Rabu, April 14, 2021
BerandaMistisKisah Perjalanan Siar Islam Sunan Gunung Jati

Kisah Perjalanan Siar Islam Sunan Gunung Jati

faktapers.id – Sunan Gunung Jati adalah seorang ulama yang menjadi salah satu anggota dari dewan da’wah atau dewan mubaligh Walisongo. Beliau berperan sebagai salah satu penyebar agama Islam di Jawa Barat, utamanya di wilayah Cirebon. Banyak pendapat nama asli Sunan Gunung Jati sendiri andalah Syarif Hidayatullah.

Raden Syarif Hidayatullah lahir pada 1448 Masehi dengan ayah bernama Syarif Abdullah Udatuddih bin Ali Nurul Alim (Salah satu penguasa dari Mesir) dengan Nyai Rara Santang, putri dari Kerajaan Padjajaran dengan ayah Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Saat Nyai Rara Santang masuk islam, beliau merubah nama menjadi Syarifah Mudaim.

Raden Syarif Hidayatullah menginjakkan kaki di tanah jawa, tepatnya Cirebon pada tahun 1470 Masehi. Dan karena dukungan dari Kesultanan Demak dan Raden Walangsungsang atau raja Cirebon pertama selaku paman Raden Syaruf Hidayatullah, beliau kemudian diangkat sebagai Raja Cirebon kedua setelah pamannya tersebut pada tahun 1479 Masehi dengan gelar Maulana Jati.

Terdapat beberapa sumber yang menyebutkan bahwa Sunan Gunung Jati adalah Fatahillah atau Falatehan. Namun kenyataannya, Sunan Gunung Jati dan Fatahilla adalah dua orang yang berbeda. Sunan Gunung Jati adalah seseorang yang telah lama bermukim di Cirebon, sedangkan Fatahillah adalah seorang pejuang Demak yang berasal dari Negeri Pasai atau Malaka.

Ketika wilayah Malaka jatuh ke tangan penjajah Portugis. Raden Fatahillah berpindah dari Malaka ke Demak, dan adiknya di nikahkan dengan Raden Trenggono. Sebagai seorang pejuang, selanjutnya Fatahillah di tugaskan ke Jawa Barat. Fatahillah bersama dengan para pengikut Sunan Gunung Jati menyerang Banten dan Sunda Kelapa yang dikuasai oleh Padjajaran.

Kedatangan Sunan Gunung Jati ke Tanah Jawa

Dikutip berdasarkan kitab Purwaka Caruban Nagari yang di tulis dalam huruf jawa dengan bahasa Kawi Cirebon. Pangeran Cakrabuwana dan adiknya, Ratu Mas Rarasantang telah masuk Islam dikarenakan mimpi mereka yang sama, yakni bertemu dengan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam. Singkat cerita akhirnya mereka menunaikkan ibadah haji bersama.

Selain itu, tak hanya menunaikan rukun islam ke lima, putra dan putri Prabu Siliwangi ini juga menuntut ilmu di salah satu syekh di makkah. Suatu hari keduanya di datangi oleh utusan dari Sultan Abdullah dari Mesir. Utusan tersebut mengungkapkan bahwa tujuan kedatangannya adalah sang Sultan ingin melamar Ratu Mas Rarasantang untuk dijadikan istri.

Rarasantang pun menerima lamaran tersebut, dan Pangeran Cakrabuana bertindak sebagai wali dalam pernikahan tersebut. Pernikahan Ratu Mas Rarasantang dan Sultan Abdullah dilangsungkan di Mesir dengan cara Mahdzab Imam Syafi’i. Pangeran Cakrabuwana selanjutnya sempat tinggal di Mesir bersama dengan adiknya selama enam bulan sebelum akhirnya pulang kembali ke tanah Jawa.

Di sana Nyai Rarasantang hidup bahagia bersama suaminya di Negeri Mesir, dan beliau merubah namanya menjadi Syarifah Muda’im. Syarifah Muda’im kemudian mengandung anak pertama mereka dan melahirkan putra pertamanya tersebut di kota Mekkah saat melakukan ziarah. Putra mereka kemudian diberi nama Syarif Hidayatullah.

Beberapa tahun kemudian, di usia Syarif Hidayatullah yang masih muda, ia di tinggal mati oleh ayahnya, dan membuatnya hanya diasuh oleh ibunya sendiri. Beliau memiliki minat tinggi terhadap ilmu agama dalam usia muda. Dia mulai berguru pada beberapa syekh di wilayah Timur Tengah, dan pada tahun 1470 beliau bersama ibunya berangkat menuju pulau Jawa untuk mengamalkan ilmunya.

