Minggu, Juli 25, 2021
BerandaJawaDampak Kemarau Panjang, 606 Hektare Sawah Gagal Panen

Dampak Kemarau Panjang, 606 Hektare Sawah Gagal Panen

Majalengka, faktapers.id – Ratusan hektare sawah diperkirakan gagal panen akibat kemarau panjang di Kabupaten Majalengka. Menanggapi hal tersebut Bupati Majalengka Dr. H. Karna Sobahi, M.MPd, menyampaikan dampak kekeringan sawah diakibatkan sejumlah bendungan termasuk embung penampung air debit airnya berkurang akibat kemarau panjang.

Karna mengatakan, ke depan harus ada solusi dalam mengurangi gagal panen akibat kemarau panjang melalui sumur pantek dan pompa air dengan mendatangkan ahli untuk mendeteksi sumber air di lahan sawah yang sumber airnya ada.

“Sementara untuk pasokan air bersih masih tetap aman, walaupun di sejumlah tempat debit airnya sudah berkurang akibat kemarau panjang. Namun Pemkab Majalengka menjamin pasokan air bersih untuk Masyarakat tetap tersedia,” kata Bupati.

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, Ir. Iman Firmansyah, M.M, di ruang kerjanya, Selasa (16/7/19) mengatakan, dalam mengatasi kekeringan harus bermuara pada air, bagaimana langkah-langkah ke depan mengatasi gagal panen akibat kemarau panjang adalah permasalahan bersama.

“Budidaya tanaman padi bisa memberikan tanamannya sesuai masa tanam, permasalahan air ke depan kita akan cari solusi melalui sumur pantek dan pompa air dengan mengatur lokasi saluran air dengan efek dan manfaatnya bagi petani, airnya dilihat dulu sumber airnya,” ujar dia.

“Kami berkewajiban membuat sumur pantek, pompa air di lokasi sawah yang ada efek manfaat mengurangi kekeringan,” imbuhnya.

Menurut Iman, ada sawah tanda hujan, ada sawah irigasi, ada sawah setengah irigasi, artinya perlu penyuluhan kepada petani agar tau siklus iklim pada masa tanam.

“Contohnya MT 1 tanam padi karena lahan hujan, di MT 2 jangan segan nanam palawija untuk takut kekawatiran mengantisipasi kurangnya curah hujan dan debit air, sedangkan MT 3 udah jelas harus palawija sebab di MT 3 sumber air dan curah hujan sangat minim dan lahan hujan MT 2 caranya Sungai Cilutung debit airnya bertambah dan harus melalui Bendungan Jati Gede.

“Permasalahan kekeringan solusi bersama dinas dan petani harus duduk bersama jangan segan menanam palawija MT 2, kalau MT 3 udah jelas palawija mencoba beri pemahan kepada petani jangan gengsi tanam palawija takut MT 2 ada siklus kekhawatiran,” ungkapnya.

Sedangkan, kata dia, solusi mengantisipasi gagal panen melalui Asuransi Usaha Tanamam Padi (AUTP) penyuluh mantri mensosialisasikan tanaman pangangan melalui AUTP bila mana gagal panen dapat diganti.

Iman menambahkan, perlu diketahui bahwa ada 3 jenis sawah yaitu sawah tadah hujan, sawah irigasi dan sawah pompa, artinya dalam mengatasi kekeringan sawah melalui sumur pantek dan pompa air dengan menghadirkan  ahli, untuk mendeteksi sumber-sumber air dengan membuat sumur pantek pada musim kemarau dibantu waskab yang kuat, karena satu sumur pantek mampu mengairi lima hektare sawah.

“Berdasarkan laporan petugas di lapangan, dampak kekeringan 3.642 hektare dengan 3 kategori yang kekeringan yaitu kekeringan ringan 1.363 hektare diusahakan diselamatkan, kekeringan sedang 851 hektare, proses berharap dan kekeringan berat 825, dan yang gagal total panen dampak kekeringan 606 hektare.

Kita sudah mengajukan klaim asuransi ke Jasindo seluas 485,65 hektare dengan nilai Rp 2.883.900 dengan rincian 36 ribu/hektare setiap musim tanam,” pungkasnya. Lintong Situmorang

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments