Kamis, Juli 29, 2021
BerandaPaska Bencana di Sulsel, Ribuan Warga Masih Mengungsi, 68 Meninggal dan 7...
Array

Paska Bencana di Sulsel, Ribuan Warga Masih Mengungsi, 68 Meninggal dan 7 Hilang

Sulsel, faktapers.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, hingga Minggu (27/1/2019) masih terus melakukan penanganan darurat bencana banjir, longsor dan angin puting beliung yang melanda wilayah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) i pada 22 Januari lalu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, meski banjir sudah surut, namun ribuan warga masih berada di pengungsian karena kondisi rumah rusak dan lingkungan penuh lumpur.

Beberapa warga merasa lebih aman di pengungsian karena trauma dengan banjir dan longsor.

“Hingga Minggu (27/1/2019), tercatat 188 desa terdampak bencana di 71 kecamatan yang tersebar di 13 kabupaten/kota. Yaitu Jeneponto, Maros, Gowa, Kota Makassar, Soppeng, Wajo, Barru, Pangkep, Sidrap , Bantaeng, Takalar, Selayar, dan Sinjai. Dampak bencana tercatat 68 orang meninggal, 7 orang hilang, 47 orang luka-luka, dan 6.757 orang mengungsi,” terangnya dalam siaran pers yang di terima wartawan, Minggu (27/1) siang.

Menurut Sutopo kerusakan fisik meliputi 550 unit rumah rusak ( 33 unit hanyut, 459 rusak berat, 30 rusak sedang, 23 rusak ringan, 5 tertimbun), 5.198 unit rumah terendam, 16,2 km jalan terdampak, 13.326 hektar sawah terdampak dan 34 jembatan, 2 pasar, 12, juga unit fasilitas peribadatan, 8 fasilitas pemerintah, dan 65 unit sekolah.

“Daerah yang paling parah mengalami dampak banjir dan longsor adalah Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Jeneponto, Marros dan Wajo,” ujarnya.

Rincian dari dampak bencana di 13 kabupaten/kota sebagai berikut:
1. Di wilayah Gowa tercatat 45 orang meninggal dunia, 3 orang hilang, 46 orang luka-luka, 2.121 orang mengungsi, 10 rumah rusak dimana 5 rusak berat dan 5 tertimbun, 604 rumah terendam, dan 1 jembatan rusak.
2.Kota Makassar tercatat 1 orang meninggal, 2.942 orang terdampak, 1.000 orang mengungsi, 477 rumah terendam.
3. Soppeng tercatat 1.672 ha sawah terendam.
4. Janeponto tercatat 14 orang meninggal, 3 orang hilang, 3.276 orang mengungsi, 470 rumah rusak (438 unit rumah rusak berat, 32 hanyut), 15 jembatan, 1.304 ha sawah terendam, dan 41 sekolah rusak.
5. Barru meliputi 2 unit pasar, 1 fasilitas pendidikan, 1 fasilitas pemerintahan.
6. Wajo tercatat 2.705 orang terdampak, 2.421 rumah terendam, 16,2 km jalan, 2.025 Ha sawah terendam, 9 jembatan rusak, 10 fasilitas peribadatan, 21 fasilitas pendidikan, 5 fasilitas pemerintah mengalami kerusakan.

7. Maros tercatat 4 orang meninggal, 1200 orang terdampak, 251 orang mengungsi, 552 unit rumah terendam, 8.295 ha sawah, 1 fasilitas peribadatan rusak.
8. Bantaeng tercatat 1 unit rumah rusak sedang.
9. Sindrap : 1 unit rumah rusak sedang
10. Pangkep tercatat 1 orang hilan, 28 rumah rusak, 1 fasilitas peribadatan, 1 fasilitas pendidikan rusak.
11. Takalar tercatat 2 orang meninggal, 1129 rumah terendam
12. Selayar tercatat: 2 orang meninggal, 109 mengungsi, 53 rumah rusak yairu 15 rusak berat, 28 rusak sedang, 9 rusak ringan dan 1 rumah hanyut, 2 fasilitas pemerintahan, 1 jembatan, 1 fasilitas pendidikan.
13. Sinjai tercatat 2 rumah rusak akibat puting beliung.

Lebih jauh di paparkan Sutopo, penanganan darurat masih dilakukan. Untuk itu Wakil Presiden HM Jusuf Kalla dan Kepala BNPB Doni Monardo datang langsung ke Kantor Gubernur Sulsel di Kota Makassar, untuk mendapatkan penjelasan penanganan bencana di Sulsel tersebut.

Disampaikannya bahwa Wakil Presiden bersama Kepala BNPB meninjau ke beberapa lokasi bencana dan Bendungan Bili-Bili untuk mendapatkan penjelasan kondisi bendungan.

“Beberapa arahan Wakil Presiden dan Kepala BNPB di berikan kepada Pemda untuk percepatan penanganan darurat dan pasca bencana,” ucap Sutopo.

Terkait pencarian terhadap 7 orang hilang, menurutnya masih dilakukan tim SAR gabungan. BNPB terus mendampingi BPBD dalam penanganan darurat, yang masih dilakukan di Desa Sapaya, Desa Bontomanai, Desa Mangempang, dan Desa Buakang di Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa yang mengalami banjir dan longsor dengan jumlah korban 29 orang meninggal.

“Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan pencarian korban hilang. Pembangunan jembatan darurat balley di lakukan oleh TNI dibantu instansi terkait dan warga. Dan pelayanan kesehatan oleh Dinas Kesehatan, PMI dan NGO. .Dapur umum telah didirikan Brimob Polda Sulses dan Dinas Sosial,” tandasnya.

Sutopo Pruwo Nugroho membeberkan, prioritas penanganan saat ini adalah membersihkan lumpur dan material yang menutup jalan, lingkungan dan rumah. Material lumpur yang ada di dalam rumah tebalnya ada yang 50 centimeter dan kondisinya mulai mengeras, sehingga sulit dibersihkan, alat berat dikerahkan membersihkan material lumpur.

Sedangkan sebagian pengungsi sudah pulang ke rumah dan membersihkan lumpur di rumahnya. Surat-surat berharga banyak yang rusak, karena tidak sempat di bawa waktu mengungsi,” ucapnya.

Sutopo menyebutkan kebutuhan mendesak yang di perlukan adalah permakanan, selimut, matras, pelayanan medis, MCK dan sanitasi, relawan untuk membersihkan lumpur, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur, trauma healing, dan lainnya,” pungkas Sutopo  red

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments