah itu pejabat dan ulama serta para santri”.

(Kusman, sesepuh Magetan, narasumber peristiwa 1948)

 

Ayah saya Dikubur Hidup-hidup di Sumur

“Kyai Soelaiman Zuhdi Afandi, dikubur hidup-hidup bersama 200 orang kyai, santri dan masyarakat di sumur tua di Desa Soco”.

(Kyai Ahyul Umam, putera Kyai Soelaiman, korban peristiwa Soco 1948)

Sebanyak 200 orang Disekap di Lumbung Padi

“Ayah saya seorang veteran pejuag 1945. Bersama lebih 200 orang lainnya, terdiri dari para kiyai dan tokoh masyarakat digiring dan dimasukkan ke dalam lumbung padi tua tinggalan jaman Belanda di Desa Kaliwungu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Mereka disekap dua hari dua malam tidak diberi makan. Semua aktifitas seperti tidur dan buang air jadi satu di dalam gudang yang penuh sesak. Jerigen-jerigen bensin sudah disiapkan untuk membakar lumbung itu. Alhamdulillah ayah saya bisa lolos dan berlari sejauh 20 kilo meter untuk mencari batuan pasukan Siliwangi. Mereka selamat”.

(Fuadi, anak korban peristiwa Ngawi 1948)

 

Kyai Dimyathi Disembelih dan Rumahnya Dibakar

Saya sudah umur 16 tahun saat kejadian yang menimpa Kyai Dimyathi pada tahun 1948. Saat mengungsi Kyai ditipu oleh yang masih ada hubungan kerabat. Katanya, desa tempat tinggal kami sudah aman. Ternyata dia orang PKI dan membawa Kyai Dimyathi ke Ngrambe dan disembelih bersama seorang guru bernama Suwandi. Rumah Kyai Dimyathi dibakar.

(Siti Asiyah, anak asuh Kyai Dimyathi, peristiwa Ngawi 1948)

 

Genangan Darah Setinggi Mata Kaki

“Genangan darah ratusan korban pembantaian PKI di sebuah loji (gedung) di Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, pada September 1948, setinggi mata kaki. Mereka diberondong senapan mesin oleh tentara merah PKI”.

(Kyai Zakariya, saksi peristiwa Gorang Gareng 1948)

 

Saya Dituduh Kontra Revolusi

“Setelah saya ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan yang berhaluan komunis, saya dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan jaman sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibatnya, saya tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar. Gaji saya sebagai dosen langsung distop. LEKRA juga merancang pementasan seni Ludruk yang sangat menghina Islam seperti:”Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan Allah)”, “Sunate Malaikat Jibril (Disunatnya Malaikat Jibril)”.

(Taufiq Ismail, Sastrawan dan budayawan senior. Korban dan saksi peristiwa 1963-1965)
Buya Hamka Disiksa Setiap Hari

“Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara di jaman Presiden Soekarno. Mereka dipenjara atas tuduhan tidak jelas. Hamka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan yaitu berencana membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama. Hamka dan para ulama difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Setiap hari Buya Hamka disiksa dan diancam akan disetrum kemaluannya”.

(Kyai Cholil Ridwan, murid Buya Hamka, saksi peristiwa 1964-1966)
Tubuh Ayah Saya Hanya Bisa Dipunguti dan Dimasukkan Kaleng

“Ayah saya diseret ke sawah sambil dipukuli beramai-ramai. Setelah saya cari ke mana-mana tidak ketemu ternyata jasadnya terbuang di sawah. Tubuh bapak saya tidak berbentuk lagi, hancur habis terbakar dan dimakan anjing. Potongan tubuhnya hanya bisa dipungut satu persatu dan dimasukkan kaleng.”

(Isra’, Surabaya, saksi dan anak korban peristiwa 1965)
Saya Selamat tapi Empat Sahabat Saya Disiksa hingga Tewas

“Tetangga yang sering saya bantu itu, ternyata suaminya pimpinan PKI. Saya mau disembelih jam satu malam. Alhamdulillah selamat. Tapi anak perempuan pertama saya meninggal setelah malam itu saya menyelematkan diri melewati sungai. Empat sahabat saya sesama aktifis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga meninggal”.

(Moch Amir, SH, Surakarta, korban peristiwa 1965)
Ternyata Saya Akan Dibunuh oleh Tetangga dan Teman Baik Saya

Setelah peristiwa 1965 mereda, saya diberitahu ternyata nama saya masuk daftar calon korban yang akan dibunuh PKI. Saya sudah kuliah dan aktif di PII saat itu. Tetangga persis di sebelah rumah saya dan teman yang saya kenal baik itu, ternyata PKI. Saat digeledah di rumahnya ternama nama-nama orang-orang yang rencananya akan dibunuh PKI.

(Zainudin, Kediri, saksi peristiwa 1960-1965)
(AF)
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments