Senin, Maret 8, 2021
Beranda Pilpres Mencari Pemimpin Ideal
Array

Pilpres Mencari Pemimpin Ideal

JAKARTA, faktapers.id – Pendaftaran capres dan cawapres akan berlangsung dari tanggal 4-10 Agustus 2018. Hingga saat ini, capres yang sudah pasti maju adalah Jokowi didukungan 6 partai politik parlemen dan 3 parpol non-parlemen.

Namun untuk pendampingnya, Jokowi belum menentukan siapa cawapresnya. Begitu juga Prabowo Subianto, dengan bekal dukungan dari 4 partai yaitu Gerindra, Demokrat, PAN, dan PKS. Prabowo mulai bersiap maju di pilpres untuk ketiga kalinya.

Saat ini sosok kandidat capres yang muncul menunjukkan keunikan, kekuatan dan kualitasnya masing-masing. Maka dipastikan harus mencari pendamping yang berkualitas pula. Demokrasi yang bersih tidak hanya soal bersih dari money politics atau tidak adanya black campaign. Akan tetapi Demokrasi bersih adalah juga adalah menemukan pemimpin yang berkualitas.

Reza A. A. Wattimena dalam bukunya ‘Menjadi Pemimpin Sejati’ (2012) memaparkan dua ciri pemimpin di Indonesia saat ini (hal. 184-185). Pertama, bermental permisif, yaitu sikap yang tidak berani mengambil keputusan sendiri. Keputusan yang diambil tidaklah populer, namun cenderung menjaga popularitasnya sebagai pemimpin.

Selain itu Wattimena menuliskan pemimpin yang bermental permisif ini juga disandingkan dengan mental selebritis yang pada akhirnya hanya menjadi penghibur dan lupa akan tugasnya sebagai pemimpin. Pemimpin dengan ciri seperti ini, menurut Wattimena, lahir dari proses instan.

Kedua, miskin integritas. Pemimpin berciri seperti ini lebih suka berpikir pragmatis, dan hanya berpikir soal keuntungannya pribadi, cenderung mempertahankan posisi, menjatuhkan saingan, dan melebarkan popularitas. Hal ini, bagi Wattimena, menunjukkan betapa miskinnya proses yang dijalani para pemimpin Indonesia.

Dengan demikian pencarian sosok pemimpin melalui demokrasi seharusnya adalah upaya menemukan pribadi berkualitas. Calon pemimpin tidak bermental permisif dan tidak miskin integritas. Maka, Pilpres 2019 harus betul-betul menjadi filter mencari siapa yang pantas menjadi pemimpin. Bukan mencoba-coba jadikan seorang  pemimpin dengan segala cara.

Dalam sejarah filsafat klasik, Plato memberikan tiga partisi kelas dalam masyarakat berdasarkan struktur jiwa masing-masing. Orang yang jiwanya dituntun oleh nafsu adalah orang yang cocok menjadi pedagang; orang yang jiwanya penuh semangat gagah perkasa lebih cocok masuk dalam skuat ksatria; dan orang yang hidupnya dipimpin oleh kerja akal budi dan pencarian akan esensi kehidupan dan forma yang baik, lebih tepat menjadi pemimpin (Robertus Robet, 2011:34-35).

Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin  juga  meminta seluruh calon yang maju di pilpres tidak menggunakan politik SARA dalam berkampanye. Ma’ruf mengingatkan calon-calon agar lebih mengedepankan kampanye program yang baik dan bisa memberikan solusi bagi kehidupan masyarakat.

“Jual calonnya itu harusnya menggunakan cara-cara penjualan yang hebat. Jangan menjelekkan calon lain,” pesan Ma’ruf Amin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (1/8).

Menurutnya dalam memilih pemimpin, semua calon sebaiknya bisa bersaing secara sehat dan tidak membawa-bawa agama, apalagi menjual agama sebagai referensi pilihan di pilpres.

“Masyarakat bisa memilih pemimpin yang dianggap baik dan membawa kebaikan bagi bangsa dan negara. Jadi, menjual calon itu dengan baik, santun dan jangan menimbulkan konflik. Ini bukan urusan agama. Ini urusan pemimpin. Pilih pemimpin yang baik,” tandas Ma’ruf.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo mengingatkan, tahun 2018 ini adalah pintu masuk tahun politik, dan tahun 2019 mendatang adalah tahun politik yang sebenarnya.

“Oleh sebab itu kita harus mengajak masyarakat masuk ke dalam tahun politik agar pandai-pandai memilih pemimpin,” kata Jokowi di hadapan 10.000 ribuan relawan Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi), di Sentul Internastional Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/7/2018).

Jokowi juga mengajak untuk melihat rekam jejak calon pemimpin di Pilpres 2019. Jangan mudah termakan hasutan untuk memilih seorang calon pemimpin..

“Dalam memilih pemimpin, dilihat rekam jejaknya seperti apa, track record seperti apa, dilihatlah juga prestasinya apa, kinerjanya seperti apa. Jangan sampai kita mudah dihasut,” pesannya.

 Jokowi meminta pihak-pihak yang menyebarkan info tidak benar untuk menghentikan aksinya. Apabila rekam jejak sang calon pemimpin itu baik, maka itu juga harus disampaikan ke masyarakat.

“Jangan malah menyebarkan informasi tidak benar, kepada masyarakat,” pungkasnya. fp03

 

Most Popular

Recent Comments