Jumat, April 16, 2021
BerandaDengan Konspirasi dan Rekayasa Hukum, Ir. Soegiharto Santoso Dikriminalisasi
Array

Dengan Konspirasi dan Rekayasa Hukum, Ir. Soegiharto Santoso Dikriminalisasi

foto: Vincent Suriadinata SH dan Ir Soegiharto Santoso alias Hoky saat di Bareskrim

Jakarta, Faktapers.id –  Ir. Soegiharto Santoso atau yang dikenal dengan panggilan akrab Hoky mengungkapkan dirinya sebagai korban dari praktek bejad kriminalisasi yang dilakukan sejumlah pengusaha, dengan menggunakan konspirasi sejumlah oknum penegak hukum terkait, kini mulai dilaporkan kesejumlah lembaga negara.

Dalam pengakuannya kepada Fakta Pers, Hoky selaku ketua umum Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) yang tidak memiliki sama sekali keterkaitan dengan acara Pameran Mega Bazaar Consumer Show 2016 milik PT Dyandra Promosindo, diselenggarakan oleh Ketua DPD Apkomindo DIY, Dicky Purnawibawa ST, di Jogja Expo Center (JEC) Jl. Janti, Wonocatur, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tetapi justru harus dibuat mendekam di sel penjara Bantul selama 43 hari, lalu secara arogan dituntut selama 6 tahun bui dan denda sebesar Rp 4 Miliar. Namun oleh majelis hakim kemudian dinyatakan Hoky tidak terbukti bersalah, sehingga divonis bebas murni oleh PN. Bantul.

Vincent Suriadinata SH dari Mustika Raja Law Office yang mendampingi Hoky mengutarakan, meskipun vonis bebas murni dari PN Bantul telah diputus sejak tanggal 25 September 2017, akan tetapi perkara tersebut sampai dengan saat ini masih menunggu putusan MA, karena masih adanya upaya Kasasi dari pihak JPU.

Berbanding terbalik Dicky Purnawibawan ST, rival Hoky yang sebelumnya telah dinyatakan sebagai tersangka, namun hingga kini kasusnya dipeti es kan, dan tidak pernah berkelanjutan diproses secara hukum.

Ironinya lagi, ada dalam amar putusan majelis hakim disebutkan secara jelas, adanya penyandang dana dari seorang bernama Suharto Yuwono, dan pihak lain, juga merupakan misteri yang belum diungkap hingga kini.

Banyaknya oknum nakal yang bermain dalam perkara kriminalisasi Hoky. Sampai-sampai dalam upaya menjebloskan kliennya ditemukan pemalsuan tanda tangan Hoky yang diduga dilakukan oleh oknum Polri, yang kini dilaporkan ke sejumlah instansi berwenang.

Dalam surat laporannya bernomor 08-M/DPP-APKOMINDO/VII/2018, tertanggal 16 Juli 2018, Hoky melaporkan AKP berinisial S, oknum penyidik Dittipideksus Bareskrim Polri, atas surat palsu yang memiliki kekuatan sumpah jabatan, pada laporan BAP yang direkayasa kepada sejumlah lembaga negara terkait, diantaranya: kepada Presiden RI, Menko Polhukam RI, Kapolri, Mahkamah Agung RI, Badan Pengawasan Mahkamah Agung RI, Ombudsman RI, Komnas HAM RI,
Kompolnas RI, Komisi III DPR RI, Wakapolri, Irwasum Polri, Kabareskrim Polri, Kadiv Propam Polri dan  Karowassidik Bareskrim Polri.

Pengaduan ini kami sampaikan dengan harapan agar Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai pelindung, pelayan dan pengayom masyarakat akan lebih profesional dan proporsional dalam menangani perkara, untuk menyelaraskan dengan Program Promoter yaitu Profesional, Modern dan Terpercaya, ujar Vincent.

Sedangkan Hoky berharap di usia ke 72 Polri akan lebih baik. Kami yakin dan percaya bahwa diusianya yang ke 72 Tahun, Institusi Polri dengan jumlah anggota lebih dari 400 ribu akan berupaya terus melakukan yang terbaik, terbukti telah banyak prestasi institusi Polri untuk NKRI.

“Meski tidak dapat dipungkiri, yaitu masih ada saja oknum-oknum penyidik yang melakukan perbuatan tercela, ujarnya.

Sisi lainnya, lanjut Vincent, perseteruan Hoky yang menjadi korban kriminalisasi melebar menjadi perkara hate speech dan ITE, dimana Hoky melaporkan 3 orang seterunya bernama Ir. Faaz, Michael S Sunggiardi, dan Rudi Dermawan Mulyadi, dimana ketiga orang tersebut telah ditetapkan sebagai Tersangka oleh Polda DIY sejak 14 Februari 2018. Namun hingga berita ini ditayangkan, perkaranya masih dirasa sangat lamban dan belum P21.fp03

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments