Minggu, Juni 20, 2021
BerandaTampung Aspirasi GKI, Ketua MPR:  Tergantung Putusan Politik
Array

Tampung Aspirasi GKI, Ketua MPR:  Tergantung Putusan Politik

Jakarta, faktapers.id – Sejumlah komponen masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI) menyampaikan aspirasi dengan disertai penyerahan buku “Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945” kepada Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan.

GKI yang terdiri dari unsur masyarakat purnawirawan TNI-Polri, organisasi kejuangan (Pepabri, FKPPI, IARMI), mahasiswa dari enam perguruan tinggi, dan sepuluh organisasi kemasyarakatan.

GKI menyampaikan aspirasi untuk kembali ke UUD 1945 yang asli di Gedung Nusantara IV, Komplek Parlemen, Jakarta, Rabu (6/2) dihadiri Letjen TNI Purn Sayidiman Suryohadiprojo, Irjen Pol Purn Taufiequrachman Ruky, Jenderal TNI Purn Agustadi, dr. Hariman Siregar, Priyanto, Pimpinan Badan Pengkajian MPR, Pimpinan Lembaga Pengkajian MPR, Sesjen MPR Dr. Ma’ruf Cahyono, Sesjen DPD Reydonnizar Moenek.

Penyampaian aspirasi diawali dengan pengantar dari pemrakarsa GKI Taufiequrachman Ruky. Ia mengungkapkan UUD yang dibuat pada tahun 2002 dengan cara melakukan amandemen terhadap UUD 1945 telah menjadikan UUD 1945 kehilangan jiwa, spirit, dan semangatnya.

“Norma Pancasila ada di dalam Pembukaan UUD, namun nilai-nilai Pancasila tidak pernah dituangkan ke dalam batang tubuh UUD berupa pasal-pasal. Bahkan rumusan kata Pancasila itu sendiri tidak dituangkan dalam UUD 2002,” ujarnya.

“Sementara itu terang-terangan ada sejumlah pasal baru hasil amandemen yang nilai-nilainya bertentangan dengan makna dan nilai dari sila-sila dalam Pancasila yang ada pada Pembukaan UUD 1945,” sambung Ruky.

Ia pun mengungkapkan, dengan kembali ke UUD 1945, tanpa bermaksud mengajak ke suasana politik tahun 1945, apalagi ke situasi Orde Baru yang bernuansa otoritarian dan militeristik.

“Tapi kita kembali kepada prinsip-prinsip dan norma-norma yang disusun oleh para founding fathers dan mothers ketika membentuk NKRI,” urainya.

Setelah Ruky, masing-masing perwakilan dari purnawirawan TNI yang disampaikan Jenderal TNI Purn Agustadi, perwakilan mantan aktivis mahasiswa 80’an dr. Hariman Siregar, perwakilan akademisi Dr. Sutanto, perwakilan organisasi kemasyarakatan, perwakilan mahasiswa. Penyampaian aspirasi ditutup oleh Prijanto, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Prijanto mengemukakan sejumlah alasan untuk kembali ke UUD 1945 yang asli. Pertama, agar persatuan bangsa Indonesia tidak terkoyak-koyak. Kedua, dengan persatuan yang terkoyak dan kedaulatan yang nyaris hilang, sumber kekayaan yang dikuasai asing, maka suka tidak suka bangsa Indonesia ini akan punah. “Jadi untuk mencegah kepunahan itu kita harus kembali ke UUD 1945,” tegasnya.

Ketiga, agar bisa menyempurnakan UUD 1945 untuk menghadapi masa kini dan menyongsong masa depan. Keempat, agar bisa mencapai cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, aman tentram, dan adil makmur.

Menanggapi hal ini, Ketua MPR RI, Zulkifli berjanji akan menampung aspirasi GKI dan akan disampaikan pada rapat gabungan pimpinan MPR dengan fraksi-fraksi. “Ini menjadi bahan kajian di Badan Pengkajian MPR dan Lembaga Pengkajian MPR,” katanya.

Papar Zulkifli, sebelumnya MPR juga menerima delegasi dari elemen masyarakat baik yang menyuarakan ingin kembali ke UUD 1945 maupun kelompok yang menganggap UUD ini sudah baik. Dari dua kelompok itu, MPR baru bisa menyepakati perlunya haluan negara untuk masuk dalam perubahan kelima UUD. “Pada prosesnya akhirnya bergantung pada keputusan politik,” cetusnya.

Zulkifli menjelaskan dalam sidang tahunan 2018, MPR sudah membentuka Panitia Ad Hoc (PAH). Salah satu PAH adalah merumuskan haluan negara. “Kalau MPR periode lalu hanya dalam bentuk rekomendasi, maka kita ingin MPR periode ini sudah dalam bentuk buku (haluan negara),” jelasnya.

Zulkifli pun mengakui UUD memang perlu penyempurnaan. Dia memberi contoh hubungan antar lembaga negara. Ketika ingin menyelenggarakan Sidang Tahunan MPR, MPR mengalami kesulitan karena lembaga-lembaga negara lain menganggap kedudukannya sejajar. Akhirnya, Sidang Tahunan menjadi konvensi ketatanegaraan.

“Saya setuju perlu penyempurnaan sistem ketatanegaraan,” tutupnya. oss

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments