Selasa, Juni 15, 2021
BerandaDi Klaten, Penjualan Buku Masih Marak Terjadi di Sekolah
Array

Di Klaten, Penjualan Buku Masih Marak Terjadi di Sekolah

Klaten, faktapers.id – Meski telah digalakkan dan terpasang tulisan anti korupsi/pungli dalam setiap instansi di lingkungan pemerintah kabupaten Klaten, namun praktik tersebut masih terjadi terutama dilingkungan Dinas Pendidikan, bahkan semakin terstruktur dan masiv.

Bukan dalam bentukan langsung melainkan menggunakan modus tertentu yang sudah diatur cara kerjanya.

Seperti yang terjadi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pedan kabupaten Klaten Jawa Tengah, sekolah yang dikelola oleh pemerintah (Sekolah Negeri) ini dipaksa menjadi perantara penjualan buku modul pendamping siswa yang diduga di kondisikan oleh Kepala Sekolah dan Guru Wali Kelas.

Buku modul tersebut dipasarkan dalam bentuk kerjasama, dijual kepada siswa oleh Wali kelas masing-masing dan hasilnya disetorkan kepada pengirim buku.

Namun demikian, Kepala Sekolah SMP N 1 Pedan, Sriyanto saat dikonfirmasi mengatakan, “Saya ikut aja apa yang menjadi kebijakan dari Ketua MKKS, hampir semua sekolah menjual buku modul, kalo ada anak yang tidak membeli juga tidak ada paksaan,” katanya kepada wartawan di ruang kerjanya, Sabtu (09/02/19).

Hal serupa juga terjadi di SMPN 2 Ceper, salah satu guru di sekolah tersebut saat ditemui membenarkan ada penjualan buku modul.

Menurutnya, harga sepuluh buku modul dijual seharga Rp 163 ribu pembayaran lewat koperasi dengan ibu Sri Wiyanti guru IPA.

Menanggapi hal itu,Ketua Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI) Joko Mursito, akan melaporkan kasus pungli tersebut ke Kejaksaan Negeri Klaten.

Pihaknya akan mengawal hingga tuntas kasus ini yang diduga ada permainan Kongkalikong antara Dinas Pendidikan, MKKS dan Kepala Sekolah, penjualan buku modul ini seolah jadi ladang bisnis empuk yang tinggal menghitung keuntungan.

“Bila proses pengadaan buku modul yang bersangkutan murni tanpa embel-embel kongkalikong yang berbau gratifikasi mungkin masih dimaafkan, namun yang terjadi justru sebaliknya, mahalnya harga buku dengan selisih separoh lebih dari harga pokok akan saya pertanyakan larinya kemana dan kesiapa nanti akan ketemu oknum yang bermain, mosok harga Rp 4 rb/buku dijual Rp 12 ribu-Rp 16 ribu,” tegasnya.

Joko juga menyayangkan, Dinas Pendidikan Klaten tutup mata dan tidak punya nyali untuk menegur bawahannya yang melakukan pelanggaran.

Hal itu terlihat, lanjut dia, saat seringnya dikonfirmasi adanya pelanggaran Kepala Dinas seolah melakukan pembiaran terhadap sekolah yang melakukan pungutan dengan tidak melakukan tindakan apapun.

Ia menilai Dinas Pendidikan telah gagal menerjemahkan program pendidikan gratis untuk masyarakat. madi

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments