Kamis, Februari 25, 2021
Beranda "Gara-gara" Nelayan, Fahri-Susi Perang Cuitan
Array

“Gara-gara” Nelayan, Fahri-Susi Perang Cuitan

JAKARTA, FAKTAPERS – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlibat perdebatan sengit dengan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah di media sosial Twitter. Perdebatan ini bermula ketika Fahri me-retweet berita Kantor Berita Antara berjudul ‘Menteri Susi Tegaskan Pemberantasan Pencurian Ikan Baru Langkah Awal’.

“Dikasi waktu 5 tahun dijadikan langkah awal…seharusnya 5 tahun dipakai selesaikan kerjaan. Baru bertanggungjawab atas amanah namanya…kalau 5 tahun lagi kan belum tentu terpilih…” cuit Fahri pada Rabu malam (11/7/2018).

Komentar miring Fahri tersebut keesokan paginya, Kamis (12/7/2018), langsung dibalas oleh Susi. Melalui akun Twitternya, @susipudjiastuti, Susi menulis, “Sebaiknya baca seluruh statemen saya. Jangan dipotong separuh separuh. Akhirnya seolah seperti yg anda pikir. Naif !!!”

Belum sampai sejam, twit balasan Susi ini sudah mendapat lebih dari 150 komentar dan diretweet lebih dari 200 kali.

Tapi belum sampai sejam pula setelah ‘disemprot’ Susi, Fahri pun membalas. “Saya komentari setelah baca bu. Kalau saya komentari lebih jauh salahnya tambah banyak nanti…??”

Tidak puas ngomel sampai di situ, beberapa jam kemudian Fahri kembali memposting cuitannya. Kali ini dia menyoroti gaya Susi yang mirip Jenggo. Django (Fahri menulisnya Jenggo) adalah karakter dalam film koboi Italia yang dibuat tahun 1966. Karakter Django yang diperankan oleh Franco Nero ini sempat populer di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di tanah air, Django bahkan sempat mendapat tambahan nama ‘Django Peti Mati’ karena dalam film tersebut, dia selalu menyeret peti mati berisi senjata api. Peti mati itu pun bisa dipakai untuk menyimpan mayat musuhnya.

“Ditambah lagi, gaya jenggo ibu Susi memang langka (saya dalam banyak hal setuju). Tetapi, kita tetap harus benar, tidak melanggar hukum dan terbuka menerima kritik dan saran. Saya ingin menyampaikan masukan kepada ibu di luar puja puji asal ibu senang,” lanjutnya.

Fahri pun terus menyerang Susi dengan beragam komentar miring. Dia menyebut bahwa kesalahan pertama yang dilakukan Menteri Susi adalah membuat nelayan sengsara. Susi dinilai gagal dalam menjalankan tugas menyejahterakan kehidupan para nelayan.

“Padahal, tugas ibu (Susi) nomor satu di posisi itu bukan yang lainnya, tetapi bikin nelayan hidup bahagia. Ibu boleh punya alasan konservasi, dll sampai ibu dipuji dunia. Seperti sudah ibu nikmati. Hebatlah,” cuit Fahri.

Fahri juga menyoroti tugas Susi dalam Satgas Pemberantasan Illegal Fishing. “Tugas ibu bukan menegakkan hukum. Saya sudah baca UU yang sekarang ibu mau ubah. Memang nggak ada dan tidak boleh. Konsep poros maritim itu bukan menyulap menteri kelautan menjadi penegak hukum. Kenapa ibu mengambil pekerjaan polisi dan tentara?” tanya Fahri.

Kebijakan Susi untuk menenggelamkan kapal pencuri ikan juga jadi sorotan

“Teori ibu tentang bertambahnya jumlah ikan setelah pertunjukan ‘ngebom’ itu bohong. Nggak usah hitung kepala ikan di laut yang luasnya 75% bumi dan 75% nusantara. Hitung jumlah kepala orang miskin saja kita nggak sanggup. Poros maritim Jokowi jadi nggak jelas. Di laut kita binasa,” ujarnya.

Fahri lantas bercerita tentang anak muda dari kampungnya, seorang aktivis nelayan bernama Rusdianto.

“Kami orang Sumbawa tinggal di pesisir jadi kami tahu keadaan nelayan. Rusdianto mengkritik ibu Susi yang merugikan. Lalu dia menjadi tersangka pencemaran nama baik. Itu tidak baik. Dia nelayan,” katanya.

Kata Fahri, saat ini nelayan tambah susah, hidup makin sengsara, melaut lebih susah. “Lalu dengan segenap popularitas itu, ibu berjuang untuk siapa? Rusdi bukan siapa-siapa bu, dia nelayan kecil,” tanya Fahri.

Sampai berita ini diturunkan, Susi belum membalas lagi cuitan Fahri. fp03

Most Popular

Recent Comments