Kamis, Juni 17, 2021
BerandaPenanganan Bencana Minus, Kinerja Kementrian ESDM Dikritisi DPR
Array

Penanganan Bencana Minus, Kinerja Kementrian ESDM Dikritisi DPR

Jakarta, faktapers.id – Menyoal banyak minusnya penanganan kebencanaan, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Ridwan Hisjam mengkritisi kinerja Kementrian Energy Sumbet Daya Alam dan Mineral (ESDM).

Diketahui, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rawan terjadi bencana. Wilayah Nusantara ini terus-menerus menghadapi risiko gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, dan tsunami. Terletak di Cincin Api Pasifik, sedikitnya terjadi satu letusan gunung berapi dan satu gempa besar di negara ini setiap tahunnya. Tsunami besar bisa terjadi setiap lima tahun.

Berkenaan dengan hal tersebut, Ridwan pun memaparkan 4,5 juta orang Indonesia hidup di wilayah yang paling rawan terkena bencana. Artinya sewaktu-waktu bencana alam bisa mengancam kehidupan mereka. Seperti halnya di Yogyakarta ada 5000 orang yang berada di kawasan zona berbahaya Gunung Merapi. Belum lagi ditempat-tempat lain yang memiliki zona berbahaya.

Hal ini ia kemukakan kepada wartawan di Jakarta, Senin (11/2). Menurut Ridwan, berdasarkan hasil temuan Komisi VII di sejumlah wilayah ditemukan banyak sekali laporan tentang kurangnya manajemen kebencanaan di Indonesia khususnya terkait geologi. Karena itu, pihaknya mendesak pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM untuk serius memperhatikan persoalan geologi untuk mencegah lebih banyak terjadinya korban bencana.

“Komisi VII meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan persoalan kebencanaan yang diakibatkan oleh geologi. Tentu kami Komisi VII menyesalkna pemerintah menganggap enteng dalam menangani persoalan kebencanaan padahal wilayah kita sangat rawan. Tapi pemerintah tidak serius,” ujar Ridwan.

Ungkapnya, selama ini pemerintah hanya fokus pada penanganan pasca bencana itupun juga tak begitu maksimal. Menurutnya, persoalan bencana intinya bukan di atas bumi tapi di dalam bumi. Ilmu untuk mengetahui bencana alam di dalan perut bumi ada di geologi. Namun sayang, kata dia, perhatian pemerintah terhadap persoalan geologi masih sangat kurang.

“Pemerintah menganggap enteng persoalan geologi, menganggap biasa. Padahal di Jepang, negara yang sama rawannya dengan Indonesia, sekalipun banyak gempa, korban yang ditimbulkan sedikit karena pemerintah di sana konsen terhadap geologi,” papar Ridwan.

Dengan geologi, menurutnya, pemerintah bisa memetakan wilayah-wilayah mana saja yang rawan terjadinya bencana. Politisi Golkar ini meegaskan, Indonesia hanya memiliki satu Badan Geologi di Bandung yang memonitoring kebencanaan dari Sabang sampai Merauke. Tempat itu adalah peninggalan Belanda yang sudah sangar tua dan butuh peremajaan.

“Di Indonesia itu sibuknya kalau bencana sudah terjadi, bantuan di mana-mana orang pada bersuara habis itu ilang lagi. Tapi berpikir bagaimana antisipasi agar bencana tidak banyak menimbulkan korban ini yang kurang diperhatikan pemerintah selama ini,” ungkapnya menyesalkan.

Lebih lanjut, Ridwan mengungkapkan, Indonesia sebenarnya sudah memiliki peta daerah bencana. Misalnya kejadian gempa di Palu yang sudah diberi peringatan oleh Badan Geologi demikian juga tsunami di Selat Sunda. Namun tetap saja korban bencana di Indonesia cukup besar ribuan orang melayang. Mengapa hal itu terjadi?

Ia menilai, selama ini pemerintah daerah abai terhadap rekomendasi yang disampaikan Badan Geologi. Banyak gedung-gedung dan rumah-rumah warga dibangun di pinggir pantai. Padahal jelas-jelas Badan Geologi sudah memberikan rekomendasi bahwa daerah tersebut masuk dalam wilayah rawan bencana yang harus dikosongkan.

“Banyak gedung-gedung tempat hiburan dibangun di pinggir pantai. Padahal sudah jelas ada catatan dari Badan Geologi bahwa daerah tersebut rawan bencana. Tapi pemda tempat memberikan izin. Sehingga begitu bencana itu terjadi korbannya besar karena pemerintah abai,” beber Ridwan.

Karena itu, Ridwan berujar pemerintah perlu segera membuat UU Geologi yang mengatur secara rinci tentang isi bumi dan dampak bencana yang dihasilkan. “Jangankan ribuan nyawa, satu nyawa rakyat Indonesia sangat berarti, tidak boleh dianggap enteng. Bencana memang tidak bisa dihindari, tapi kita bisa meminimalisir banyaknya korban,” tambahnya.oss

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments