Sabtu, Maret 6, 2021
Beranda Promoter, Teori atau Nyata?
Array

Promoter, Teori atau Nyata?

Sebelas program prioritas Kapolri atau akrab disebut Promoter, salah satunya adalah transparansi, rupanya belum mampu diimplementasikan jajarannya di tingkat bawah sekelas Polres dan Polsek. Setiap ditanya mengenai jumlah tahanan, wajah polisi selalu mengkerut, seakan “haram” mendengar pertanyaan itu.

Namun sebaliknya, bila menggelar press realease, hampir semua pentolan petinggi polisi di tingkat Polres dan Polsek unjuk wajah dengan background sejumlah tahanan dan barang bukti, seakan ingin menyampaikan pesan, “Ini lho gue, berhasil nangkap orang.”

Dua sikap yang berbeda dari tubuh polri ini menyiratkan sikap profesionalisme, berkeadilan dan transparansi yang juga melekat di Promoter, hanya teori belaka. Seharusnya polisi malu bila saat men-jalankan tugas hanya manis di teori. Malu kepada diri sendiri dan malu kepada masyarakat.

Apa susahnya bila polisi bersikap terbuka? Masyarakat juga tahu, mana yang harus ditanyakan dan mana yang tidak pantas ditanyakan. Bila Kapolri tidak sanggup melakukan transparansi, untuk apa pencitraan Promoter? Supaya tenar di mata petinggi negara ini?

Apalagi kepada media massa, polisi seakan antipati bila ada pertanyaan-pertanyaan kritis maupun menyangkut data-data kinerjanya. Seperti jumlah tahanan di kantor polisi dan anggaran polisi dari APBN. Apakah keduanya termasuk rahasia negara? Apakah ada Peraturan Presiden atau Peraturan Kapolri yang melarang data-data itu dipublish?

Seyogyanya polisi mengubah tabiat seperti itu. Jadilah polisi yang benar-benar berpedoman pada UU Polri dan Peraturan Kapolri. Jadilah polisi yang benar-benar menjalankan sebelas program prioritas Kapolri. Masyarakat sangat mengharapkan kehadiran polisi yang profesional, bukan profesional abu-abu. *

Most Popular

Recent Comments