oleh

Orang Tua Siswa SMKN 1 Rota Bayat Keluhkan Mahalnya Uang Gedung dan Seragam

Klaten, faktapers.id – Sejumlah orang tua murid yang anaknya bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri SMKN 1 Rota Bayat , kabupaten Klaten mengeluhkan adanya pungutan. Besarnya pungutan bervariasi antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta per anak.

SS (45) warga Bayat, salah satu orang tua murid menuturkan, setidaknya, para orangtua murid dipungut uang sebesar Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta oleh sekolah melalui Komite Sekolah SMKN 1 Rota Bayat . Pungutan tersebut dimulai sejak para murid, khususnya sang anak yang baru duduk di kelas satu memasuki tahun ajaran baru .

” Pungutan tersebut katanya uang gedung untuk membangun sarana ibadah, ruang siswa, perawatan gedung, dan operasional kegiatan belajar,” ujarnya saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (22/7/19).

Pungutan tersebut, kata SS, bervariasi tergantung jurusan yang diambil,menurutnya paling mahal biaya uang gedung jurusan Multimedia sebesar Rp 2,5 juta dan jurusan yang lain dipungut biaya dibawahnya ,minim uang gedung ditentukan sekolah paling rendah Rp 1,5 juta .

Hal senada juga dikatakan orang tua murid berinisial AR. Menurut dia, selain pungutan uang gedung ia mengeluhkan mahalnya buku LKS dan uang seragam sekolah .

Pungutan itu memang telah melalui kesepakatan antara Komite Sekolah SMKN 1 Rota Bayat dengan orangtua murid. Namun, hasil kesepakatan terlalu dipaksakan. Padahal masih banyak orang tua murid yang keberatan mahalnya uang seragam . Ia menilai jenis kain yang dijual disekolah lebih tipis dan harga jauh lebih mahal .

“Sudah kami utarakan keberatan itu. Tapi kepala sekolah seperti tidak peduli, sekolah patok harga seragam Rp 1,150.000 dengan rincian 2 seragam osis, 2 seragam pramuka dan 1 wearpack,” ujarnya.

Para orang tua murid yang keberatan atas pungutan tersebut, kata AR, mengaku tak berani terlalu lantang menyuarakannya pada kepala sekolah. Sebab, mereka takut keberadaan anaknya di sekolah tersebut terancam. Oleh sebab itu para orang tua murid memilih memendam masalah itu.

“Kami terus sampaikan ini sih. Maksud kami mau mengadu kemana gak tahu padahal kami benar-benar tidak mampu dan punya bukti keterangan tidak mampu,” ujarnya. Madi

Komentar

News Feed