Selasa, Maret 9, 2021
Beranda Fahri Hamzah: Secara Konseptual DPR Sudah Modern
Array

Fahri Hamzah: Secara Konseptual DPR Sudah Modern

Jakarta, faktapers.id – Dalam perjalanannya, mulai zaman Belanda hingga kini sudah banyak tahapan yang dilalui lembaga wakil rakyat di Indonesia. Artinya, dengan lahirnya Undang-undang (UU) baru DPR tentunya juga ada nuansa baru dalam UU tersebut.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional bertema ‘Penguatan Kelembagaan DPR Menuju Lembaga Perwakilan Modern’.

“Ketika pimpinan DPR yang baru, kita punya undang-undang yang relatif baru, yakni UU Nomor 17 tahun 2014 ada banyak nuansa baru dalam UU itu,” ungkap Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah saat menjadi keynote speaker pada seminar tersebut, di Ruang Abdul Muis Gedung Nusantara di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (4/12).

Menurutnya, kalau dibaca tahapan-tahapan, sebenarnya secara konseptual itu sudah dilakukan. Bahkan sekarang ini ada penulisan buku Setarus Tahun DPR setebal ribuan halaman dengan sejumlah data yang diambil jejaknya dari Volksraad (Dewan Rakyat) zaman Belanda dulu. Sebagai satu kontineu bahwa di zaman Belanda itu ada Dewan Rakyat yang anggotanya dipilih sangat selektif oleh sekitar 2000 sampai 3000 orang yang punya hak pilih waktu itu, dan terpilihlah beberapa pribumi juga menjadi anggota Volksraad.

“Salah satunya adalah Abdul Muis yang sekarang ini diabadikan namanya disalah satu ruangan yang semua bernama Operation Room menjadi Ruang Abdul Muis di Kompleks Parlemen,” papar pimpinan DPR Bidang Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) itu.

Jelas Fahri lagi, sebenarnya ada banyak orang pribumi yang menjadi anggota Volksraad lain waktu itu, dan mereka adalah para pribumi yang vokal, salah satunya adalah Jahja Datoe Kajo yang berasal dari Agam, Sumatera Barat.

Sebagai anggota Volksraad, Jahja Datoe Kajo dikenal anggota yang ngotot sejak selesainya Kongres Pemuda atau bahkan sebelum itu dia sudah ngotot memakai Bahasa Melayu. Bahkan, dia memaksa kalau ada yang mengintrupsi pembicaraannya harus berbahasa Melayu.

“Jadi orang Belanda nggak bisa intrupsi kalau tidak bisa berbahasa Melayu. Nah, itu sedang dibuat kronologi dalam sejarah dari buku yang sedang digarap. Sementara di Tim Reformasi kita sedang merancang berbagai disain, termasuk konsep tertulisnya,” sambung Fahri.

Ia pun menegaskan, sebenarnya keinginan DPR adalah betul-betul memiliki satu tradisi legislatif atau lembaga perwakilan yang baku. Sebab kalau membaca itu, mulai dari Volksraad zaman Belanda, lalu kemudian dizaman kemerdekaan dibentuklah Komite Nasiponal Indonesia Pusat (KNIP), lalu selama demokrasi liberal dulu (setelah Pemilu 1955), kemudian setelah Dekrit, kemudian DPR GR, dan Orde Baru sampai Reformasi sekarang ini, kadang-kadang melihat seperti ada diskontiunitas konsepsi legalatif, karena seperti melompat.

“Apalagi tempat kita ini, sebenarnya bukan kawasan Parlemen, tetapi kawasan Ganevo yang didalam imajinasi Soekarno, Indonesia itu pusat dunia atau alternatif bagi peradaban Barat dan Timur yang terbentuk di luar sana. Dan bahkan kalau kita membaca sampai sekarang, saya sendiri masih punya keyakinan bahwa Pancasila itu bisa menjadi idelogi alternatif dunia,” urai Fahri.

Legislator PKS dari Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) itu menambahkan, untuk menjadikan Pancasilan sebagai ideologi alternatif dunia, diperlukan penjurubicaraan yang baik, karena itu perlu satu kelambagan yang kuat agar secara bertahap kelas politik Indonesia ini masuk ke kelas dunia.

“Sebab kalau kita ini semakin minder, itu juga yang menyebabkan politik kita ini tidak mampu menjangkai dunia. Padahal, kalau kita bicara generasi awal republik ini adalah politisi-politisi kelas dunia. Jadi wajar kalau kita punya mimpi besar, mimpi menjadi pusat peradaban dunia,” terang Fahri. oss

Most Popular

Recent Comments