Minggu, Juli 25, 2021
BerandaFenoma Upwelling, Puluhan Ton Ikan di Wonosobo Mati Mendadak
Array

Fenoma Upwelling, Puluhan Ton Ikan di Wonosobo Mati Mendadak

Jakarta, faktapers.id – Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan atau BKIPM Semarang menyebut fenomena alam berupa pembalikan massa air atau upwelling telah menyebabkan kematian mendadak puluhan ton ikan nila di Waduk Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

“Berdasarkan hasil uji sampel ikan di Waduk Wadaslintang yang diteliti di laboratorium dan data sekunder, diduga kematian ikan di keramba waduk tersebut disebabkan fenomena upwelling yang terjadi setiap sepuluh tahunan,” kata Kepala BKIPM Semarang, Raden Gatot Perdana di Semarang, Jumat (27/7/19).

Ia menjelaskan fenomena upwelling itu terjadi ketika suhu permukaan air rendah sehingga massa air di bagian bawah danau lebih hangat dan menghasilkan massa air, baik padat maupun gas di bawahnya, yang naik membawa senyawa beracun dan menyebabkan ikan sulit bernafas karena konsentrasi oksigen minimal.

Menurut dia, hal serupa pernah terjadi sekitar awal 2009 dengan tanda-tanda musim kemarau panjang, debit air waduk berkurang sampai 50 persen, adanya angin dari arah selatan, serta warna air mulai berubah.

Kematian mendadak puluhan ton ikan di keramba milik petani di Waduk Wadaslintang, tepatnya di wilayah Desa Sumberejo, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, itu terjadi sejak Minggu, 21 Juli 2019 malam.

Menindaklanjuti informasi tersebut, BKIPM Semarang merespons dengan melakukan penanganan dan pengambilan sampel ikan dari dua titik keramba yang berada di tengah Waduk Wadaslintang.

Setelah 3-4 hari sejak awal kejadian, kondisi kematian sudah mulai menurun dengan jenis ikan yang mati yaitu ikan nila dengan ukuran 1-2 ekor per kilogram atau usia panen dengan masa pemeliharaan 3,5 bulan.

Untuk mengantisipasi kematian ikan di berbagai wilayah akibat fenomena upwelling, BKIPM Semarang mengimbau masyarakat pembudi daya keramba jaring apung agar cermat dan rutin menguji kualitas air sebagai prasyarat lingkungan untuk budi daya ikan.

Kemudian, mengatur kepadatan tebar ikan dan segera melakukan pemanenan dan penarikan jaring keramba ke tepi apabila mulai terjadi perubahan cuaca yang ekstrem. Iha (Tempo)

 

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments