oleh

Wilayah Adat Beda Dengan Hukum, Namun Saling Menghormati

-Daerah-342 views

Oleh: Drs.H. Zainul Armyn Lantong.

Dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini, opini yang banyak berkembang di wilayah Bolaang Mongondow umumnya adalah persoalan PT. Conch, dimana Bupati Yasti S. Mokoagow yang kala itu baru dilantik beberapa hari sebagai Bupati Bolmong memimpin secara langsung penertiban PT. Conch yang secara kebetulan berada di tempat strategis dan terdepan sebagai sebuah pemandangan yang mempertontonkan sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bolmong Raya.

Terlepas dari adanya delik hukum yang saat ini sedang berjalan, sikap Bupati ketika itu sebenarnya adalah akumulasi dari berbagai kekecewaan dan amarah masyarakat adat Bolmong Raya terhadap sikap PT. Conch yang seakan menantang siapapun dan merasa besar dan berkuasa. Bertahun-tahun masyarakat adat Bolmong Raya Hilir mudik melewati area perusahaan tersebut dengan perasaan nyesak bagaikan melewati area asing bagi dirinya, sikap dan tata karma PT. Conch yang diwakili manajemen yang ada di Lolak juga tidak mencerminkan aura yang membuat masyarakat Bolmong merasa nyaman.

Akhirnya terjadilah peristiwa yang oleh kacamata hukum adalah pidana tetapi dalam kacamata masyarakat adat Bolmong Raya adalah sebuah kebanggaan dan marwah harga diri masyarakat Bolmong Raya.

“Kita jangan lagi bertanya kenapa tiba-tiba kita diseruduk banteng, tetapi lihatlah diri kita apakah kita sudah berdiri ditempat yang tepat”, itulah sepatah ungkapan penuh makna dari seorang pejuang India Mahatma Gandhi. Saat ini pertanyaan yang harus kita kembangkan bukan lagi kenapa terjadi pengrusakan terhadap PT.Conch, tetapi yang harus banyak kita pahami adalah kenapa sampai pengrusakan itu terjadi padahal dalam kacamata hukum itu dianggap pidana. Dalam dunia globalisasi yang serba tak berdinding saat ini seharusnya kita memandang sebuah persoalan bukan pada soal yang dipersoalkan itu tetapi harus mampu masuk kedalam menembus batas-batas yang tidak Nampak.

Sebagai negara hukum adanya penetapan tersangka kepada Bupati Bolmong oleh aparat hukum saat ini harus kita hormati, tetapi berbicara dari tatanan adat Bolaang Mongondow hal itu sangat menyakitkan, karena Bupati ketika melakukan tindakan dan kebijakan apapaun apalagi terhadap pelanggaran sebuah perusahaan yang sengaja di pertontonkan diepan public, adalah sebuah fardhu kifayah dalam kacamat Agama.

Sudah lama masyarakat Bolmong ingin sekali memberikan shock terapi kepada PT. Conch, tetapi semua serba salah dan tidak tahu memulai dari mana, dan disaat kebingungan dan keputusasaan hampir memuncak yang dapat berakibat lebih fatal, seorang Bupati turun dan memberikan rasa kepercayaan diri masyarakat bahwa mereka tidak sendiri, bahwa pemimpin di Bolmong masih ada, dan hal itu telah menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat yang sekian lama hanya dipendam di dalam hati.

Manajemen PT. Conch sedari awal, sudah merasakan bahwa kehadirannya di tanah Totabuan membawa segunung harapan akan kebangkitan ekonomi masyarakat Bolmong, sehingga hal itu pula yang membuat perasaan jumawa alias pandang enteng terhadap keluhan berbagai pihak terkait berbagai perizinan yang harus dilengkapi.

PT.Conch sepertinya menaruh sedikit kesombongan bahwa tidak mungkin eksistensinya dengan segudang multi player efek akan dimusuhi apalagi ditutup baik oleh masyarakat apalagi pemerintah daerah, mereka berpikir bahwa ranah menutup ada di tangan Gubernur dan bukan di tangan Bupati, sehingga berbagai keluhan pemerintah dan masyarakat Bolmong sejak awal dianggap angin lalu.

Oleh karena itu, keberanian Bogani Inde Dow, Bupati Bolaang Mongondow Dra.Hj. Yasti S.Mokoagow untuk memberikan efek kejut terhadap PT. Conch dengan memberikan shock terapy adalah sebuah kewajaran yang dapat dimaklumi minimal dari sisi adat dan budaya masyarakat Bolaang Mongondow. Terlepas ada delik hukum yang menyebabkan anak buahnya berurusan dengan pihak berwajib, bahkan hingga dirinya sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun itulah sebuah resiko yang memang harus dipikul oleh seorang pemimpin yang mengutamakan rakyatnya ketimbang embel-embel lainya.

Dalam setiap perjuangan besar tentu ada harga mahal yang harus dibayar dan harus ada yang berkorban. Sebagai Bupati dengan segudang pengalaman, tentu beliau sudah berhitung sebelum bertindak, bahwa hanya dengan cara kasar seperti itulah semua pihak sadar bahwa mereka bukanlah perusahaan yang seenaknya menabrak aturan sekaligus mengingatkan pemerintah Provinsi bahwa orang Bolmong bukan lagi orang Bolmong 30 atau 40 tahun lalu yang setiap saat membebek, dianggap bodoh dan takut mengekspresikan kebenaran.

Inilah saatnya lewat Bupati Bolmong seakan masyarakat mengumandangkan suara kepada semua pihak bahwa kami masyarakat Bolmong bisa berdiri dan sejajar dengan masyarakat Sulut lainnya, sekaligus sinyal kuat bahwa BMR sudah layak mandiri menjadi sebuah provinsi.

Memang sejak awal kehadirannya PT. Conch seperti melupakan fakta dan data bahwa tanah Bolaang Mongondow adalah tanah adat yang dikenal tanah bertuah tanah Totabuan (tanah keramat), dimana siapapun yang akan menginjakan kaki dan mencoba hidup atau mencari kehidupan didalamnya, maka sangat terikat dan melekat kuat penghormatan dan penghargaan terhadap apa yang Nampak dan tidak Nampak dimana tanah itu dipijak.

Seharusnya perusahaan sekelas PT. Conch terlebih dahulu melakukan suatu kajian komprehensif tidak hanya terkait regulasi yang sudah baku dalam investasi pertambangan tetapi juga terkait alam dan lingkungan sekitar perusahaan.

Kini semua mata terbuka, bukan saja PT. Conch tetapi juga pemerintah provinsi bahkan pusat terlebih masyarakat Bolaang Mongondow Raya, bahwa sikap dan budaya orang Bolmong yang senantiasa dikemas dalam motto daerah Mototompiaan, Mototabian bo Mototanoban yang santun, lemah lembut, mengingatkan hanya dengan senyuman atau bisikan, ternyata ada saatnya boleh berteriak bahkan jika lebih dari itupun jika itu diperlukan.

Budaya orang Bolmong yang dilekatkan selama ini; pemalu, pemaaf, pendiam dan serba permisif kini sudah diwakilkan melalui sikap seorang pemimpin bernama Yasti S.Mokoagow. Rasulullah pernah bersabda “jika kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan, tanganmu, jika tidak bisa dengan lisanmu dan jika tidak bisa dengan hatimu, walau itu selemah-lemahnya iman”.

Memperingatkan lewat hati (doa) atau bisikan ringan sudah, melalui lisan (demo, surat kabar, medsos) sudah dilakukan pula, sehingga langkah Bupati menggunakan tangan (kekuasaan) adalah sebuah pilihan akhir yang tepat disaat ini untuk mengembalikan marwah (harga diri) masyarakat Bolaang Mongondow kedepan. Dan ini akan menjadi signal terang kepada siapapun yang ingin berinvestasi di bumi Totabuan, bahwa inilah kami masyarakat Bolmong, yang dengan senang hati menerima siapapun datang di tanah Totabuan tetapi harus dingat hargai kami, hormati kami karena jika diabaikan, jangankan berjuang dengan keringat, dengan air mata bahkan darah pun kami siap. Selamat Ibu Yasti, sikap anda adalah sikap sebagian besar masyarakat adat Bolmong.

Dalam tatanan adat Bolmong, ketika perdamaian sudah terjadi antara dua belah pihak maka sejatinya proses hukum harus dikesampingkan untuk meniadakan perasaan dalam diri yang mungkin masih terganjal, oleh karena itu hendaknya pihak PT. Conch jika masih ingin ada di wilayah adat Bolmong Raya maka jangan hanya berdamai diatas meja tetapi hendaklah berdamai dengan seluruh masyarakat adat Bolmong Raya dengan meniadakan persoalan hukum karena apapun persoalannya harus diingat bahwa PT. Conch saat ini ada di wilayah adat Bolmong Raya, jika perasaan masyarakatnya terluka karena adanya proses yang berkelanjutan terhadap kasus ini maka sudah dipastikan akan berdampak tidak baik terhadap keharmonisan kedepan yang tentunya akan merugikan semua pihak.

Penulis adalah Ketua Aliansi Masyarakat Adat Bolaang Mogondow dan Kepala Pusat Kajian Adat Budaya di IAI Azmi Kotamobagu.

Komentar

News Feed