Senin, Juni 14, 2021
BerandaProf Hj Anna Mariana: Budaya Lokal Bangsa Indonesia Memprihatinkan
Array

Prof Hj Anna Mariana: Budaya Lokal Bangsa Indonesia Memprihatinkan

Jakarta, faktapers.id – Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya era teknologi berdampak terhadap kemampuan dan keinginan generasi muda untuk mengenal dan memahami sejarah dan budaya, sehingga dikhawatirkan dapat menggerus nilai-nilai sejarah dan budaya Indonesia yang sudah ada sejak dahulu kala.

Kondisi ini pun mendapat perhatian dari seorang tokoh masyarakat yang juga budayawati, Prof. Dr. Hj. Anna Mariana, SH, MH, MBA. Menurutnya, kondisi generasi muda saat ini sudah sangat memprihatinkan dan diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk menyikapinya.

“Budaya negara kita Indonesia sangat banyak, ada 34 provinsi di Indonesia dan memiliki masing-masing budaya yang perlu dikembangkan. Budaya sangat penting dan harus ditekankan serta diajarkan kepada anak didik sejak dini.

Dulu budaya itu sangat ditekankan dan menjadi suatu kewajiban dari kurikulum pendidikan,” ungkap Anna saat menjadi salah satu narasumber di kegiatan ‘Sosialisasi Hukum di Lingkungan Pendidikan’ yang dihadiri oleh para Guru dan Kepala Sekolah SD, SLTP, SLTA dan SMK se-Wilayah I Jakarta Barat, Kamis (21/03/2019) di Gedung Walikota Jakarta Barat.

Anna melihat, dengan perkembangan era teknologi seperti gadget yang sangat tinggi, ada plus dan minusnya. Hal ini jangan sampai membawa dampak yang negatif untuk para siswa sehingga menjadi persoalan yang besar. Seperti keluhan dari para guru dan kepala sekolah, yaitu bagaimana caranya kita memberikan pemahaman kepada anak murid/siswa agar dapat konsen dan fokus belajar dan mengurangi aktifitas menggunakan gadget.

“Saya kira, persoalan ini bukan hanya persoalan guru dan orang tua di rumah, tapi ini menjadi persoalan bersama. Artinya, guru dan orangtua juga mempunyai problem yang sama, bahkan menjadi problem nasional, sehingga harus kita sikapi bersama, mulai dari hulu ke hilir,” tuturnya.

Anna mengatakan, mungkin perlu membuat regulasi atau aturan yang lebih tegas dan jelas dan juga konsekuensi yang jelas, sehingga bisa saling komitmen antara guru, siswa dan orangtua. Jadi ketika mengeluarkan dan menerapkan aturan kepada siswa, guru juga jangan sampai melanggar aturannya sendiri.

“Jangan sampai guru melanggar aturan yang dibuat. Kalau dilanggar, maka semua akan selesai, murid akan melawan, aturan apapun yang dibuat tidak akan bermanfaat. Murid pasti akan mencontoh apa yang dilakukan oleh guru,” tegas Anna.

Disamping itu, Anna juga berharap pemerintah mau mendengarkan keluhan para siswa, orangtua dan guru, serta memberikan bantuan bagaimana memecahkan solusi yang terbaik agar generasi muda saat ini tidak rusak. Selain itu, masih ada persoalan yang lain juga datang menyusul, yakni bagaimana membentuk para siswa agar memiliki budaya etika, moral yang baik, yang perlu ditanamkan di sekolah sejak dini.

Sebagai budayawati, Anna menginginkan agar kurikulum sejarah dan budaya lokal harus dihidupkan kembali, agar para generasi muda ini dapat memahami budayanya sendiri sehingga tidak hilang seiring perkembangan zaman.

“Upaya yang harus dilakukan adalah sekolah harus menerapkan pendidikan sejarah dan budaya, agar siswa dapat mengenal dan mengetahui sejarah dan budaya daerahnya sendiri. Zaman sekarang ini kan sudah hilang, seperti kurikulum sejarah yang tidak semua sekolah mengangkat nilai-nilai budaya leluhur,” tukas Anna.

Anna mencontohkan para generasi muda yang di DKI Jakarta, yang bila ditanyakan kepada anak-anak sekarang bagaimana sejarah Monumen Nasional (Monas) dan sejarah Kota Jakarta, tidak dapat menjawabnya karena tidak tahu.

“Dampaknya, kita tidak bisa menjawab ketika kita menghadapi pertanyaan orang lain yang berasal dari daerah lain atau bahkan anak cucu kita sendiri. Nah, anak-anak sekarang ini sudah blank (kosong) dan tidak mempunyai knowledge (pengetahuan) sama sekali tentang itu,” pungkasnya.

Adapun kegiatan ‘Sosialisasi Hukum di Lingkungan Pendidikan’ digelar agar para peserta yang terdiri dari guru, kepala sekolah dan para pejabat di lingkungan pendidikan Kota Administrasi Jakbar, dapat paham apa saja yang harus dilakukan dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari untuk masyarakat khususnya bagi para anak didiknya.

Tidak hanya memberikan pemahaman, para peserta juga diberikan kesempatan bertanya kepada para narasumber terkait materi yang disampaikan. Sosialisasi digelar oleh Lembaga Bantuan Hukum Tosa (LBHT) dan bekerjasama dengan Harian Fakta Pers dan faktapers.id serta Kantor Walikota Administrasi Jakbar.

Panitia acara menghadirkan sejumlah narasumber-narasumber yang berkompeten di bidangnya, antara lain Ibu Wali Kota Jakbar, Ny Inad Rustam Effendi, Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), H. Becky Mardani, Tokoh masyarakat, Prof. Hj. Anna Mariana, SH, MH, MBA sekaligus Pembina Harian Fakta Pers & faktapers.id.

Pembina LBHT Jakbar serta Pimpinan Umum Harian Fakta Pers & faktapers.id, Umar Abdul Aziz, Presiden KAI, Adv. Umar Husin, SH, MH, CIL, CLA, CLI, Wakil Ketua PWI Jaya Bidang Pendidikan, Irmanto, dan seluruh Pendidik Sekolah Wilayah I Jakbar. kls

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments