Jumat, April 16, 2021
BerandaGema HPMT dan Masyarakat Menolak Keras Pariwisata dan 28 Investasi di Halteng
Array

Gema HPMT dan Masyarakat Menolak Keras Pariwisata dan 28 Investasi di Halteng

FAKTA PERS – HALMAHERA TENGAH.

Sebagai generasi muda yang mencintai negeri kini Himpunan Mahasiswa Pelajar Tepeleo (HMPT) Senin, (23/10/2017) menggelar aksi protes di tiga titik yakni Kantor Pariwisata, Kantor Bupati dan Kantor DPRD Halmaherah Tengah (Halteng), Provinsi Maluku Utara. Aksi tersebut dalam rangka penolakan pembangunan pariwisata batu kapur di dua pulau yakni pulau Sayafi dan Liwo yang letaknya di Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah.

Puluhan Mahasiswa yang tergabung dari  Universitas Muhammadiyah dan Unkhair ini mendatangi tiga kantor hanya meminta kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Tengah menolak dengan keras dua pulau tersebut di jadikan investasi pariwisata batu kapur dan menurut mereka pariwisata batu kapur bukanlah solusi sehingga mengharamkan sekaligus menolak tambang batu kapur di desa Palo.

Amatan Fakta Pers Media ada beberapa spanduk yang tertulis cabut izin pariwisata, pariwisata batu kapur bukan solusi, haram pariwisata di pulau sayafi liwo, tolak tambang batu kapur di desa Palo. Selain itu Pernyataan sikap dalam empat poin tersebut menolak keras pulau Sayafi dan Liwo di jadikan pariwisata.

1). Generasi muda HPMT menolak keras pulau sayafi dan liwo di jadikan pariwisata,
2). Mendesak bupati agar surat penandatanganan pariwisata di cabut kembali,
3). Mendesak kepada kadis pariwisata syatif nurdin agat secepatnya membatalkan kembali SK yang sudah di keluarkan,
4). Mendesak DPRD Halteng agar persetujuan penandatanganan peresmian pariwisata di pulau sayafi dan liwo dibatalkan kembali.

Berdasarkan empat poin diatas maka kami selaku generasi muda HPMT tidak menerima kesepakatan yang telah di putuskan oleh Bupati bersama Kadispar dan oknum-oknum lainnya karena menurut kami penandatanganan ini secara illegal karena tidak ada sosialisasi terhadap masyarakat yang ada di Kecamatan Patani Utara di desa Tepeleo.

Alternatifnya adalah:
1). Pemda Halteng seharusnya memperhatikan komoditi unggulan yang ada di pulau sayafi dan liwo,
2). Pemda Halteng seharusnya memperhatikan infrastruktur jalan yang menghubungkan Kabupaten Halmahera Tengah dengan Kabupaten lain agar meningkatkan taraf ekonomi secara maksimal.

Setelah Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 32 tahun 2011 tentang masterplan percepatan dan perluasan pembangunan Indonesia (MP3I) dengan konsepsi Indonesia akan dijadikan lumbung ekonomi internasional sampai pada tahun 2025 yang akan mendatang salah satu juga program pariwisata di kanca internasional dengan alasan program tersebut akan meningkatkan ekonomi Indonesia yang lebih sejahtera dan berkeadilan. Akan tetapi ketika program ini dikeluarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan di deklarasikan langsung dihadapan seluruh masyarakat Indonesia secara nyata maupun lewat media masa, dan ketika program MP3I sudah di jalankan dan di reamikan secara kontitusi harapan rakyat Indonesia ekonomi bagsa ini akan berjalan dengan simultan dan maju untuk kedepan yang lebih baik dan melayani rakyat yang ada di seluruh Indonesia. Akan tetapi hari ini Indonesia masih di dalam ambang kehancuran dan tidak bisa dikendalikan karena memang ini ula dari pada program MP3I. Karena menuru kami.

Aksi damai penolakan wisata di Kecamatan Patani Utara ini berlangsung selama 2 jam, karena menurut mereka Pemda Halteng tidak melakukan sosialisasi terhadap masyarakat setempat, malah mereka menggelar rapat dengan sejumlah Kepala Desa sekecamatan untuk merespon pariwisata tersebut.

Menurut mereka masih banyak daerah yang memiliki potensi yang lebih untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata, Nusliko saja belum di kembangkan sampai saat ini.

Puluhan masa aksi di antaranya Fauji Yusup bertindak sebagai Korlap, Laode Hasrul sebagai Korlap bayangan, Risal Anas sebagai moderator, Faisal Ikbal, Harjun Baharudin dan Siswanto Majid sebagai publikasi, Randi Bakri dan Ajiban Adam sebagai Spionase, Sudarmin Gafar, Rifki Hamid, Munawasya Musa dan Hartina Dahlan, Nurlitis Indrawati Idrus dan Hany Malforo bertindak sebagai dokumentasi.

(Ode)

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments