Kamis, April 15, 2021
BerandaBuoy Si Kambing Hitam
Array

Buoy Si Kambing Hitam

Jakarta, faktapers.id – Masalah hilangnya sejumlah alat deteksi gelombang pasang dan tsunami (buoy) di palu, Sulawesi Tengah akhirnya mendapat tanggapan dari kepolisian. Polisi berjanji akan mengungkap hal itu dengan mengkonfirmasikannya kepada penanggung jawab buoy.

“Kami akan selidiki. Hilangnya itu memang sebelum tsunami atau setelah. Kalau setelah tsunami karena tsunami, kalau sebelum nanti kami lidik berapa buoy yang ada, siapa yang tanggung jawab di sana,” ungkap Wakapolri Komjen Ari Dono Sukmanto, Selasa (2/10).

Hal senada juga ditegaskan Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto. Dikatakannya, penyelidikan tersebut akan dilakukan setelah seluruh proses penanganan dan pemulihan dampak bencana selesai dilaksanakan.

“Itu tahap berikutnya, tetap kami selidiki. Sekarang situasi di sana sedang darurat,” ujarnya.

Setyo menambahkan, penyelidikan hilangnya buoy ini akan dilakukan oleh Direktorat Polisi Air dan Udara (Dirpolairud).

Rusak dan hilangnya buoy mencuat setelah gempa disertai tsunami terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9).

Kasus ini membuat DPR ikut mempertanyakan keberadaan buoy di seluruh perairan Indonesia.

Ketua DPR Bambang Soesatyo meminta pemerintah lewat Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera mengajukan anggaran pengadaan buoy karena banyak yang sudah tidak berfungsi, bahkan raib dicuri.

“Melalui Badan Anggaran (Banggar) DPR RI akan memberikan dukungan kepada BNPB dan BPPT dalam penyusunan anggaran, baik untuk pengadaan buoy maupun anggaran pendanaan bencana yang tentunya sangat berpengaruh terhadap upaya mitigasi bencana,” kata Bambang Soesatyo, Senin (1/10).

Menurut Bambang, pengadaan buoy sebagai alat deteksi tsunami sudah mendesak dilakukan. Bambang berdasarkan data yang dimiliki, 22 buoy yang ada di Indonesia sejak 2012 sudah tidak berfungsi.

LIPI
Tanggapan mengenai alat deteksi tsunami juga diungkapkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kepala Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto, mengatakan, bahwa pemerintah mampu membeli alat deteksi tsunami, buoy tapi tidak memiliki anggaran untuk merawatnya.

Menurutnya, Indonesia saat ini memiliki 22 buoy yang sudah tidak beroperasi karena sudah rusak sejak 2012. Pasalnya pemerintah tidak mengalokasikan dana yang cukup untuk mengoperasikan buoy.

“Kita tidak punya uang untuk maintanance. Bisa beli, tapi tidak bisa merawatnya, tidak bisa mengoperasionalkan, akhirnya rusak tahun 2012,” ungkap Eko, Selasa (2/10).

Ia mengatakan 22 buoy tersebut disebar awalnya di pantai Barat Sumatera dan pantai Selatan Jawa.

Peneliti Geofisika Kelautan LIPI, Nugroho Dwi Hananto, mengakui beberapa komponen buoy juga sering diambil oleh masyarakat setempat.

“Lampunya sering diambil juga, bisa dibayangkan saja kan di tengah-tengah samudera seperti itu,” terang Nugroho.

Perlu diketahui, Buoy adalah merupakan sistem pelampung yang diletakkan di tengah laut untuk mendeteksi gelombang pasang dan tsunami.

Buoy ini merupakan salah satu opsi teknologi pendeteksi dini tercepat atas peluang terjadinya tsunami di wilayah Indonesia.

Ribuan tewas
Akibat tidak berfungsinya alat deteksi tsunami, mengakibatkan korban jiwa yang mencapai 1.234 jiwa.

“Korban meninggal dunia sudah mencapai 1234 jiwa,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwonugroho saat menggelar jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (2/10).

Sutopo menjelaskan, sebagian korban meninggal dunia sudah ada yang dimakamkan, sementara sebagian lainnya masih butuh proses identifikasi hingga akhirnya dimakamkan.

Lanjut Sutopo, diperkirakan jumlah korban masih bertambah, mengingat jumlah korban di area Balaroa dan beberapa titik lainnya yang amblas karena likuifaksi belum bisa diperkirakan.

Adapun korban luka berat sebanyak 799 korban. Sementara itu, korban yang masih dinyatakan hilang berdasarkan laporan yang masuk siang kemarin adalah 99 orang yang terbagi dalam beberapa kabupaten.

“Korban luka berat 799 jiwa, semua sudah dirawat di berbagai rumah sakit,” ucap Sutopo.

Sementara itu, sambung Sutopo, jumlah total pengungsi yang dibagi dalam berbagai titik hingga saat ini sudah mencapai 61.867 jiwa. fp01

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments