Minggu, Juli 25, 2021
BerandaJawaRehab Diduga Tidak Jelas Akibat Kurang Pengawasan, Komite Tidak Diikut Sertakan

Rehab Diduga Tidak Jelas Akibat Kurang Pengawasan, Komite Tidak Diikut Sertakan

Ciamis, faktapers.id –  Belum lama ini Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menerima bantuan dan dana alokasi khusus (DAK) untuk sekolah dasar (SD) senilai Rp 92 milyar lebih.

Bantuan tersebut diperuntukan untuk pembangunan rehab atau RKB paling terbesar di Indonesia di banding dengan kabupaten lainnya.

Dengan adanya pembangunan rehab dan RKB di Kabupaten Ciamis, Kepala Dinas Kabupaten Ciamis, Hj.Wawan S Aripin menghimbau kepada sipenerima bantuan rehab/kepala sekolah bantuan DAK agar bisa melaksanakan amanah dengan baik.

“Walaupun sekolah sibuk dengan pembangunan tetap seorang guru, jangan lupa akan mengajar kewajiban mendidik para siswa siswi di sekolah,” pesannya, Senin (15/7/2019) lalu.

Hj.Wawan Arip menegaskan bahwa DAK itu adalah amanah untuk Pendidikan. Sekecil apapun pengeluaran harus di pertanggung jawabkan. Dan pembangunan rehab/RKB harus di laksanakan sewa kelola untuk memperdayakan masyarakat sekitar. “Pembelanjaan material pun harus PD (perusahaan daerah) untuk peningkatan mutu di wilayah sekitar sekolah,” ujarnya.

Untuk melakukan kroscek, Harian Fakta Pers dan faktapers.id d hari yang sama mendatangi dua sekolah, yaitu SD 1 Cintaratu dan SD 2 Cintajaya Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, yang sama di kepalai oleh Maryono.

Saat berkunjung ke sekolah SD 1 Cintaratu di terima oleh Asep Eka sebagai guru PNS, yang juga mengaku sebagai panitia proyek rehab /P2S.

Kepada Asep, media menanyakan tentang kepala sekolah, Maryono. “Pak kepala tidak ada di sekolah lagi rapat di UPTD,” katanya.

Asep Eka membenarkan bahwa SD 1 Cintaratu di kepalai Maryono sebagai Plt, karena definitifnya di SD 2 Cintajaya.

Dan ketika meminta penjelasan kepada Asep Eka terkait pembangunan rehab, Ia  membenarkan bahwa SD 1 Cintaratu mendapatkan dana rehab sebesar Rp174 juta untuk 3 lokal.

Asep juga menjelaskan terkait pelaksanaan teknisnya. “Walaupun saya sebagai panitia rehab tidak tahu apa-apa. Lebih jelasnya temui saja kepala sekolah,”ujarnya.

Sungguh eronis memang, jika Asep Eka sebagai panitia rehab tidak tahu apa-apa.

Hal lainnya Asep pun membenarkan atap baja ringan di borongkan ke pihak ke 3. “Segala sesuatunya saya tidak tahu,” sebutnya.

Asep Eka kembali menyarankan untuk temui  ketua komita. “Silakan temui saja ketua komite,” pintanya, seraya mengatakan terkait pembelanjaan material dan lainnya, spesifikasi RAB atau tidaknya sebagai panitia rehab, dirinya juga mengaku tidak tahu. “Ya, beginilah kondisinya saya bukan sarjana Teknik,” pungkasnya.

Selanjutnya  tim awak media mendatangi komite SD 1 Cintaratu ynag diketuai oleh Yudi.

Saat meminta penjelasan terkait pembangunan rehab SD 1 Cintaratu, Yudi mengaku tidak diikut sertakan. “Tidak diikut sertakan setelah SD 1 Cintaratu dikepalai oleh Bpk Maryono. Kami sebagai komite tidak dilibatkan di pembangunan rehab. Jadi pembangunan rehab itu dikelola oleh kepsek semua. Kepala sekolah plus jadi ketua panitia rehab. Pembelian material, seperti kusen bajaringan,dll dikerjakan oleh pihak ke 3,” bebernya.

“Jujur saya sampai hari ini belum mengetahuinya tentang harga,” imbuh Yudi.

Sebagai Ketua komite, ia dengan lantang menegaskan dalam pembangunan rehab, dirinya di ajak dalam rapat musyawarah saja.

Diketahui pembangunan rehab  di SD 2 Cintajaya dapat bantuan rehab sebesar Rp 174 juta sama dengan SD 1 Cintaratu.

Lebih  lanjut tim media mendatang SD 1 Cintaratu. Saat disana tidak ada satu pun telihat guru, hanya ada pekerja saja.

Mencoba menanyakan ke komite,Nasirin. Tapi sama, tidak ada di sekolah juga. Berlanjut menemuinya  di rumahnya. Ia  juga mengaku tidak tahu terkait rehab di SD 1. “Kami pun tidak tahu apa-apa terkait pembangunan rehab di SD 1 Cintaratu. Karena memang semua itu di tangani oleh bpk Maryono sebagai kepala sekolah,” ucapnya.

“Saya rasa yang lebih tahu kepala sekolah bendahara dan ketua panitia rehab,” tambahnya.

Sementara itu saat persoalan ini dikonfirmasi ke kepala UPTD Lakbok, Asep Didi angkat menerangkan UPTD hanya sebatas pengawasan. Ia juga menegaskan apa yang di sampaikan komite SD 1 Cintaratu, Yudi dan komite SD 2 Cintajaya Wahyu adalah benar,  bahwa komite tidak di libatkan.

Menyikapi soal rehab sekolah SD 1 dan 2, Masyarakat, LSM dan penggiat anti korupsi menegaskan, harusnya dinas pendidikan Kabupaten Ciamis harus sigap tanggap tegas untuk turun ke sekolah SD 1 Cintaratu dan SD 2 Cintajaya untuk membenahi dan mengawasi pembangunan rehab itu.

Demikian pula inspektorat, pun harus turun untuk mengawasi pembangunan rehab yang ada di SD 1 Cintaratu dan SD 2 Cintajaya. Dedi Irfan

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments