Kamis, Juni 17, 2021
BerandaPakar Gempa ITB: Tsunami di Selat Sunda Termasuk Langka
Array

Pakar Gempa ITB: Tsunami di Selat Sunda Termasuk Langka

Bandung, faktapers.id – Sri Widiantoro Pakar Gempa dari ITB menyebut, fenomena tsunami di Selat Sunda pada Sabtu 22 Desember 2018 malam termasuk baru dan langka. Sebab, peristiwa tsunami terjadi tanpa dipicu gempa bumi atau aktivitas tektonik.

Pernyataan itu dia sampaikan dalam wawancara yang disiarkan Radio PRFM, Minggu 23 Desember 2018. “Kalau dari penjelasan BMKG, tsunami ini fenomena baru dan langka. Di Jepang mungkin sudah pernah terjadi,” ujarnya.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Rahmat Triyono mengatakan, tsunami dan gelombang pasang yang menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda mengagetkan banyak pihak. Sebab, peristiwa tersebut tidak dipicu gempa bumi.

“Saat kejadian, saya mendapat laporan di beberapa tempat ada gelobang pasang yang tinggi. Dua laporan di pantai Banten, dua lainnya dari Lampung. Berdasarkan catatan, dipastikan bahwa gelombang pasang tersebut adalah tsunami,” ujarnya kepara Radio PRFM.

Rahmat Triyono menegaskan, penyebab tsunami di Banten dan Lampung adalah erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan longsor di bawah laut.

“Tsunami tidak dipicu gempa bumi tapi akibat longsor di bawah laut, pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau,” katanya.

Rahmat Triyono menjelaskan, BMKG tidak mencatat adanya aktivitas tektonik dan hanya mendeteksi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu 22 Desember 2018 pukul 21.03 WIB.

“Sebelumnya juga kami sudah mengeluarkan peringatan dini terkait gelombang tinggi yang berkisar antara 1,5 hingga 2 meter,” tuturnya.

Tsunami susulan

Rahmat Triyono menegaskan bahwa tidak ada istilah susulan dalam tsunami. Istilah susulan hanya digunakan untuk gempa bumi.

Dalam keterangan tertulisnya, Rahmat Triyono menjelaskan bahwa tsunami hanya terjadi jika ada gempa besar, longsor, atau kejadian lain seperti letusan gunung api di bawah laut yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air laut. Kalau terjadi tsunami lagi, artinya ada kejadian lain yang memicunya.

Mengenai tsunami yang menerjang Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan, ia mengatakan bahwa penyebabnya masih diteliti.

Siaran Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di situs resminya menyebutkan bahwa pusat vulkanologi merekam adanya gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale 58 milimeter dan letusan Gunung Anak Krakatau pada Sabtu 22 Desember 2018 pukul 21.03 WIB, tetapi masih mendalami kaitannya dengan tsunami yang terjadi di Selat Sunda.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau, pada Sabtu 22 Desember 2018 teramati mengalami letusan dengan tinggi asap berkisar antara 300 sampai dengan 1.500 meter di atas puncak kawah.

Menurut PVMBG, getaran tremor tertinggi yang terekam terjadi sejak bulan Juni 2018 tidak menimbulkan gelombang air laut bahkan hingga tsunami.

Material lontaran saat letusan yang jatuh di sekitar tubuh gunung api masih bersifat lepas dan sudah turun saat letusan ketika itu.

Untuk menimbulkan tsunami sebesar yang terjadi di sekitar Selat Sunda pada Sabtu, menurut pusat vulknaologi, perlu ada runtuhan yang cukup besar yang masuk ke dalam kolom air laut.

Untuk merontokan bagian yang longsor ke bagian laut, diperlukan energi yang cukup besar dan hal itu tidak terdeteksi oleh seismograf di pos pengamatan gunung api.

Peta Kawasan Rawan Bencana menunjukkan hampir seluruh tubuh Gunung Anak Krakatau yang berdiameter sekira dua kilometer merupakan kawasan rawan bencana.

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga 23 Desember 2018, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tetap Level II (waspada). Pada level itu, warga tidak diperbolehkan mendekati radius dua kilometer dari kawah gunung. rwd

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments