oleh

Hingga H+9 BNPB Terus Tangani Darurat Bencana Tsunami di Selat Sunda

Jakarta, faktapers.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa penanganan darurat bencana tsunami di Selat Sunda hingga H+9 atau 31 Desember 2018, masih terus dilakukan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan resmi tertulis yang diterima wartawan pada Senin (31/12) pukul 17.00 WIB menyebut dampak tsunami di Selat Sunda cukup parah.

Di Kabupaten Pandeglang 13 kecamatan terdampak. Yakni : Carita, Panimbang, Cigeulis, Sumur, Labuan, Tanjung Lesung, Cibaliung, Cimanggu, Pagelaran, Bojong, Jiput, Menes, Pulau Sangiang. Kemudian di Kabupaten Serang ada dua kecamatan terdampak yaitu Anyer, Cinangka. 

Selanjutnya Kabupaten Lampung Selatan ada empat kecamatan terdampak, yakni Kalianda, Rajabasa, Sidomulyo, Katibung. Kabupaten Tanggamus yang terdampak Desa Kiluan, Kecamatan Kelumbayan. Sedangkan Kabupaten Pesawaran terdampak Desa Legundi Kecamatan Punduh Pidada.

“Total 437 orang meninggal dunia, 16 orang hilang, 14.059 orang luka-luka, 33.719 orang mengungsi, 2.752 unit rumah rusak, 92 penginapan/warung rusak, 510 perahu dan kapal rusak, 147 kendaraan rusak(roda 4 dan roda 2), serta 1 dermaga dan 1 shelter rusak (RB),” urainya.
Sutopo menuturkan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau telah berubah akibat erupsi yang menerus. Tingginya semula 338 meter, saat ini hanya 110 meter.

“Volume Gunung Anak Krakatau menurun. Volume yang hilang diperkirakan 150-180 juta meter kubik. Volume yang tersisa saat ini berkisar 40-70 juta meter kubik. Berkurangnya volume tubuh Gunung Anak Krakatau ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunungapi yang disertai oleh laju erupsi yang tinggi dari 24-27 Desember 2018,” kata dia.

Sutopo mengungkapkan, aktivitas vulkanik terus mengalami penurunan sejak Jumat (28/12/2018) hingga sekarang. Rekaman seismograf tanggal 31 Desember 2018 (pukul 00.00 – 06.00 WIB) tercatat 4 kali gempa dengan amplitudo 10-14 mm dan durasi 36-105 detik,” tambahnya.

“Sejak 28 Desember 2018 hingga sekarang aktifitas erupsi berkurang. Hal ini ditandai dengan jumlah letusan Gunung Anak Krakatau. Pantauan satelit Himawari menunjukkan sebaran abu vulkanik makin berkurang,” bebernya.

Untuk diketahui, upaya BNPB dalam penanganan daruat bencana itu diantaranya memberikan DSR sebesar RP 750 juta (Rp 250 juta rupiah ke Provinsi Lampung dan Rp 500 juta ke Provinsi banten). Bantuan lain yang telah diberikan adalah 40 unit tenda pengungsi, 1200 lembar selimut, 1200 lembar matras, 2000 lembar masker, 500 paket family kit, 27 paket makanan siap saji, 732 paket lauk pauk, 348 paket makanan tambah gizi, 80 lembar kantong mayat, 10 tandaon air, 20 kursi roda, 3 unit mobil dapur umum, perlengkapan balita dan keluarga.

“Meningkatkan pemberian bantuan kepada pengungsi, stok logistik mencukupi hingga 7 hari kedepan. Kendalanya adalah transportasi kelokasi pengungsian dan pengungsi tidak terkonsentrasi pada beberapa titik,” ujar Sutopo.

“Terdapat 41 sekolah di Pandeglang yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Jadwal Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) semester 2 tahun ajaran 2018/2019 akan dimulai pada 7 Januari 2019 (pekan depan), sehingga pengungsi membutuhkan hunian sementara/lokasi lain sebagai tempat mengungsi. Beberapa lokasi pembangunan hunian sementara saat ini sudah mulai disurvei,” ucapnya lagi.

Lebih jauh diterangkan Sutopo, dari 20.726 pengungsi, sekitar kurang dari 10 ribu orang adalah pengungsi yang disebabkan rumah rusak. Ada 1.012 rumah rusak yaitu 70 unit rusak ringan, 671 unit rusak berat, 25 rusak total. Sedangkan lebih dari 10 ribu pengungsi adalah pengungsi yang mengungsi karena trauma. 

“Oleh karena itu, bagi pengungsi yang rumahnya tidak rusak akan dikembalikan ke rumah masing-masing. Kapolda Banten telah meminta kepada Kepala BMKG untuk mengevaluasi warning masyarakat menjauh dari 1 kilo meter.

 Apalagi kondisi Gunung Anak Krakatau menurun aktivitas dan volumenya pun berkurang, sehingga sebagian pengungsi dapat dikembalikan ke rumah masing-masing,” ungkapnya.

“Gedung-gedung sekolah akan digunakan 7 Januari 2019, sehingga perlu ada hunian sementara (Huntara). Ada 11.375 jiwa pengungsi di 41 sekolah di 11 kecamatan di Pandeglang,” pungkas Sutopo. red

Komentar

News Feed