Sunan Gunung Jati Peristri Putri Ong Tien

Ternyata Sunan Gunung Jati pernah menikah dengan seorang putri cantik dari negeri Cina bernama putri Ong Tien. Pada tahun 1479, Sunan Gunung Jati pergi ke Cina, tepatnya di daerah Nan King, dengan bergelar Maulana Insanul Kamil. Di Cina, beliau membuka pusat pengobatan sambil berdakwah agama Islam.

Setiap orang yang sakit dan berobat pada beliau pasti di suruh melaksanakan shalat, dan setelah shalat mereka sembuh. Beliau pun dianggap sebagai tabib sakti yang berkepandaian tinggi. Karena kemampuannya beliau dipanggil ke istana oleh Kaisar Cina, Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming. Di istana beliau diuji oleh sang kaisar untuk menebak salah satu putri raja yang sedang mengandung.

Sunan Gunung Jati tahu kalau dirinya sedang diuji, maka beliau berdoa agar putri yang masih perawan benar-benar hamil. Dan dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, putri Ong Tien pun hamil dan membuat gempar seluruh istana. Akhirnya sang Kaisar pun murka dan memberikan perintah agar Sunan Gunung Jati diusir dari daratan Cina dan tidak diperbolehkan untuk kembali lagi.

Namun Putri Ong Tien yang terlanjur jatuh cinta kepada Sunan Gunung Jati pun meminta untuk diantar ke pulau jawa menyusul orang yang dicintainya. Putri Ong Tien dibekali oleh sang kaisar dengan berbagai barang berharga dan dikawal oleh tiga pejabat, yakni Pai Li Bang, seorang Menteri Negara yang kemudian menjadi Adipati sriwijaya.

Pai Li Bang merupakan asal usul adanya nama kota Palembang. Pai Li Bang yang menetap di Sriwijaya membuat Putri Ong Tien melanjutkan pelayaran bersama dua pembesar lainnya, yakni Lie Guan Chang dan Lie Guan Hien. Akhirnya putri Ong Tien menikah dengan Sunan Gunung Jati pada tahun 1481. Namun putri tersebut akhirnya meninggal pada tahun 1485.

Ajaran Yang Diajarkan Sunan Gunung Jati

Sebagai seorang sunan yang menyiarkan agama Islam di tanah jawa, Sunan Gunung Jati tentunya memiliki ajaran-ajaran khusus yang biasanya diamalkan kepada para murid-murid yang menimba ilmu agama islam padanya. Ada beberapa ajaran utama yang menjadi dasar ilmu agama dan ilmu kehidupan dari Sunan Gunung Jati yang masih dapat kita amalkan, diantaranya adalah:

  1. Nilai-Nilai Tentang Ketakwaan Dan Keyakinan

Beberapa hal yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati tentang nilai-nilai ketakwaan dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah memelihara fakir miskin, shalat dengan khusu’ dan tawadhu, ibarat anak panah yang menancap kuat pada sasaran, berpuasa dengan kuat layaknya tali gondewa, beribadah secara istiqomah dan terus-menerus.

Selain itu kita juga dihimbau untuk selalu bersyukur kepada Allah atas segala limpahan rahmat dan rezeki dari Nya, dan terakhir adalah memperbanyak taubat atas segala dosa-dosa dan juga segala kekhilafan yang kita perbuat kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala.

  1. Nilai-Nilai Kedisiplinan

Nilai-nilai yang diajarkan selanjutnya adalah tentang kedisiplinan, dimana kita tidak boleh mengingkari janji yang telah kita buat, tidak menolong orang yang salah, dan belajarlah dengan apa yang bermanfaat, jangan menyalahgunakan ilmu, apalagi menggunakannya untuk kepentingan yang tidak di benarkan dalam agama islam.

  1. Nilai-Nilai Kearifan Dan Kebijaksanaan

Sedangkan nilai terkait kebijaksanaan seperti menjauhi sifat buruk dan menumbuhkan sikap yang baik, jangan bersikap serakah dan jangan suka bertengkar, jangan mencela dan berbohong kepada sesama, berusaha mengabulkan keinginan seseorang, menyegerakan makan dan minum sebelum lapar ataupun haus, bersikap dermawan dan sebagainya.

  1. Nilai-Nilai Kesopanan Dan Tatakrama

Seperti halnya nilai-nilai tatakrama secara umum, Sunan Gunung Jati juga menanamkan nilai tersebut seperti hormat dan menyayangi orang tua dan leluhur, menghormati tamu, menghargai dan memuliakan pusaka serta menghormati tamu kita.

  1. Nilai-Nilai Kehidupan Sosial

Nilai kehidupan sosial yang di tanamkan diantaranya adalah tidak memaksakan diri untuk berhaji bila belum mampu secara harta, tidak memaksakan mendaki gunung bila belum siap secara fisik, jangan memaksakan menjadi imam bila belum memiliki ilmu agama yang cukup, dan jangan berdagang bila hanya berkumpul saja dengan orang-orang. Sumber: thegorbalsla.com

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments