Rabu, April 14, 2021
BerandaBaliHeboh RS Jual SAR Rp 10 Juta, Begini Respons Dinkes

Heboh RS Jual SAR Rp 10 Juta, Begini Respons Dinkes

Bali, faktapers.id – Harga serum anti-rabies (SAR) yang mencapai belasan juta per ampul, dikeluhkan pengusaha eksportir asal Ubud, Ketut Dharma Siadja (50).

Hal itu terungkap setelah dia mendapat suntikan SAR di satu rumah sakit swasta (RS SOS) di seputaran bundaran Dewa Ruci, Senin (24/6/19) malam.

Dharma Siadja mengaku kaget, karena harga per ampul SAR mencapai Rp. 10 juta, dehingga dia harus membayar Rp 50 juta karena menghabiskan lima ampul.

Menurut Dharma Siadja, harga itu tidaklah seberapa jika bicara soal kesehatan. Namun dia menilai harga tersebut terbilang mahal untuk kalangan menengah ke bawah.

Dia mendapat informasi bahwa SAR itu sejatinya bisa didapat secara gratis di rumah sakit (RS) pemerintah atau di Dinas Kesehatan (Diskes).

Sedangkan Dharma Siadja memilih membeli SAR di RS swasta, karena saat itu dia panik dan hanya fokus untuk mendapat SAR. “Setelah digigit anjing, saya sempat disuntik VAR di RS Ari Canti, Ubud.

Tapi beberapa rekan menyarankan agar saya cari SAR, karena anjing yang menggigit saya itu terindikasi positif rabies. Saya dengar anjing itu sudah mati,” tegasnya.

Dharma Saidja menceritakan bahwa kedatangannya ke Pura Batur, Kintamani, untuk sembahyang dan nunas tirta.

Namun begitu keluar dari areal pura, tiba-tiba dia diserang anjing. Akibatnya, Ketua Asosiasi Eksportir Indonesia (Asepi) Bali ini terluka pada kedua betis.

Dimintai konfirmasi Selasa (25/6/19) lalu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Bali dr.Ketut Suarjaya, mengatakan memang benar ada keluhan mengenai mahalnya harga SAR tersebut.

Dia telah mencari informasi di RS tempat korban mendapat SAR. Hasil penelusuran, pihaknya mendapat informasi bahwa memang benar SAR itu dijual seharga Rp 10 juta/ampul. Suarjaya menjelaskan, untuk satu orang memang menghabiskan lebih dari satu ampul SAR.

Jumlahnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Namun Suarjaya mengatakan jika SAR dijual Rp 10 juta/ampul, itu terbilang tinggi.

Sedangkan harga SAR produksi dalam negeri yang dibeli pemerintah rata-rata seharga Rp 2 juta/ ampul hingga Rp 2,5 juta ampul.

SAR itu dibagikam secara gratis untuk korban gigitan anjing. Pemberian SAR pun tidak sembarangan, namun hanya pada korban yang digigit pada bagian rawan seperti kepala dan leher.

“SAR itu kan serum. Itu untuk kasus berat, misalkan gigitan di areal dekat kepala atau leher. Tapi untuk gigitan di bagian lain, cukup dengan vaksin anti-rabies (VAR).

Selama ini stok SAR kami selalu cukup. Kalau saja ke RSt pemerintah, pasti pasien dapat info,” bebernya. Ans

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments