Rabu, Juni 23, 2021
BerandaPolisi Siap Usut Kasus Asusila, Disdikbud Janji Beri Sanksi Jika Terbukti
Array

Polisi Siap Usut Kasus Asusila, Disdikbud Janji Beri Sanksi Jika Terbukti

Kutai Barat, faktapers.id – Seperti yang diberitakan oleh faktapers.id dan Harian Fakta Pers sebelumnya, yakni terkait kasus pencabulan oleh dua oknum guru sekolah dasar (SD) di Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Provinsi Kaltim, ditanggapi serius oleh Polsek Barong Tongkok.

“Kami akan proses hukum kasus itu. Diharapkan orang tua korban segera melaporkan secara resmi ke Polsek Barong Tongkok,” jelas Kepala Polres Kubar AKP I Putu Yuni Setiawan SIK MH, melalui Kapolsek Barong Tongkok Iptu Irianto, Jumat (8/3/19) kepada wartawan.

Irianto berharap agar orang tua korban membawa bukti-bukti yang kuat untuk mengungkap kasus asusila yang terjadi pada 2013 itu.

“Tapi tidak apa, asalkan bukti itu masih ada dan kuat,” bebernya.

Dikonfirmasi terpisah terkait kasus itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubar, Silvanus Ngampun menegaskan, jika terbukti bersalah tentu ada sanksi sesuai aturan yang berlaku terhadap kedua oknum guru SD tersebut.

“Disdikbud Kubar belum dapat laporan. Mestinya ada juga laporan ke Disdikbud. Sudah cukup lama kejadiannya,” urainya.

Sehari sebelumnya, Eman Ulipi orang tua korban asusila anak dibawah umur itu mengaku sudah siap membeberkan sejumlah bukti atas perlakuan kedua oknum guru tersebut terhadap putrinya kepada pihak kepolisian.

“Saya berharap kasus ini segera diungkap dan pelakunya diproses hukum,” terangnya kepada wartawan.

Untuk diketahui, kasus dugaan pencabulan oleh kedua oknum guru terhadap Bunga (12) bukan nama sebenarnya terjadi sekitar akhir 2012 silam, saat itu korban Bunga masih duduk di bangku kelas 6 SD. Menurut Eman Ulipi, pengakuan putrinya, tiga kali disetubuhi oknum gurunya berinisial Ak. Pertama di kebun karet dekat sekolahnya. Kedua di dalam ruang kelas saat kosong aktivitas pelajaran. Terakhir dikediaman korban. Kala itu orang tua korban pulang kampung ke Manado. Pelaku kedua adalah wali kelas korban berinisial En.

Bahkan menurut Eman Ulipi, diketahuinya kasus ini setelah putrinya mengalami kasus serupa di Desa Bowombaru, Kecamatan Melonguane Timur, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

“Diungkapkan putri saya saat pemeriksaan di Polres Kabupaten Talaud pada 5 September 2013, bahwa dia juga mengalami kasus pemerkosaan saat sekolah di Kubar. Pelakunya dua orang gurunya,” ucapnya.

Pelaku di Kabupaten Talaud telah divonis penjara 9 tahun memerkosa putrinya. Sementara pelaku di Kubar justru bebas berkeliaran.

“Saya awalnya merasa aneh kok putri saya minta pindah sekolah ke Manado pada akhir 2013 itu. Ternyata baru terungkap masalahnya putri saya berkali-kali menjadi korban pemerkosaan oleh kedua gurunya di Kubar,” pungkasnya. iyd

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments