Jumat, Juni 18, 2021
Beranda14 Tahun Tsunami Aceh, Ribuan Warga Berziarah ke Kuburan Massal Hingga Larangan...
Array

14 Tahun Tsunami Aceh, Ribuan Warga Berziarah ke Kuburan Massal Hingga Larangan Melaut

Banda Aceh, faktapers.id – Ribuan warga Aceh memperingati 14 tahun bencana tsunami menerjang dengan berziarah ke kuburan massal korban tsunami dan dzikir bersama. Dalam momen peringatan tersebut, masyarakat Tanah Rencong diajak terus bangkit.

Peringatan 14 tahun tsunami dipusatkan di Masjid Teungku Chik Mahraja Gurah di Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Rabu (26/12/18) kemarin. Ribuan warga lintas usia berdatangan ke lokasi usai berziarah ke kuburan massal. Di lokasi, perempuan dan laki-laki dipisah tempat duduknya.

Sejumlah tenda didirikan di lokasi. Acara awalnya diisi dengan zikir bersama yang dipimpin ustaz Jamhuri Ramli. Warga terlihat tak kuasa menahan tangis saat memanjatkan doa. Kegiatan ditutup dengan tausyiah yang disampaikan Ustad Abdul Somad.

Peringatan 14 Tahun Tsunami Aceh Dipusatkan di Peukan, Banda Aceh

Panitia juga memutar video kilas balik Aceh ketika tsunami menerjang hingga kebangkitan masyarakat Tanah Rencong. Video itu menampilkan kondisi Aceh porak-poranda kala tsunami menggulung dan pada masa pembangunan kembali.

“Menurut saya Aceh hebat, kuat. Saya suka Aceh. Saya di sini mewakili seniman Jepang dan ingin memperkenalkan Aceh kepada dunia melalui karya-karya kami,” kata perwakilan Komunitas Seni Jepang Kadowaki Asusi dalam sambutannya.

Menurutnya, dia bersama beberapa seniman lain fokus pada seni tentang mitigasi bencana. Ia mengedukasi masyarakat tentang bencana tsunami lewat karya-karya yang dihasilkannya.

“Tujuan dari mitigasi ini agar kita tidak lupa dan selalu siap,” ungkapnya.

Sementara itu, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, mengatakan, peringatan 14 tahun tsunami digelar dengan mengusung tema “Bangun Bersama, Siaga Utama.” Peringatan tsunami tersebut dinilai sebagai momentum dalam rangka membangun semangat masyarakat Aceh agar terus berkarya dalam berbagai aspek pembangunan.

“Peringatan ini merupakan momentum untuk membangun budaya kesiagaan masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai ancaman bencana yang kerap terjadi di negeri kita,” kata Nova dalam sambutannya.

Menurutnya, meski bencana tsunami sudah lama berlalu, namun trauma yang dialami masyarakat Aceh masih berbekas hingga kini. “Namun demikian, kita bertekad untuk terus bangkit dan menatap hari esok yang lebih baik,” ungkapnya.

Sedangkan di pesisir Aceh, Nelayan Aceh dilarang melaut saat peringatan 14 tahun tsunami, Rabu (26/12/18) kemarin. Bagi yang melanggar, akan dikenakan sanksi adat.

“Panglima Laot seluruh Aceh bersepakat bahwa setiap tanggal 26 Desember adalah hari pantang melaut,” ucap Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh Miftach Cut Adek.

Di Aceh, Panglima Laot adalah lembaga adat yang menaungi para nelayan. Keputusan larangan melaut itu sendiri diambil mengingat banyaknya nelayan dan keluarga yang menjadi korban saat tsunami menerjang pada 26 Desember 2004 silam. Dengan adanya larangan tersebut, para nelayan diminta untuk mengenang para korban gelombang dahsyat tersebut.

“Apalagi banyak di antara korban tsunami berasal dari nelayan yang tinggal di pesisir pantai,” jelas Miftach.

“Panglima Laot mengajak seluruh nelayan untuk mengisi hari pantang melaut itu dengan zikir dan doa bersama. Selain itu, diminta juga untuk membacakan ayat suci Alquran di rumah masing-masing, karena musibah itu menjadi cobaan bagi umat Islam,” ungkapnya.

Bagi nelayan yang melanggar himbauan tersebut akan dikenakan sanksi adat. Di antaranya seperti hasil tangkapan disita dan larangan melaut diperpanjang.

“Sanksi adat. Kapal ditahan minimal 3 hari dan maksimal 7 hari dan semua hasil tangkap disita untuk lembaga Panglima Laot,” ujarnya.

Selain saat peringati tsunami, ada sejumlah hari-hari lain yang dijadikan sebagai hari pantang melaut. Di antaranya hari Jumat, lebaran Idul Fitri dan Idul Adha dan sejumlah hari-hari besar lainnya.fp01/raw

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments