oleh

Fakta Sidang Keterlibatan Menpora Imam Kerap Disebut, KPK Pun Tindaklanjuti

Jakarta, faktapers.id – Fakta baru yang ditelaah KPK, yakni adanya ‘uang ngopi’ untuk dua anak Menpora Imam Nahrawi, penyidik KPK perlu membuktikan kepentingan pemberian uang dengan proses pembahasan dan pencairan dana hibah untuk KONI.

Untuk itu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut kasus dugaan suap dana hibah Kemenpora untuk KONI. Dari semua fakta yang muncul dalam sidang terus dicermati penyidik untuk mengembangkan perkara ke pihak-pihak lain yang terlibat.

“Ada beberapa poin di fakta persidangan baru yang kami cermati lebih lanjut,” ungkap juru bicara KPK Febri Diansyah, di Jakarta, Selasa, 9 Juli 2019.

Nama Menpora Imam Nahrawi dan staf pribadinya Miftahul Ulum kerap disebut terlibat dalam kasus ini. Bahkan, dalam sejumlah persidangan, nama keduanya disebut kecipratan uang haram dari dana hibah untuk KONI tersebut.

Dalam putusan Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy, majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta meyakini uang senilai Rp11,5 miliar mengalir ke Imam Nahrawi. Uang suap dana hibah Kemenpora kepada KONI itu diserahkan Fuad kepada Imam melalui Ulum dan staf protokol Kemenpora, Arief Susanto.

Ulum menerima uang dengan rincian, Rp2 miliar pada Maret 2018, yang diserahkan di kantor KONI. Kemudian, Rp500 juta diserahkan pada Februari 2018 di ruang kerja Sekjen KONI. Selanjutnya, Rp3 miliar melalui Arief Susanto yang menjadi orang suruhan Ulum.

Kemudian, Rp3 miliar kepada Ulum di ruang kerja Sekjen KONI pada Mei 2018. Selanjutnya, penyerahan Rp3 miliar dalam mata uang asing. Uang diserahkan sebelum lebaran di Lapangan Tenis Kemenpora pada 2018.

Terkait fakta-fakta yang muncul dalam sidang untuk memperkuat bukti keterlibatan Imam Nahrawi dalam skandal di Kemenpora tersebut. Dari beberapa fakta sidang, Imam Nahrawi kerap disebut sebagai pihak yang ikut kecipratan uang haram.

Menurut Febri secara spesifik tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa, a adalah pelaku b adalah pelaku selain terdakwa..

Menurut hakim, meski Imam dan stafnya membantah menerima uang, pemberian uang itu diakui oleh para terdakwa dan saksi lainnya. Dalam putusannya, Hamidy divonis 2 tahun 8 bulan penjara dan dihukum membayar denda Rp100 juta subsider 2 bulan kurungan.

Disinggung hal itu, Febri menjawab diplomatis. Dia juga masih belum mau mengungkap detail hasil pengembangan dari pengusutan kasus ini.

“Sekarang belum ada tersangka baru kami masih proses pada proses-proses yang sedang berjalan di persidangan,” ujarnya.

Dia meminta semua pihak memberi waktu kepada penyidik untuk menelaah fakta-fakta yang muncul dalam sidang. Febri yakin masih ada hal baru yang bakal terungkap dalam persidangan.

“Jadi kita simak dulu nanti jaksa akan melakukan analisis kalau semua proses persidangan itu sudah selesai dan rekomendasi rekomendasinya akan disampaikan pada pimpinan,” pungkas dia.uaa

Komentar

News Feed