Kamis, April 15, 2021
BerandaPolisi Masih Pelajari Kasus Pengeroyokan Mahasiswa di Goa
Array

Polisi Masih Pelajari Kasus Pengeroyokan Mahasiswa di Goa

Jakarta, faktapers.id – Penyidik Polres Gowa, Sulsel saat ini mendalam motivasi tersangka RDN, (47) yang mengumumkan adanya tindakan pencurian di masjid, di Kelurahan Mata Allo, Kecamatan Bajeng, Gowa, melalui alat pengeras suara, Senin dini hari, (10/12).

Yang membuat warga terbangun dan main hakim sendiri terhadap Muhammad Khaidir, (23), seorang mahasiswa Makassar asal Kabupaten Selayar yang dikiranya pencuri.

Padahal faktanya, tidak ada yang menunjukkan telah terjadi tindak pencurian di masjid itu, tempat Muhammad Khaidir singgah sebelum melanjutkan perjalanannya ke Kabupaten Jeneponto.

“Kita tidak menemukan fakta lain tentang adanya tindakan pencurian seperti yang disampaikan provokator awal yakni dari petugas di rumah ibadah itu, lelaki RDN.Jadi kita tengah dalami motivasinya apa meski saat diinterogasi, yang bersangkutan mengaku khilaf,” kata Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga.

Ia mengatakan 10 pelaku pengeroyokan yang diamankan yakni RDN (47), ASW (26), HST (18), IDK (52), SDS (53), INA (24), YDS (49), HDL (54) serta dua anak yang masih di bawah umur.

Shinto menyatakan jika anggotanya masih mempelajari video pengeroyokan yang banyak beredar di media sosial dan melihat keterlibatan warga dalam kasus pengeroyokan tersebut.

“Kemungkinan tersangkanya bertambah itu bisa saja kalau ada petunjuk dalam perkembangannya. Anggota masih mempelajari rekaman videonya,” katanya.

Shinto mengatakan pengeroyokan itu berawal saat korban singgah di salah satu masjid di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa untuk salat. Karena pintu masjid terkunci, korban kemudian mengetuk rumah salah seorang penduduk berinisial YDS dengan cukup keras. YDS mengira korban hendak mengancam kemudian melaporkan korban ke RDN yang merupakan marbot masjid.

RDN yang mendapat informasi tersebut langsung mengumumkan menggunakan pengeras suara masjid bahwa si mahasiswa hendak mencuri di dalam masjid.

Hal itu memicu masyarakat untuk berdatangan menuju ke masjid dan mendapati korban sedang kesal yang kemudian langsung melakukan kekerasan dengan menggunakan tangan kosong serta benda tumpul lainnya.

“RDN yang memancing massa karena memberikan informasi salah. Tidak ada benda yang dicuri dalam masjid. Korban dikeroyok mulai dari dalam masjid sampai di pekarangan,” terangnya.

Atas perbuatan tersangka, polisi menjerat mereka dengan Pasal 170 KUHP tentang kekerasan yang di lakukan secara bersama-sama terhadap orang yang mengakibatkan meninggal dunia.

Para tersangka diancam hukuman minimal 12 tahun penjara. Sedangkan dua orang tersangka lainnya yang masih di bawah umur diserahkan ke orang tuanya untuk dilakukan pembinaan. rwd

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments