Minggu, Juli 25, 2021
BerandaTak Miliki Dokumen, Puluhan Kubik Kayu Olahan Oknum PNS Halteng Ditahan Polisi
Array

Tak Miliki Dokumen, Puluhan Kubik Kayu Olahan Oknum PNS Halteng Ditahan Polisi

FAKTA PERS – HALMAHERA TENGAH.

Penyidik Polres Halteng kembali menahan satu unit dumtruk milik salah satu PNS asal Halteng yang berisi kayu olahan sebanyak 10 kubik baru-baru ini. Dumtruk tersebut berisi puluhan kayu olahan tanpa mengantongi dokumen resmi dari dinas terkait sehingga sampai saat ini dumtruk dan puluhan kubik kayu olahan masih di tahan di Polres Halteng.

Hal ini di ungkapkan Kasat Reskrim Polres Halteng, AKP Bahrun kepada Fakta Pers Rabu, (30/8/17) kemarin diruang kerjanya. Menurutnya, kayu yang kami tahan saat ini karena tidak mengantongi dokumen resmi. “Mustakdir masih melengkapi dokumennya sehingga kami menunggu sampai sore katanya akan di antar,” jelasnya.

Terpisah sejumlah masyarakat di Wairoro Indah Kecamatan Weda Selatan juga mengaku bahwa Mustakdir yang juga seorang PNS ini sudah sejak lama di biarkan oleh pihak kepolisian dan Dinas Kehutanan. Padahal, yang bersangkutan tidak mengantongi izin sah, lihat saja pada cara operasionalnya kayu olahan yang di peroleh Mustakdir sumbernya tidak pada lokasi yang di tetapkan sebagai hutan hak, melainkan semua hutan di dua Kabupaten yakni Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan itu di operasionalkan oleh puluhan anak kerjanya Mustakdir, sehingga ini yang di namakan pembalakan liar. Sebab sejauh ini Mustakdir belum memiliki mesin potong berupa somel yang di syaratkan oleh izin industry,” beber warga setempat yang enggan namanya di publikasikan.

Ia juga mengaku bahwa kegiatan pembalakan liar yang di lakukan Mustakdir dan anak buah nya di lapangan yakni di hutan sudah sangat meresahkan masyarakat. Karena selain gersang hutan tersebut tidak pernah di tanami kembali sehingga berdampak pada masyarakat. Lihat saja desa Wairoro Indah Kecamatan Weda Selatan kini sudah dilanda banjir. Padahal, dulu tidak pernah mengalami banjir,” akunya.

Pengakuan warga bahwa sudah ribuan kubik kayu yang dijual keluar daerah, dan hutan telah gersang akibat ulah anak buah Mustakdir seorang PNS itu,” kesalnya.

Warga itupun mengaku bahwa sudah seminggu puluhan kubik kayu olahan milik Mustakdir itu telah di tangkap oleh polisi, namun informasinya polisi kembali melepaskan karena Mustakdir memberikan imbalan uang kepada petugas polisi yang menjanjikan sehingga dumtruk itu di loloskan. ” Memang polisi bukanlah malaikat, sehingga ketika dokumen yang di minta disiapkan Mustakdir jika berubah warna menjadi kertas bernomor maka itulah dokumen yang di idam-idamkan petugas Polres Halteng selama ini, dan ini yang sering terjadi di lapangan,” terangnya.

Jadi intinya, Dinas Kehutanan dan petugas menyuburkan kegiatan pembalakan liar demi kepentingan kelompok. Padahal, operasi pemotongan ribuan pohon kayu yang dilakukan anak buah Mustakdir ini bukan dalam upaya penyelamatan biosfer dari pembalak liar yang kian merajalela di kawasan hutan tersebut. Padahal, Cagar Biosfer ini sangat penting harus diselamatkan. Bukan hanya untuk warga Wairoro tapi seluruh masyarakat. Saat ini lokasi itu sudah menjadi perhatian masyarakat,” tuturnya.

Warga itupun menerangkan, Cagar Biosfer terdiri dari kawasan inti, penyanggah dan transisi. Dan pembalak liar sudah merambah ke kawasan inti serta menebang kayu-kayu alam yang sangat penting bagi ekosistem,” tutupnya. (Ode)

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments