Kamis, Juli 29, 2021
BerandaKPA dan PA Peringati MoU Helsinki yang Ke-XII
Array

KPA dan PA Peringati MoU Helsinki yang Ke-XII

FAKTA PERS – LHOKSUKON.

Mantan Kombatan GAM atau Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Partai Aceh (PA) kembali memperingati Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki ke-12 yang jatuh pada 15 Agustus Paska Perundingan Damai Antara Pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada Tahun 2005 silam.

Acara peringatan tersebut berlangsung, Selasa (15/8) di Kantor Komite Peralihan Aceh dan Partai Aceh (KPA-PA) Wilayah Pasee, Jalan Medan-Banda Aceh, Geudong, Samudera, Aceh Utara.

Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pasee Tgk. Zulkarnaini Hamzah dalam sambutannya mengatakan, “tanggal 15 Agustus menjadi momen bersejarah lahirnya perdamaian Aceh dan berakhirnya konflik bersenjata antara GAM dan RI.”

Karenanya merupakan hari perdamaian bagi bangsa Aceh disaksikan dunia untuk satu tujuan dalam bingkai perdamaian NKRI. “Ini kita peringati setiap tahun tepat tanggal 15 Agustus, dan menjadi momentum sakral perdamaian di Bumi Serambi Mekkah,” ujar Zulkarnaini.

Menurutnya, angka 12 adalah angka rawan dan kita harus hati-hati. Sudah cukup Aceh dilanda konflik berkepanjangan mulai dari penjajahan Belanda dan konflik antara RI-GAM. Maka dari itu, kita minta kedepan Aceh aman, jangan ribut-ribut lagi sesuai yang kita harapkan.

“Alhamdulillah hari ini kita sudah berdamai. Ia berharap supaya perdamaian ini utuh dan mari kita isi untuk pembangunan segala bidang,” kata Tgk Ni.

Dirinya mengkritik sikap anggota DPRK yang notabene berasal dari Partai Lokal partai Aceh banyak yang tidak hadir dalam acara tersebut. Sebaliknya mengapresiasi sikap masyarakat yang ikut menyemarakkan acara peringatan tersebut dengan zikir dan doa.

“Kita di sini untuk menperingati dan menghormati jasa para pahlawan Aceh yang telah syuhada, tapi apa yang kita lihat sekarang ini anggota DPRA malah tidak hadir dengan banyak alasan. Padahal undangan banyak kita sebar, tapi yang hadir hanya beberapa orang saja,” bebernya.

Kita menghimbau pemerintah Aceh dan DPRA agar mau berbuat dan melaksanakan implementasi MoU Helsinki, jangan hanya bilang saja karena tidak akan siap. Maka itu, DPRA harus berkomitmen untuk memperjuangkannya,” tegas Tgk Ni.

Sementara itu, Anggota DPD-RI Fachrul Razi MIP, dari partai Aceh mengatakan, Wilayah Pasee (Kabupaten Aceh Utara) adalah Benteng Partai Aceh, karena itu harus dipertahankan. “Benteng PA ada di Pase, Pidie Jaya tumbang, Bireun tumbang dan lainnya tumbang. Jika Pase tumbang, maka hancurlah semua. Perjuangan Aceh masih panjang, dalam hal ini jika saya di DPD-RI tidak mampu memperjuangkannya maka saya siap mundur,” sebutnya.

“Mari kita satukan misi untuk menuntut MoU Helsinki, bukan UUPA karena UUPA itu adalah produk RI. Jika pemerintah pusat tidak mau mengimplementasikan MoU Helsinki maka kita harus melapor ke CMI,” imbuhnya.

Selain diisi zikir dan doa, acara juga diselingi pmbacaan petisi Aneuk Syuhada oleh LSM Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) yang dipimpin oleh Bukhari SE. Meminta pertanggungjawaban dunia internasional melalui CMI untuk mengevaluasi proses perdamaian Aceh. Mendesak Pemerintah RI untuk menyelesaikan butir-butir MoU Helsinki sesegera mungkin. “Kami juga mendesak kepada parlemen Aceh (DPRA) dan Pemerintah Aceh (Gubernur) untuk mengembalikan UUPA sesuai dengan amanah MoU Helsinki,” tuntutnya.

Kepada semua generasi muda dan aneuk syuhada Aceh untuk mempersiapkan diri menuju diplomasi Aceh. Menyerukan kepada seluruh rakyat Aceh untuk bersatu dalam meujudkan dan mengawal MoU Helsinki.

Meminta kepada Wali Nanggroe Aceh untuk menjadi sosok pemersatu bangsa Aceh menuju Aceh berkeadilan dan bermartabat.

Sejumlah Pimpinan Daerah  dari unsur Partai Aceh Seperti Bupati dan Walikota beserta Wakil turut hadir dalam acara tersebut. (Mukhlis/Jef)

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments