Senin, Maret 8, 2021
Beranda Nafsu Dipilih, Spanduk Asal Tempel
Array

Nafsu Dipilih, Spanduk Asal Tempel

Jakarta, faktapers.id – Telah ditetapkannya masa kampanye untuk Pileg dan Pilres, yang dimulai 23 September 2018, sehingga sejumlah caleg mulai menebar spanduk untuk sosialisasi dirinya agar diketahui atau dikenal masyarakat, khusus dapilnya agar memilih dirinya saat pileg nanti.

Seperti yang dilakukan bekas Wali Kota Jakarta Barat, HM Anas Efendi, merupakan Caleg Dapil 10 Jakarta Barat. Spanduk sosialisasi ajakan mencoblos dirinya mulai ditemukan di beberapa kecamatan, mulai dari Palmerah, Kebon Jeruk, Taman Sari dan Grogol Petamburan.

Akan tetapi sangat disayangkan, Anas yang notabene mantan penjabat walikota tidak tahu atau tidak mengarahkan tim kampanyenya untuk menempatkan spanduk sesuai aturan KPU. Penempatan spanduk Anas dikeluhkan masyarakat setempat. Sebabnya, pemasangan spanduk Anas tidak pada tempatnya, sehingga dinilai merusak pemandangan lingkungan sekitar.

Selain terpasang di sejumlah tiang listrik, spanduk ini kemudian ditemukan di sejumlah tanaman warga dan pohon. Kondisi ini membuat kesan merusak lingkungan terlihat nyata.

Padahal dalam pemasangan spanduk, KPU telah menentukan pemasangan sesuai dengan surat 176/PL.01.5-KPP/31Prov/IX/2018 tentang fasilitasi alat peraga kampanye dalam pemilihan umum tahun 2019 dan PKPU Nomor 23 tahun 2018 tentang Kampanye Pemilu. Penempatan spanduk tidak boleh asal-asalkan dan sesuai dengan mekanisme KPU.

“Sudah terpasang lima hari lah,” kata Elga, 26, salah satu warga di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Jumat lalu.

Dalam spanduk yang di pasang, Anas mengajak masyarakat untuk mencoblos dirinya dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Selain itu terdapat pula tagline dirinya ‘Bersahaja Wakil Rakyatnya, Sejahtera Warganya’.

Menurut Elga, sebagai remaja aktif di lingkungannya, ia mengetahui Anas merupakan mantan Wali Kota Jakarta Barat. Namun dirinya menyayangkan hal itu setelah melihat pemasangan yang terkesan semerawut dan melanggar.

“Harusnya sebagai mantan Wali kota, dia menjadi contoh. Tapi liat, Mas, di Rawa Belong, Sukabumi Utara, spanduknya asal pasang saja, dan tidak sesuai,” ungkap Elga sembari menggelengkan kepalanya.

Sementara itu Ketua Divisi Hukum dan Penanganan Pelanggaran Bawaslu DKI Jakarta, Puadi, mengatakan, semua pemasangan alat peraga dan kampanye telah ditentukan oleh KPU DKI. Alat itupun tidak harus asal pasang, melainkan ada mekanisme yang harus diikuti.

Terlebih dalam pemasangan sendiri, Puadi melanjutkan bahwa desain itu baru diserahkan ke KPU pada 1-5 Oktober 2018 nanti. Setelah nantinya diserahkan, barulah KPU memasang alat. Sembari menunggu waktu itu, para caleg diperbolehkan sosialisasi atau tatap muka langsung dengan warga.

Anas Efendi sendiri maju dalam calon legislatif 2019 setelah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memecatnya dari Wali Kota Jakarta Barat, Juni 2018. fp01

Most Popular

Recent Comments