Rabu, Maret 3, 2021
Beranda Preman Kuasai RTH Kalijodo?
Array

Preman Kuasai RTH Kalijodo?

Jakarta, faktapers.id – Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalijodo yang dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta melalui CSR, kini telah beralih fungsi menjadi tempat dugem dan pesta miras bagi kawula muda. Anehnya, lokasi itu dikelola oleh sekumpulan orang yang tidak mempunyai Nomor Induk Pegawai (NIP) Dinas Kehutanan DKI Jakarta.

Sekumpulan orang berwatak preman itu juga mengancam setiap orang yang berusaha mengusik ketenangannya mengelola RTH Kalijodo. Bahkan, salah satu ruangan di RTH diduga disalahgunakan untuk kampanye mendukung Jimly Asshiddiqie sebagai Caleg DPD DKI Jakarta Periode 2019-2024.

Di tempat terpisah, Kasudin Kehutanan Jakarta Barat, Aris Firmansyah, menjelaskan, bahwa yang berhak mengelola Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah Sudin Kehutanan, dan tidak dibenarkan apabila dikelola oleh pihak lain.

Terkait RTH Kalijodo yang alihfungsi sebagai tempat dugem dan pesta miras kaum muda, Aris mengatakan, bahwa hal itu bukan tupoksinya untuk menanggapi, melainkan Suku Dinas Kehutanan Jakarta Utara. Tapi, kata Aris, bilamana ada penyalahgunaan di malam hari, kemungkinan diketahui oleh aparat terdekat.

“Cb (coba) nanti saya tanya sudis kehutanan jakarta utara, karena RTH Kalijodo masuk jakarta utara. Terima kasih masukannya pak,” ujarnya kepada Harian Fakta Pers dan faktapers.id, Minggu (4/11).

Beralih fungsinya RTH Kalijodo jadi tempat dugem dan pesta miras juga diungkapkan salah satu pejabat Pemko Jakbar, Kamis (1/11). Pejabat yang tidak ingin namanya disebutkan itu, mengakui bahwa setiap malam minggu RTH Kalijodo dijadikan tempat hiburan malam full house music dangdut.

Pejabat tersebut tidak ingin disebutkan namanya karena khawatir akan bentrok dengan preman.

“Waduh gak enak saya, kalau seperti itu nanti ribut. Orang Jakarta Utara pasti lempar bukan saya, takutnya nantinya begitu. Yang beratnya kita bukan ngomong karyawan tapi kalau sama preman, kan ribet, kan. Kecuali kalau sama karyawan, kita akan koordinasi. Tapi kalau preman, kan susah nih, ntar malah rame lagi,” ujar pejabat tersebut.

Keberadaan preman mengelola RTH Kalijodo patut dipertanyakan oleh masyarakat. bahkan, miras merek Anggur dan Intisari pun dengan mudahnya masuk ke areal aset negara tersebut, padahal ada satpamnya.

“Kopi…kopi…kopi Bang? Minuman (miras) juga ada? Intisari dan Anggur,” tawar si pedagang keliling kepada pengunjung.

Pertanyaannya, apakah pedagang keliling ini tidak dicurigai oleh Satpam atau pengelola RTH Kalijodo yang keluar masuk membawa pesanan miras? Atau diduga ada bagi hasil penjualan miras dengan oknum ?

Camat Penjaringan, Muhammad Andri, Minggu (4/11), tidak menjawab ketika dikonfirmasi terkait statement pihak yang mengaku pengelola RTH Kalijodo, yang menyebutkan bahwa pengelola memusnahkan barang bukti narkoba dan miras. Kok bisa pengelola memusnahkan barang bukti berupa narkoba dan miras? Siapa dia, apakah dia itu jaksa? Itu sama juga dengan menghilangkan barang bukti.

Berdasarkan statement pihak yang mengaku pengelola RTH Kalijodo itu, sudah sepatutnya disikapi aparat kepolisian, karena oknum itu berani menghilangkan barang bukti tanpa dilapor ke pihak berwajib. Berapa banyak barang bukti yang sudah dihilangkan oknum itu? Siapa saja pelakunya? Kasus ini sangat menarik bila dikupas lebih jauh lagi, dan akan menjadi prestasi bagi polisi yang berani mengungkapnya.

Sebelumnya, Jumat (2/11) sore, Camat Penjaringan Muhammad Andri, kepada Harian Fakta Pers dan faktapers.id mengatakan, pihaknya akan memberlakukan pengawasan ketat di RTH Kalijodo. Camat berdalih bahwa sampai saat ini pihaknya belum pernah menerima laporan negatif terkait RTH Kalijodo.

Berdasarkan pantauan Harian Fakta Pers dan faktapers.id di RTH Kalijodo, Sabtu (27/10), sekitar pukul 21.00 – 00.00 Wib, terlihat ada aksi dugem di lokasi tersebut. Ratusan muda-mudi bergoyang ria mengikuti alunan dangdut remix yang dilengkapi sound sistem dan biduan.

Tim Investigasi juga melihat muda-mudi yang nongkrong ditemani minuman keras yang dituang dalam plastik. Bahkan, tidak sedikit muda-mudi yang berada di lokasi terlihat oyong diduga akibat miras.

Beralih fungsinya RTH Kalijodo menjadi tempat dugem diduga akibat tidak adanya pengawasan ketat terhadap pengunjung. Satpam setempat terkesan membiarkan setiap pengunjung bebas masuk ke RTH Kalijodo.

“RTH Kalijodo tutup jam 10 malam. Dan satpam pun tidak berhak mengijinkan,” kata Camat Penjaringan, Jakut, Mohammad Andri.

Terkait status Ashari, Andri, mengatakan, bahwa pria tersebut bukanlah pengelola RTH Kalijodo, namun diduga orang luar.

“Untuk lebih jelasnya, tanyakan kepada Dinas Kehutanan selaku pengelola RTH Kalijodo,” ujarnya.

Sebelumnya, Ashari mengatakan bahwa dirinya berprofesi sebagai Cleaning Service. Ashari ditemui Fakta Pers, Kamis (1/11), setelah diarahkan oleh security RTH Kalijodo.

Kepada Fakta Pers, Ashari tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait RTH Kalijodo jadi tempat dugem. Ashari diam seribu bahasa.

Karena tak sanggup menjawab, Ashari berpesan kepada Fakta Pers agar tim investigasi menghubungi dirinya melalui aplikasi WhatsApp (WA).

Secara logika, bila Ashari bukan pengelola, mengapa Security mengarahkan Fakta Pers menemui Ashari? Hal inilah yang patut diselidiki, apakah RTH Kalijodo memang telah dibisniskan untuk lokasi dugem di tempat terbuka dan dikelola oleh oknum-oknum? Lalu, mungkinkah pengelola RTH Kalijodo dan Camat tidak mengetahui hal itu? fp02/fp01

Most Popular

Recent Comments