Senin, Maret 8, 2021
Beranda Santo dan Kusnadi, Kasudin Kayak “Tuyul”
Array

Santo dan Kusnadi, Kasudin Kayak “Tuyul”

Jakarta, faktapers.id – Gubernur DKI Jakarta dan Walikota Jakarta Utara didesak untuk mengevaluasi dua bawahannya yang jarang ngantor, yakni Kasudin Citata Kusnadi dan Kasudin Sumber Daya Air Santo.

Kedua pejabat Pemko Jakarta Utara itu terkesan alergi bila dikonfirmasi wartawan. Selain itu, keduanya kerap gonta-ganti nomor telepon, yang diduga untuk menghilangkan jejak dari kejaran wartawan.

Perlu diketahui bahwa banyak persoalan yang harus mendapat tanggapan dari kedua Kasudin tersebut terkait kinerjanya. Namun, setiap wartawan yang selalu konfirmasi selalu gagal memperoleh komentar dari keduanya.

Kusnadi
Siapa yang tidak kenal Kusnadi, yang kini menjabat sebagai Kasudin Citata Jakarta Utara. Mantan Kasie P2B (sebelum berganti menjadi Citata) Kecamatan Penjaringan ini, dikenal sangat mahir dan licin mengamankan bangunan yang bermasalah untuk tidak dibongkar.

Hingga kini duduk sebagai Kasudin Citata Jakut, Kusnadi pun masih sangat licin. Dan faktanya, dapat dilihat di semua wilayah Jakarta Utara, bahwa bangunan yang menyalahi izin dan peruntukkan pun tumbuh bak jamur di musim hujan.

Pertanyaannya, apakah bangunan bermasalah yang berdiri itu adalah tanggungjawab dari Satlak Kecamatan? Ya, setali tiga uang, setiap Kasatlak Kecamatan tidak akan berani membiarkan wilayahnya dari bangunan bermasalah tanpa ada lampu hijau dari komandannya, yakni Kasudin Citata.

Harian Fakta Pers juga sudah berulang kali berusaha melakukan konfirmasi baik di kantornya maupun melalui telepon selulernya. Namun semua itu berakhir buntu, dan tidak ada jawaban dari Sang Kasudin.

Bahkan, hal inipun telah dikonfirmasikan ke Walikota Jakarta Utara, Syamsuddin Lologau terkait kinerja Sang kasudin. Kepada Harian Fakta Pers, Walikota berjanji akan memanggil Kusnadi untuk mengklarifikasi terkait menjamurnya bangunan di wilayah kerjanya.

“Kalau tidak ada IMB pasti kita tindak lanjuti. Kita akan sampaikan ke Sudin Citata dan SKPD terkait. Kita akan suruh Sudin Citata untuk menegur para pemilik bangunan, karena salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi perizinan. Nanti saya akan perintahkan untuk melihat ke lokasi. Tolong kasi tahu saya kalau ada apa-apa (masalah),” tandas Walikota.

Terkait itu, sikap Walikota Jakut yang akan menegur Sudin Citata mendapat apresiasi dari warganya. Menurut Rohidin, warga Kebon Bawang, menyarankan agar Walikota Jakut mengevaluasi kinerja jajaran Sudin Citata Jakut yang tebang pilih melaksanakan tupoksinya.

“Bisa jadi ada oknum yang menerima sogokan dari pemilik bangunan atau kaki tangannya agar bangunan itu tidak ditindak atau direkomtek,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan Umar, warga Kebon Bawang, bahwa nama Sudin Citata Jakut di mata masyarakat sangat negatif.

“Citata lagi…citata lagi…rombak saja jajarannya, untuk penyegaran. Jadi tidak ada lagi main mata. Kalau perlu per tiga bulan dirombak, agar warga DKI maupun Tanjung Priok ini benar-benar mau mengurus IMBnya,” ujar Umar.

Perlu diketahui bahwa di wilayah Kecamatan Tanjung Priok (lihat tabel) yang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan, ternyata banyak berdiri bangunan yang menyalahi izin dan peruntukan. Dan hal ini terkesan dibiarkan oleh Kasatlak Citata Tanjung Priok dan Kasudin Citata Jakut.

Sikap tertutup informasi kepada wartawan, jelas menunjukan bahwa Kasudin Citata pasang badan dan merasa kebal terhadap persoalan tersebut. Padahal, Walikota Jakut telah menegaskan bahwa bangunan yang menyalahi izin dan peruntukan akan berakibat berkurangnya pemasukan Pemprov DKI Jakarta dari sektor retribusi perizinan bangunan.

Lalu dimana tanggungjawab Kusnadi dalam menjalankan tupoksinya? Apakah hal ini adalah bentuk pembangkangan Sudin Citata Jakut terhadap regulasi tugas yang diusungnya?

Santo
Mantan Kasie Perencanaan dan mantan Kasie Pemeliharaan Sudin Sumber Daya Air Jakarta Barat ini dipromosikan sebagai Kasudin Sumber Daya Air Jakut disaat kasus Sudin SDA Jakbar terbongkar oleh Kejaksaan Agung.

Ketika tiga orang mantan Kasudin SDA Jakbar ditetapkan sebagai tersangka dan anak buah Santo turut dijadikan tersangka korupsi yang merugikan negara hingga puluhan miliar rupiah itu terekspos ke publik dan menohok birokrasi Pemprov DKI Jakarta, justru Santo bebas melenggang.

Adik dari Kasudin Bina Marga Jakut, Warsito itu mulai menjauhi wartawan ketika Kejaksaan Agung mulai mencomot satu per satu mantan bosnya dan anak buahnya. Bahkan, nomor teleponnyapun kerap gonta-ganti agar wartawan tidak konfirmasi kepada dirinya.

Pertanyaannya, mengapa Kejaksaan Agung hingga kini membiarkan Santo menghirup udara segar? Apakah Santo kini telah menjadi “ATM” berjalan dari oknum-oknum di Kejaksaan Agung, sehingga Santo merasa dirinya kebal hukum?

“Bapaknya tidak ingin ditemui, Pak,” ujar staf penerima tamu Sudin SDA Jakut, Jumat (14/9). Ketika ditanya alasan tidak ingin ditemui, staf tersebut mengatakan bahwa dirinyapun tidak tahu apa alasannya.

Sebagai pelayan publik, Santo dan Kusnadi seharusnya kritis terhadap setiap persoalan sosial di wilayahnya. Sebagai pejabat yang digaji dari hasil pajak warga DKI Jakarta, Santo dan Kusnadi dituntut mampu menyelesaikan setiap permasalahan sesuai tupoksinya.

Ketua Umum DPP LSM Lembaga Pemantau Aparatur Negara (LAPAN), Gintar Hasugian, kepada Harian Fakta Pers, Minggu (16/9), menegaskan, agar kedua Kasudin tersebut, yakni Kusnadi dan Santo jangan bersifat seperti tuyul, yang sulit dicari untuk dikonfirmasi.

“Profesional saja kerjanya, jangan menghindar dan sulit dikonfirmasi. Kalau ditanya by phone, ya dijawab, jangan didiamkan. Wartawan itu juga pekerja, mereka bekerja juga berdasarkan tugas dari redaksinya. Kalau memang kerjanya sudah sesuai tupoksi, untuk apa menghindar dari wartawan? Kalau menghindar, berarti ada dugaan negatif. Apa sih yang harus dihindari dari pertanyaan wartawan? Apalagi sering gonta-ganti nomor telepon, jadi makin jelas dugaan itu” ujar Gintar. kls/fp01

LOKASI BANGUNAN BERMASALAH DI KEC TANJUNG PRIOK

  1. Jalan Swasembada Timur XXII/Jalan Swadaya Raya, Gang 7, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan 3 lantai direnovasi penambahan sisi depan dan kolam renang, tinggi pagar beton 6-7 meter, tidak memiliki IMB, tidak ada jarak bebas (resapan air), melanggar Garis Sepadan Bangunan (GSB).
  2. Jalan Swadaya 1, RT 08/06, No 14, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan 3 lantai tidak memiliki IMB, tidak ada jarak bebas (resapan air), melanggar GSB.
  3. Jalan Swasembada Barat XXIV, RT 09/011, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan 2 setengah lantai tidak memiliki IMB, tidak ada jarak bebas (resapan air), melanggar GSB.
  4. Jalan Swasembada Barat XVI, RT 13/14, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan 3 lantai milik ibu Haji Fatimah tidak memiliki IMB, tidak ada jarak bebas (resapan air), melanggar GSB.
  5. Jalan Swasembada Barat XVI, No 36, RT 02/14, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. No IMB 1558/8.1/31.72.02/1.785.51/2016, izin 3 lantai Rumah Tinggal, fisik bangunan 4 lantai tidak ada jarak bebas (resapan air), melanggar GSB.
  6. Jalan Kebon Bawang XIII, RT 08/01, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan 2 lantai, fisik kontrakan 9 pintu tidak memiliki IMB, tidak ada jarak bebas (resapan air), melanggar GSB.
  7. Jalan Kebon Bawang XI, RT 07/01, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan 2 lantai tidak memiliki IMB, tidak ada jarak bebas (resapan air), melanggar GSB.
  8. Jalan Kebon Bawang XI, RT 07/01, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan 2 lantai milik Ibu Evi, ia mengaku memiliki IMB tapi tidak dipasang, tidak ada jarak bebas (resapan air), melanggar GSB.
  9. Jalan Kebon Bawang XV, No 6, RT 06/01, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan milik Eddy Suwu, No IMB 375/PIMB/31.72.02/UP/PTSP/TG.PRIOK/U/XI/17, izin 2 lantai Rumah Tinggal, fisik bangunan Kantor 3 pintu, tidak ada jarak bebas (resapan air), melanggar GSB.
  10. Jalan Kebon bawang VI/Jalan Kebon Bawang Raya, No 40, RT 04/06, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan ditambah 1 lantai tidak ada IMB.
  11. Jalan Swasembada Barat XXII, RT 06/12, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan 2 lantai tidak ada jarak bebas, tidak memiliki IMB, melanggar GSB.
  12. Jalan Swasembada Barat XXII, RT 06/12, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan 2 lantai, tidak ada jarak bebas tidak memiliki IMB, melanggar GSB. (Masih satu lokasi dengan no 11).
  13. Jalan Swasembada Barat II, RT 02/09, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakut. Bangunan 3 lantai mengaku memiliki IMB, tapi tidak dipasang, tidak ada jarak bebas (resapan air), melanggar GSB.

Most Popular

Recent Comments