Kamis, Mei 13, 2021
Berandae-KTP Lama Cetak, Dukcapil Tidore Dikeluhkan Publik
Array

e-KTP Lama Cetak, Dukcapil Tidore Dikeluhkan Publik

FAKTA PERS – TIDORE KEPULAUAN.

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kota Tidore Kepulauan kembali di keluhkan publik. Pasalnya, sejumlah dokumen yang di urus oleh masyarakat terutama e-KTP disinyalir lambat dalam pembuatannya. Sebagaimana dikeluhkan oleh Unii (nama semaran) lewat unggahan statusnya di Facebook (FB), Rabu (11/10/17) pagi.

Dalam status itu, dirinya mengatakan, sudah sekitar tiga kali datang ke Kantor Dukcapil Tidore untuk mengambil e-KTPnya, namun oleh pihak Dukcapil “data baru di kirim.” Ironisnya, alasan yang sama juga didapatkan olehnya (Unii-Red) selama tiga kali berkunjung ke Dukcapil tersebut.

“Bikin e-KTP dari bulan Agustus lalu sampai bulan Oktober ini belum juga di cetak. Sudah tiga kali datang cek (2 kali di bulan September dan 1 kali di bulan Oktober) yang saya dapat hanya alasan yang sama data baru di kirim,” cetusnya.

Dirinya kemudian mempertanyakan pihak Dukcapil atas alasan tersebut, “Memangnya sudah tidak ada alasan yang syar’i sadikikah?,” kata Unii. Berikut status yang ia tulis pada beranda dinding FBnya, “Bikin e-KTP dr bln agustus  lalu smpee skrg blm dii cetak… sdh 3x dtng cek (2x bln september + 1x bln oktober), yg sy dpt hanya ALASAN yg sama *DATA BARU DI KIRIM*…. ANEH !!! MEMANGNYA SU TRA ADA ALASAN YG SYAR’I SDKIT KH???
DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KOTA TIDORE KEPULAUAN TERBAIK ????,” tulis Unii.

Untuk menelusuri kebenaran akan keluhan masyarakat terhadap pelayanan pembuatan e-KTP di Dukcapil Kota Tidore Kepulauan, Fakta Pers beserta sejumlah media liputan Tidore kemudian mencoba melakukan konfirmasi ke pihak Dukcapil Tidore.

Namun, sebelum bertemu dengan pihak Dukcapil, Fakta Pers melakukan komunikasi dengan beberapa masyarakat yang melakukan pengurusan dokumen kependudukan mereka. Salah satu yang ditemui adalah Rusman A. Salam warga kelurahan Mafututu Kecamatan Tidore Timur.

Kepada awak media, Rabu (11/10/17) pagi, dirinya menuturkan, pengurusan e-KTP di Dukcapil kota Tidore Kepulauan lumayan ribet padahal soal e-KTP banyak yang membutuhkan, “Lumayan ribet pengurusan e-KTP perekaman sekitar dua bulan lalu hingga sekarang belum di cetak dan alasannya keterlambatan blangko,” ungkapnya.

Dirinya juga mengatakan, sangat disayangkan bilamana ada yang bertempat tinggal jauh seperti di daratan Halmaherah kemudian melakukan pengurusan e-KTP dan  didapati kendalanya seperti ini, maka bisa menghabiskan uang ratusan ribuh karena biaya transportasi.

“Harusnya dengan pelayanan Online seperti ini tidak membuat ribet. Kenapa juga Pemerintah melakukan pelayanan dengan sistem Online kalaubukan untuk memangkas kerja Birokrasi. Dimana yang tadinya pengurusannya agak lama dengan adanya sistem online seperti ini, maka pengurusan menjadi lebih cepat. Namun ini aneh semuanya sama saja,” kesal Rusman.

Namun demikian, dirinya tidak bisa berbuat banyak, “lagi-lagi kami hanya bisa pasrah karena kami membutuhkan mereka,” katanya dengan lemas.

Hal yang sama juga disampaikan salah satu warga asal Bobo kecamatan Tidore Utara. Dimana, dirinya mengatakan bahwa sangat membutuhkan e-KTP saat ini, namun dirinya baru melakukan perekaman sehingga e-KTP masih dalam proses. Sementara ditanya soal surat keterangan pemberitahuan tentang telah melakukan perekaman e-KTP dari Dukcapil untuk digunakan sebagai pengganti sementara e-KTP, dirinya terlihat binggung dan hanya memperlihatkan kepada awak media selembaran bukti kekurangan berkas pembuatan e-KTP.

Sekertaris Dukcapil Kota Tidore Kepulauan, Drs. Mahdi Yunus

Sementara itu, Sekertaris Dukcapil Kota Tidore Kepulauan, Drs. Mahdi Yunus kepada awak media mengatakan, soal keterlambatan penerbitan e-KTP di karenakan adanya perubahan versi terbaru aplikasi e-KTP. Sehingga dalam hal pembacaan data terjadi sedikit perubahan mulai dari Pusat hingga ke Daerah.

“Jadi ada peningkatan aplikasi ke versi baru, sehingga terjadi perubahan data dari pusat hingga daerah. Apalagi kemarin yang kebanyakan perekaman pada akhir September itu terbentur dengan perubahan sistem aplikasi tersebut. Ini juga bukan hanya terjadi di Kota Tidore Kepulauan, melainkan di seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia,” jelasnya.

Mahdi juga mengatakan, ketika data daerah yang masuk ke Pusat tidak semuanya masuk karena aplikasi di pusat hanya satu. Oleh karena itu, setiap Kabupaten/Kota tetap melakuakan on time terhadap servernya masing-masing.

“Setiap Kabupaten/Kota tidak bisa mematikan servernya dia harus hidup terus 2×24 jam. Nanti data masuk tergantung hasil rekaman yang di kirim ke pusat. Karena dia nanti terbaca data siapa yang masuk duluan,” jelas Mahdi.

Selain persolaan itu, lanjut Mahdi, lemahnya ketersedian daya tampung server yang ada di Dukcapil Tidore, sehingga tidak mampu menampung aplikasi yang ada. “Server yang ada disini juga daya tampungnya kecil, apalagi sekarang sudah ada aplikasi versi terbaru. Tentunya membutuhkan kapasitas  ruang pada sistem untuk penampungan data perekaman yang lebih besar lagi,” katanya.

Sementara itu, soal surat keterangan pengganti sementara e-KTP, dirinya mengatakan, kalu surat tersebut tetap disediakan bagi para perekam e-KTP bilama mana membutuhkannya. “Petugas kami di bagian perekaman tetap bertanya kepada mereka yang melakukan rekaman. Kalu ada yang membutuhkan maka itu akan dibuatkan yang penting bersangkutan menyediakan fotonya,” jelas Mahdi. (ss)

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments